Menu
Real Stories / Stories

Solo Traveling: The Art of Walking At Your Own Pace

Menyambut masa berakhirnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan memasukki fase new normal, kita tentunya sudah mulai kangen ya mengunjungi tempat-tempat favorit yang sempat tutup selama masa karantina. Mulai dari ngobrol santai di tempat ngopi favorit, hingga berangan-angan mengenai destinasi liburan selanjutnya. If you feel like rewarding yourself for all of your hard work, or challenging yourself to try a different kind of holiday, then solo travel might be an option. Memang, sih, banyak orang yang bilang, perempuan sebaiknya jangan bepergian sendiri, terutama karena alasan keamanan. Well, can’t blame them. Menjaga diri itu wajib hukumnya. Namun hal ini bukan alasan kamu tidak berani mencoba solo traveling, ya! Persiapkan rencanamu dengan matang, dan pastikan kamu selalu waspada di manapun kamu berada.

Sebagai seorang perempuan yang sudah pernah beberapa kali bepergian sendiri, aku bisa bilang solo traveling menghadirkan sudut pandang baru yang tidak aku rasakan ketika berlibur bersama orang lain. Aku menjadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi, juga lebih teliti dan waspada saat melakukan aktivitas apapun. I can only count on myself after all! But here’s what I find really interesting: you can be selfish for once, without it being a bad thing. Hmm.. bagaimana maksudnya, ya?

Solo traveling berarti kamu bepergian sendiri, tidak ada teman maupun anggota keluarga yang ikut dalam perjalanan liburan kamu. Hal ini juga berarti kamu yang bertanggung jawab untuk membuat jadwal perjalananmu sendiri: mau pergi ke mana, jam berapa, hingga aktivitas apa yang hendak kamu lakukan. Bayangkan, sebuah liburan tanpa perlu ada conflict of interest antara satu dengan yang lain. Here’s to letting yourself win! So solo traveling… here’s how it feels like.

Steady and in no rush

No one to take your picture means: more mirror selfies!
Mandatory touristy picture taken by fellow solo traveler I met along the way. Diabadikan tepat di depan Buu Dien Thanh Pho, kantor pos tertua di kota Ho Chi Minh yang memiliki gaya arsitektur Perancis.
woman holding map

Ketika pergi berlibur bersama orang lain, pasti masing-masing memiliki ketertarikan terhadap hal yang berbeda. Kadang kita pasti berpikir, alangkahnya nyaman rasanya kalau bisa menikmati pemandangan sedikit lebih lama lagi, tanpa harus dihantui jadwal untuk mengunjungi tempat wisata berikutnya. Nah, ketika bepergian sendiri, kamu bisa mengatur lama durasi di tempat yang kamu kunjungi. Bukan hanya itu, kamu juga bisa bangun se-pagi, atau se-siang apapun yang kamu suka. Tentukan sendiri pace liburan yang cocok denganmu. Apakah tipe santai, di mana kamu bisa menikmati pemandangan sembari icip kuliner khas daerah wisata, atau tipe ambisius, seperti mengunjungi semua landmark di sebuah kota sambil berswafoto untuk disimpan sebagai memori yang menarik? The choice is completely and utterly yours!

Alone but never lonely

Salah satu bagian menarik dari solo traveling, yaitu bisa memiliki teman dari berbagai belahan dunia.
three women on mountain

Salah satu hal yang mungkin menjadi ketakutan beberapa orang ketika solo traveling, yaitu bagaimana kalau liburan jadi terasa sepi dan garing karena tidak ada teman untuk diajak ngobrol? Let’s turn this assumption around. Justru, jadikan kesempatan ini untuk kamu berkomunikasi langsung dengan warga lokal. Minta rekomendasi tempat hingga kuliner yang harus kamu coba langsung dari penduduk aslinya. Tidak jarang loh, kamu malah jadi menemukan hidden gem setempat yang belum banyak diketahui turis. Sedikit tips dari aku, jangan lupa percaya diri ya, dan luangkan sedikit waktu sebelum perjalanan untuk mempelajari bahasa daerah setempat. Kuasai setidaknya bagaimana untuk mengucapkan halo, tolong, dan terimakasih. Jangan lupa juga, gunakan kata sapaan hangat untuk membawa pembicaraan menjadi lebih akrab. See, selain sebagai teman ngobrol atau tanya-tanya, kamu juga bisa sekaligus belajar kebudayaan dan memiliki teman baru.

Your idea about everything is redefined

Manjakan lidah dengan cita rasa khas setempat. (Kanan: Banh Trang Nuong; pizza a la Vietnam yang terbuat kertas beras. Kiri: Ca phe trung; kopi Vietnam dengan foam yang terbuat dari susu dan telur.)
Mencari suasana baru di Jogja dengan bermalam di penginapan dengan konsep bed and breakfast (BNB). Biasanya mereka mengusung tema yang unik, dan memiliki harga yang miring!
Japan Street Photography
man sitting in vehicle

Traveling juga memberikan kesempatan bagi kamu untuk berjumpa dengan budaya lain, yang tidak jarang sangat berbeda dengan budaya kita sendiri. Perjalanan sendiri mendorong kita untuk berani mencoba hal-hal baru dan keluar dari zona nyaman kita. Jika biasanya kita menghabiskan waktu di mobil atau di bus sambil fokus scrolling feed, maka solo traveling memaksa kita untuk lebih aware dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Misalnya, ketika berkunjung ke Jogja, aku jadi sadar bahwa penduduk setempat menggunakan arah mata angin sebagai penunjuk jalan. Atau ketika berlibur ke Tokyo, aku sangat mengagumi penduduk setempat saat antre di stasiun kereta, sangat tertib tanpa adegan rebutan dan saling mendahului. Hasilnya? Aku jadi bisa melihat sudut pandang lain dari hal yang aku jumpai setiap hari, kemudian belajar untuk lebih menghargai perbedaan yang ada di sekitar. 

A grateful feeling for what we already have

Travel Hacks for the Airport

Setelah menghabiskan beberapa hari menikmati liburan sendiri, rasa kangen rumah dan rutinitas itu pasti muncul dengan sendirinya. Biasanya di hari-hari terakhir liburan atau ketika dalam perjalanan pulang ke rumah, kamu pasti akan mulai rindu rasa masakan rumah, atau nyamannya rasa tidur di kasur sendiri. Pulang dari solo traveling selalu berhasil membuat aku lebih bersyukur, untuk bisa merasakan indahnya berkunjung ke berbagai tempat di dunia, dan merasakan leganya memiliki rumah dan orang-orang terkasih yang menunggu kepulanganku. Percayalah kangen rumah menjadi salah satu hal yang esensial dari solo traveling itu sendiri. Karena sejatinya, perjalanan kamu pada akhirnya bukan hanya seputar memiliki teman baru, atau berkunjung ke tempat baru. It’s also about realizing and being grateful for what you already have, that is home, and it’s waiting for you.

Jadi, apakah kamu sudah kepikiran mau solo traveling ke mana?

2 Comments

  • DwD
    8 June 2020 at 12:02 pm

    I prefer solo travelling than travelling in a group because it’s less hassle and drama. Enak bisa atur jadwal sendiri, bebas explore tempat semau kita, ga terikat dan tergantung sama orang lain. Dan bener banget, solo travelling membuat kita menjadi keluar dari comfort zone kita. Problem-solving kita juga jadi makin terasah karena ada beberapa hal that we might encounter such as losing our baggage, getting lost, language barrier, etc yang semuanya harus kita solve sendiri dan saat itu juga. Destination yang pengen aku kunjungi klo masa pandemi ini udah berakhir: Switzerland, Spain, NYC and San Francisco!

    Reply
  • Anisya Septia
    17 June 2020 at 11:07 pm

    Yap selalu punya keinginan untuk solo travelling tapi selalu dihantui dengan kata ‘jika/nanti’ dan kalimat ‘jika nanti saya diculik gimana?/nanti kalau terjadi apa-apa, saya harus bagaimana?’ Tapi setelah baca ini, saya jadi lebih paham bahwa semua ketakutan itu nggak seharusnya jadi penghalang untuk pergi solo travelling! Selain itu, perdebatan untuk pergi ke tempat tujuan selanjutnya yang sangat saya benci tidak akan pernah terjadi jika saya solo travelling (terlalu sering travelling rame rame sih haha)
    Setelah pandemi berakhir, insyaAllah mau ke Semarang/Jogja/Solo!

    Reply

Leave a Reply