Menu
Personal Growth

Kita Bisa Berperan untuk Memerangi Pelecehan Seksual

Pernah mendengar cerita seseorang yang menjadi korban kekerasan seksual? Kita dapat melihat banyak pengakuan seperti ini di media sosial terutama di akun-akun pengusung feminisme. Korban meminta dukungan sekaligus ingin memanggil pelaku di depan umum untuk menunjukkan perlawanan. Walau rasanya berat membaca kisah-kisah tersebut, ini akan sangat berarti bagi para korban. Dukungan kita akan membantu mereka merasa sedikit lebih baik.

Sebagai seseorang yang menjadi saksi melalui cerita yang dituturkan korban kita dituntut untuk berempati.

Pertama adalah mendengarkan ceritanya tanpa mengkritik. Kita tidak perlu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu. Contoh hal terlarang yang kita tanyakan adalah pakaian yang korban kenakan, kenapa korban bisa bertemu pelaku, hingga apa yang korban lakukan untuk melawan pelaku. Sebaiknya kita berhati-hati karena korban bisa saja tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kedua adalah mencari informasi yang dapat membantu korban. Contohnya bila kasus kekerasan seksual terjadi di internet maka kita bisa mencari pertolongan melalui akun-akun feminis. Kita juga bisa berkonsultasi dengan lembaga Safenet terutama bila ingin menempuh jalur hukum. Konsultasi yang kita lakukan adalah untuk mengetahui apakah kasus ini bisa diusut melalui hukum, apakah korban akan mendapatkan keadilan, dan lain-lain. 

Kita juga dapat membantu menghubungkan korban dengan lembaga-lembaga yang menangani kasus kekerasan seksual. Misalnya bila terjadi perkosaan maka kita bisa membantu korban untuk lapor ke polisi dan Komnas Perempuan sekaligus melakukan visum. Visum ini akan menjadi alat bukti yang membantu korban membuktikan kejadian perkosaan tersebut. 

Namun merupakan hak korban bila tidak ingin lapor atau menceritakannya pada orang lain. Sebagai pendengar kita sudah seharusnya menghargai hal ini. Korban berada dalam posisi sulit sehingga kita tak perlu menceramahi atau mendorong korban melakukan sesuatu. Apalagi dalam posisi masyarakat yang sangat patriarki dan RUU PKS yang belum disahkan maka akan lebih sulit bagi korban untuk mencari keadilan. 

Pahami bahwa memperjuangkan keadilan bagi seorang korban kekerasan seksual tidak sesederhana melaporkan kasus kejahatan lain seperti pencurian atau pembunuhan. Masih ada petugas berwenang yang melakukan victim blaming sehingga akan berat bagi korban untuk menceritakan kembali apa yang ia alami. Kekerasan yang ia alami juga akan membuat korban merasa sulit percaya pada orang lain. Melaporkan kekerasan tersebut akan menguras emosi korban.

Pertolongan lain yang bisa kita tawarkan adalah bantuan secara mental baik ke psikolog maupun psikiater. Kita bisa mencarikan info mengenai klinik ahli jiwa yang memiliki spesialisasi menangani korban kekerasan seksual. Saat ini banyak pula ahli jiwa yang menawarkan layanannya secara digital jadi kita bisa mencari informasi melalui situs atau media sosial. Kita dapat memberi tahu korban bahwa berkonsultasi pada ahlinya bukan sebuah aib dan psikolog atau psikiater dapat membantunya pulih.

Terakhir adalah membantu korban untuk mengembalikan kepercayaan dan harga dirinya. Kekerasan seksual seringkali membuat korban merasa dirinya tidak berharga dan tidak layak hidup. Kita perlu membangun rasa cinta korban pada dirinya sendiri agar ia menyadari bahwa hidupnya tidak berakhir karena kasus kekerasan seksual. Ia layak dicintai dan menjalani hidup yang normal. 

No Comments

    Leave a Reply