Menu
Stories

Berkenalan dengan Mutiara Anissa, Ilmuwan Muda yang Sedang Gencar Bicara tentang Covid-19

Hari Sabtu lalu aku berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan Mutiara Anissa, seorang biomedical scientist muda yang saat ini terlihat aktif membahas isu-isu tentang Covid-19 di sosial medianya. Perempuan yang biasa dipanggil Muti ini mempunyai latar belakang sebagai dosen di Fakultas Biomedis I3L (Indonesia International Institute for Life Sciences), dan juga memiliki pengalaman bekerja di lab riset untuk meneliti berbagai jenis penyakit, salah satunya kanker.

Sebelumnya, Muti mendapatkan gelar Bachelor of Science, dengan spesialisasi Biomedical Science, dari University of Bradford Inggris. Kemudian Ia mendapatkan gelar Masternya dari University College London, dengan spesialisasi di penelitian tentang kanker.

Aku penasaran sekali sebetulnya apa saja sih yang dikerjakan Muti sebagai biomedical scientist? Sebuah profesi yang mungkin tidak terdengar umum di telinga kita. Apalagi saat melihat konten-konten edukatif mengenai Covid-19 yang dibuatnya di Instagram pribadinya (@mutiaranissa). Setelah memberanikan diri untuk kontak langsung lewat DM Instagram, aku senang sekali karena Muti merespon ajakan wawancaraku dengan sangat terbuka.

Yuk, kita simak bersama hasil obrolan sore itu dengan Mutiara Anissa!

Boleh diceritakan sedikit tentang profesi kamu sebagai biomedical scientist?

Biomedical scientist sebetulnya adalah ilmuwan biologi yang memperdalam ilmu tentang suatu penyakit. Kalau aku sendiri, saat sekolah S2 aku ambil program studi yang khusus mendalami penyakit kanker. Setelah masuk ke dunia kerja, ternyata dalam praktiknya aku juga banyak meneliti penyakit-penyakit lain, bukan hanya kanker saja. Misalnya saat di lab aku juga meneliti tentang hepatitis B.

Tapi sekarang karena punya baby, jadi aku belum bisa lanjut kerja di lab dulu. Akhirnya sekarang aku mengajar part time di I3L (Indonesia International Institute for Life Sciences). Aku mengajar di Fakultas Biomedis, spesifiknya pada mata kuliah Mikrobiologi, atau studi tentang makhluk hidup yang tidak terlihat kasat mata, seperti bakteri dan virus. Selain itu aku juga mengajar mata kuliah Genetik, ilmu tentang blueprint kehidupan seperti DNA dan RNA.

Sebelum munculnya virus Covid-19 ini, kamu sebagai biomedical scientist sudah punya bayangan belum sih kalau situasinya akan seperti ini?

Sebetulnya aku juga cukup surprise ya. Mana ada sih orang yang mengharapkan hal buruk terjadi? Tetapi memang pandemi itu sendiri kan sudah beberapa kali terjadi. Mungkin untuk generasi kita ini adalah yang pertama dan paling parah so far, ya. Tapi kalau kita lihat dari sejarahnya, dalam 100 tahun ini aja kurang lebih sudah 6 kali terjadi pandemi. 

Saat kuliah aku juga sempat belajar epidemiologi, bidang ilmu yang khusus membahas tentang sejarah pandemi. Misalnya, aku belajar tentang salah satu pandemi yang paling parah yaitu Spanish Flu. Aku belajar pandeminya seperti apa, berakhirnya bagaimana, vaksinnya berhasil ditemukan atau tidak, dan seterusnya. Dari situ aku bisa membayangkan kira-kira apa yang akan terjadi di pandemi saat ini.

Kalau kamu dan teman-teman satu profesi sebagai biomedical scientist, saat ini apa sih yang sedang fokus dikerjakan terkait virus Covid-19?

Tergantung industrinya masing-masing, sih. Karena ilmu biomedis itu ruang lingkupnya cukup luas. Teman-teman seprofesiku yang bekerja di lab riset, saat ini mereka fokus melakukan deteksi virus Covid-19. Ada juga teman-temanku yang kerja di lab obat, mereka fokus menaikkan produksi karena kebutuhan obat yang saat ini semakin tinggi. 

Seringkali biomedical scientist itu nggak kebayang ya kerjanya apa. Gambaran simpelnya seperti ini, kalau dokter itu garda terdepan yang bertemu dengan pasien langsung, sedangkan biomedical scientist adalah orang-orang yang melakukan riset tentang obat, memproduksi obat, memproduksi alat tes, riset tentang vaksin, dan lain-lain. 

Saat ini kita lihat alat rapid test banyak dijual bebas. Apa pendapat kamu tentang ini? Bagaimana cara kita memastikan validitasnya?

Sejujurnya aku sangat tidak mendukung orang untuk rapid test di sini, sih (di Indonesia). Alat rapid test itu kan paling banyak diimpor dari Tiongkok, dan pengimpor rapid test itu belum tentu orang-orang yang paham tentang quality assurance dan quality control produk tes yang Ia beli tersebut. Jadi sebetulnya sulit bagi kita untuk menjamin kualitasnya.

Apalagi di Indonesia penjualan rapid test itu tidak melalui satu pintu, jadi siapapun bisa menjual bebas. Berbeda dengan negara lain yang seluruh penjualan rapid test harus melalui pemerintah. Jadi pemerintahnya beli ke supplier terpercaya, lalu mereka melakukan quality control terhadap produk-produknya, baru kemudian didistribusikan ke seluruh rumah sakit.

Selain itu kita juga bisa lihat rentang harga penjualan rapid test yang cukup aneh di sini. Ada yang dijual dengan harga ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Bisa dibilang pasarnya juga kurang sehat, dan belum lagi tidak ada pihak yang bisa menjamin kualitasnya. 

Kekhawatiran terbesar kamu apa terkait pandemi ini?

Kekhawatiran pertamaku adalah tentang bagaimana pemerintah kita bereaksi terhadap musibah ini. Aku melihatnya kok berbeda ya dengan negara-negara lain. Negara lain banyak yang mengeluarkan kebijakan yang lebih baik, akhirnya masyarakatnya juga lebih disiplin melakukan hal-hal preventif. Misalnya kebijakan lockdown. Sedangkan kalau kita bandingan dengan situasi di sini, Jakarta aja sehari-hari masih tergolong ramai.  

Kemudian yang kedua tentang jalur informasi. Aku melihat dari informasi yang tersebar saat ini, masih sedikit orang-orang yang bisa bantu menerjemahkan bahasa-bahasa medis ke bahasa-basa awam. Inilah alasan kenapa aku mulai aktif membahas Covid-19 di sosial mediaku. 

Aku khawatir orang-orang jadi punya kesimpulan sendiri tentang informasi yang dia baca, atau percaya dengan sumber informasi yang tidak kredibel. Apalagi aku juga sempat lihat kasus ada beberapa selebgram yang menyebarkan informasi yang tidak tepat tentang pencegahan Covid-19.

Banyak dari kita yang merasa bahwa kita berhadapan dengan ketidakpastian, entah sampai kapan. Kalau kamu sendiri, sebagai orang yang lebih paham tentang pandemi ini, merasakan hal yang sama nggak sih?

Aku merasakan hal yang sama, tapi mungkin acceptance-nya lebih cepat kali, ya. Karena aku sudah cukup punya bayangan kedepannya akan seperti apa. Bulan depan masalahnya apa, tahun depan situasinya akan gimana. 

Aku berpikir kalau aku aja nggak bisa berpikir dengan tenang, bagaimana orang lain yang mungkin lebih awam tentang virus ini? Lewat konten-konten yang aku buat di sosial media, aku juga berusaha bikin orang sadar tentang dampak kedepannya seperti apa. Misalnya dampak ekonominya, dampak ke mental health, dan juga dampak kepada kesehatan kita secara umum.

Menurut kamu tiga bulan kedepan situasinya akan seperti apa?

Kita coba ambil contoh di Jakarta, ya. Angka pasien positif saat ini semakin meningkat, namun masih banyak orang-orang yang beraktivitas keluar rumah. Melihat hal tersebut, kemungkinan besar tiga bulan kedepan kita akan mengalami puncaknya.

Selain itu, kita juga bisa melihat data-data dari negara lain. Dari pertama kasusnya mulai naik sampai di angka puncak itu berapa lama, dan berapa banyak persentase populasi yang terjangkit virus. Jika melihat dari data yang ada, tidak menutup kemungkinan angka pasien positif di Jakarta mencapai puluhan ribu.

Tapi kita juga perlu melihat sejarah pandemi-pandemi yang pernah terjadi. Nggak mungkin tiba-tiba suatu virus hilang begitu saja, semua butuh proses. Sebelum akhirnya membaik, situasi akan memburuk dulu. Menurutku yang paling dibutuhkan saat ini adalah kesadaran diri bahwa kita mungkin saja berada di situasi ini cukup lama, supaya kita bisa sama-sama mengatur kembali rencana hidup kita ke depan.

Situasi ini baru bisa dikatakan ‘aman’ saat vaksin sudah selesai dibuat. Sedangkan pembuatan vaksin itu masih membutuhkan waktu 18 bulan dari sekarang, dan ini belum termasuk distribusi ke Indonesia. Saat ini tahap pembuatan vaksin masih dalam clinical trial, proses di mana para tim riset memastikan apakah vaksinnya betul-betul aman untuk digunakan pada manusia. 

Tetapi sangat mungkin juga suatu pandemi berakhir dengan sendirinya, seperti yang terjadi dengan Spanish Flu. Sebelum vaksinnya selesai dibuat, virusnya sudah hilang. Hal ini bisa terjadi saat orang-orang sudah memiliki sistem imunitas pada tubuhnya, jadi sudah imun terhadap virus.

Apa dampak Covid-19 yang paling terasa bagi kamu?

Dampak yang paling terasa bagi aku tentu saja perubahan lifestyle. Sekarang mau nggak mau jadi lebih ekstra jaga kebersihan di rumah. Alokasi budget juga jadi banyak yang digunakan untuk alat-alat kebersihan. Efek ke mental health juga cukup kerasa pastinya. Biasanya kita sering keluar rumah dan ketemu teman-teman, tapi sekarang harus tinggal di rumah. Bagaimanapun caranya aku berusaha untuk berdamai dengan keadaan, harus bisa terima kalau sekarang situasinya seperti ini. 

Dulu saat kuliah dampak yang kayak gini-gininya tuh nggak dijelasin. Kita hanya mempelajari sejarah penyakitnya aja. Tapi bagaimana pandemi ini bisa berpengaruh terhadap keseharian kita, dan dampaknya kepada mental health kan nggak pernah diceritain.

Aku lihat kamu semakin aktif bikin konten edukasi tentang Covid-19 di Instagram pribadi kamu. Tujuan kamu sebetulnya apa sih?

Lama-lama aku semakin sadar bahwa sekarang ini ada information gap, dan aku merasa perlu ada orang-orang yang mengisi celah itu. Tapi tentunya tidak bisa hanya dari aku saja, harus juga dibantu oleh teman-teman lain yang paham ilmunya, jadi kita bisa saling melengkapi informasi.

Aku melihat dokter aja membantu langsung di lapangan, aku berpikir bagaimana caranya aku bisa turut membantu. Jadi akhirnya aku memutuskan untuk kontribusi dari segi informasi. Lagipula dengan menyebarkan informasi yang edukatif aku merasa happy saat tahu orang-orang merasa terbantu.

Saat kamu perlu mengambil keputusan yang sifatnya agak berisiko, tentunya kamu perlu konsultasi kan? Atau bertanya ke pihak yang kredibel. Misalnya kamu mau coba ambil tes deteksi Covid-19, atau saat kamu harus tetap beraktivitas keluar karena pekerjaan, langkah preventif apa saja yang harus kamu lakukan? Atau misalnya kamu sedang hamil saat pandemi, cara menghadapinya gimana sih? Nah, aku berusaha untuk kasih informasi seputar topik-topik tersebut.

Biasanya aku luangkan 2-3 jam waktuku setiap hari untuk cari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang masuk, kemudian aku ringkas dan baru aku sajikan di Instagram pribadiku.

Pesan-pesan terakhir untuk teman-teman semua?

Aku merasa karena pandemi ini, kita jadi menghabiskan banyak sekali waktu online. Mungkin karena memang itu satu-satunya jendela kita untuk keluar rumah, ya? Menurut aku sebisa mungkin kita menyempatkan waktu untuk me time tapi yang tidak berhubungan dengan dunia online. Misalnya olahraga di rumah, atau istirahat.

Selain itu, selalu ingat bahwa yang mengalami ini bukan hanya kita saja, tapi semua orang di seluruh dunia. Seringkali kita merasa kesepian karena harus di rumah terus, tapi sebetulnya kita kesepiannya juga bareng-bareng kan?

No Comments

    Leave a Reply