Menu
Personal Growth / Stories

Decluttering: Creating My Own Happy Place

Kilas balik ke beberapa bulan yang lalu, betapa beruntungnya kita bisa bebas berkegiatan di luar rumah. Beberapa bahkan meninggalkan rumah sejak pagi hari, kembali ke rumah hanya untuk memejamkan mata saat malam hari. Keesokan paginya langsung bersiap-siap untuk kembali beraktivitas. Akhir pekan pun seringkali dihabiskan untuk rekreasi di luar rumah. Tanpa aba-aba, pandemi global memaksa kita untuk mengubah kebiasaan dan meneruskan hidup kita dari dalam rumah. Tempat istirahat harus multifungsi jadi tempat bekerja. Rekreasi ke luar rumah pun bukan lagi pilihan. 

Selama karantina, sebagian besar aktivitas aku lakukan di dalam kamar. Mulai dari membuat report pada hari kerja, nonton series pada akhir pekan, ataupun mencoba segala macam hobi baru untuk menggantikan serunya kegiatan luar rumah. Naum, di tengah keterbatasan ini aku menyadari bahwa the more I spend my time in my room, the more I’m grateful for my decision two years ago. I had transformed my bedroom into my own happy place by decluttering!

Beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa lingkungan fisik di sekitar kita bisa mempengaruhi emosi dan perilaku kita. Saat kita merasa tidak produktif, susah fokus, atau kurang semangat, jangan-jangan hal tersebut terjadi karena tempat di sekeliling kita yang tidak mendukung terciptanya emosi dan perilaku positif. 

Lagi karantina gini, pas banget rasanya menginvestasikan waktu dan tenaga kita untuk berbenah rumah. Kamu sudah punya angan-angan tentang rumah atau kamar impian? Yuk, mulai dieksekusi. Kalau belum, kamu bisa mulai mencari-cari inspirasi. Namun sebelum itu, ada satu hal yang perlu dituntaskan terlebih dahulu, yaitu:

Clutter. Mess. Pile of unorganized things.

Coba tanya ke diri sendiri, apakah kamu merasa..

  1. Sulit menemukan barang yang tiba-tiba dibutuhkan?
  2. Sesekali menemukan barang yang sudah lama tidak terlihat dan masih dalam kondisi baik?
  3. Ruang gerak terbatas, sulit mengakses barang-barang yang digunakan sehari-hari?

Yuk, kita selesaikan masalah ini dulu sebelum maju satu langkah untuk mendekorasi ulang kamar kita. 

Satu hal yang selalu aku ingatkan pada diri sendiri adalah semua ruangan punya kapasitas optimal. Saat terisi terlalu banyak barang, kenyamanan ruangan pasti akan berkurang. Coba untuk lebih bijaksana dalam membeli baru. Untuk barang-barang yang sudah ada, yuk mulai dibereskan.

Pertama-tama, bongkar tumpukan barang mulai dari meja belajar, rak buku, dan tumpukan random di pojok ruangan. Dengan cara ini, kita jadi tahu apa saja barang yang kita punya, mana yang masih digunakan, dan mana yang sudah tidak diperlukan lagi. 

I decided to sell my old novels in Carousell. They found an eager and happy new owner within seconds!

Next step, pisahkan barang yang mau kita simpan dengan barang yang bisa didonasikan, dijual, atau dibuang. Unfortunately, this step is not as easy as it sounds. Alasan paling klasik yang membuat kita ragu untuk membuang sebuah barang adalah pemikiran bahwa: “Mungkin tidak diperlukan sekarang, tapi akan diperlukan nanti..”

Coba kita tanyakan lagi kepada diri sendiri, how likely will I use it in the future? 

Kalau belum yakin untuk merelakan suatu barang, kita bisa tetapkan tenggat waktu. Kalau sudah lewat deadline dan belum juga terpakai, berarti barang tersebut sudah tidak berguna untukmu.

Setelah melalui langkah tersebut, mungkin kamu masih berat untuk menyingkirkan beberapa barang-barang milikmu. Selanjutnya, coba tanyakan pertanyaan ini: on what occasion will I use it?

Barang-barang yang tidak selalu kamu gunakan, bisa disimpan rapi di tempat yang tidak sering diakses misalnya di dalam box dan disimpan diatas lemari atau di gudang. Manfaatnya, ruang gerak lebih bebas, pemandangan lebih rapi, dan lebih mudah mengakses barang yang digunakan sehari-hari. Tapi jangan lupa untuk menyortir barang-barang tersebut secara reguler ya!

At the end, the value of an object is not limited to its function, feel free to embrace the emotional value of your stuff.

Setelah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, biasanya tetap ada barang yang secara fungsi tidak ada gunanya tapi tetap ingin kita simpan, biasanya karena nilai memorinya. Aku pribadi senang menyimpan barang yang memiliki memori spesial. Simpan secukupnya saja, pilih yang paling spesial bagimu.

I decided to keep some stuff that has sentimental value to it.

Pernah nggak sih kamu menyimpan barang yang memiliki memori spesial, tapi justru berakhir hilang tertimbun atau terlupakan? Kalau memang barang-barang tersebut berharga untukmu, perlakukan selayaknya barang berharga. Coba kumpulkan di dalam box, tempel di diary, atau dibingkai jika perlu.

Currently we have limitations to go outside, but we surely have a lot of time to be invested inside. So, when will be the better time than now? Your future self will be grateful that you decided to do it now. 

No Comments

    Leave a Reply