Menu
Real Stories

A Lesson that I Learned the Hard Way: Jangan Terlalu Cepat Menyerah Terhadap Keadaan

Saat itu aku berada di sebuah kampus swasta ternama di Salatiga dan memang tidak sedikit teman yang berasal dari luar kota, atau bahkan luar pulau. Berada di lingkungan teman-teman dari berbagai suku dan kebudayaan membuat aku merasa begitu kecil dan bukan apa-apa. Warna kulit kita berbeda, latar belakang keluarga juga berbeda. Sebagai gadis remaja normal aku juga ingin seperti mereka —memakai baju yang bagus saat ke kampus dan memakai make up yang cantik —tapi dengan kondisi ekonomi keluargaku saat itu yang cukup untuk membiayai uang semester saja, sepertinya kurang tau diri kalau aku meminta lebih, karena aku tau biaya kuliahku saja tidak sedikit. 

Minder adalah sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi mentalku pada waktu itu. Perasaan minder itu membuat aku tidak nyaman, aku jadi memandang orang lain dengan sudut pandang yang negative. Aku jadi sulit terbuka dengan orang lain dan tidak memiliki satu pun teman yang dekat. Karena perasaan ‘minder’ tersebut, aku melewatkan banyak kesempatan menarik untuk ikut kegiatan kampus. Aku pun melewatkan kesempatan untuk mengenal lebih banyak orang-orang hebat yang ada di Universitasku pada saat itu. 

Perasaan tidak nyaman terus menggerus semangatku, yang kemudian lama-lama membuatku semakin terbebani dalam menjalani hariku sebagai mahasiswa. Kuliah bukan lagi hal yang menyenangkan. Buku catatanku hanya terisi dengan gambar dan coret-coretan tidak jelas. Hal ini membuat aku semakin percaya bahwa aku salah jurusan. 

Salah satu hal yang aku pelajari adalah memiliki teman dekat saat kuliah ternyata menjadi salah satu faktor terpenting dalam kelangsungan kita menjalani studi, ya. Karena apa yang menjadi beban bisa kita bagi supaya lebih ringan. Kita jadi punya alasan yang menyenangkan untuk kembali ke kampus esok hari. Itu hal yang aku tidak punyai waktu itu, yang akhirnya membuatku menyerah pada keadaan dan memilih untuk gagal dalam studiku. 

Mengingat hari itu aku terbayang wajah kedua orang tuaku. Mereka begitu bangga saat bercerita kepada teman-teman mereka, bahwa anaknya melanjutkan studi di Universitas yang baik. Mereka bangga sekali karena dalam lingkunganku, tidak semua anak-anak seusiaku melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Sebuah penyesalan mendalam aku menyia-nyiakan hak istimewa yang tidak semua orang dapatkan. Seandainya waktu itu aku bertahan lebih lama lagi, mungkin ayah dan ibu akan lebih bangga terhadapku. 

Tapi, aku percaya bahwa semua yang terjadi pasti ada alasannya. Tuhan pernah memberikan aku tempat yang baik, pernah pula di tempat yang buruk. Tuhan sedang mengajari aku untuk menghargai apapun yang aku miliki. Bagiku, saat ini bisa kuliah adalah sebuah privilegeyang nggak semua orang bisa dapatkan. Nggak semua orang bisa berkesempatan untuk mengikuti kelas dari dosen-dosen lulusan universitas terbaik, entah dalam atau luar negeri. Jadi, kalau kamu masih bisa kuliah saat ini, kamu wajib bersyukur. Sekalipun kamu ke kampus memakai baju yang biasa-biasa saja, itu tidak menjadi sebuah permasalahan yang penting. Karena ketika kamu menjadi dirimu sendiri, orang lain akan menilaimu bukan dari penampilanmu lagi. Tapi seberapa baik attitude-mu dan personality-mu. 

Kalau aku boleh diberi kesempatan untuk bicara pada diriku di masa lalu, aku ingin meminta maaf karena tidak menyayangi diriku dan tidak memperlakukan diriku dengan baik. “Maaf ya kalau aku membuat kita menyerah terlalu cepat terhadap keadaan. Aku tau menjadi minoritas di sebuah lingkungan tidaklah mudah, apalagi bagimu yang terlahir dari keluarga yang tidak memberikan privilege sebanyak yang teman-temanmu dapatkan. Dan itu yang selalu membuatmu ingin menyerah setiap waktu. Berhentilah membandingkan dirimu dengan orang lain, fokuslah pada apa yang kamu jalani saat ini dan berikan yang terbaik”.

Last but not least, aku ingin bilang juga ke temen-temen yang baca artikel ini bahwa pendidikan itu penting banget, karena lapangan pekerjaan untuk lulusan SMA sangatlah terbatas, sedangkan seorang lulusan sarjana memiliki kesempatan lebih banyak untuk mendapat pekerjaan yang baik. Tidak ada yang namanya salah jurusan, kecuali bagi mereka yang sudah benar-benar tau jalan hidupnya mau dibawa kemana. Mungkin itu adalah sebatas quarter life crisis, yang sebagian besar manusia pasti mengalami kebimbangan untuk menentukan jalan hidupnya. Kalau belum tau hidup ini mau dibawa kemana, lebih baik menjalani apa yang ada dengan sebaik mungkin terlebih dahulu. In the end,kita nggak pernah tau apa yang akan terjadi di kemudian hari. Jadi selesaikan apa yang sudah kamu mulai.

1 Comment

  • Salsha
    3 February 2021 at 7:28 pm

    Hai Admin, bagaimana caranya mengirim tulisan di kolom “Real Stories”, ya? Terima kasih!

    Reply

Leave a Reply