Menu
Real Stories

Zaskia Putri: What I Would Tell My 20-Year-Old Self

If you could travel back in time and give your younger self some advice, what would you say?

Kali ini Girls Beyond mendapat kesempatan untuk menanyakan hal tersebut kepada Zaskia Putri, seorang perempuan muda asal Indonesia yang saat ini sedang berkarier sebagai pengacara di Amerika Serikat.

Zaskia memulai perjalanannya di dunia hukum saat Ia lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada tahun 2013, dan bekerja di salah satu firma hukum ternama di Jakarta. Setelah 4 tahun berkarier di Indonesia, Zaskia berkeinginan untuk mengejar mimpinya untuk melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat. Akhirnya Ia berhasil menempuh pendidikan S2 di University of Washington School of Law.

Selesai mengambil gelar Masters-nya, Zaskia menantang dirinya lagi untuk mengikuti State Bar Exam (tes untuk mendapatkan lisensi pengacara di Amerika). Setelah perjalanan panjang dan kerja keras, akhirnya Ia berhasil lulus dan mendapatkan izin untuk menjadi pengacara di Amerika! Saat ini Zaskia bekerja di salah satu firma hukum ternama di Seattle, Washington, Amerika Serikat. Keren banget ya!

Dalam wawancara ini, Girls Beyond sudah menyiapkan 8 pertanyaan terkait karier, cinta, dan kehidupan kepada Zaskia yang pura-puranya akan ditanyakan langsung oleh dirinya versi usia 20 tahun. Menurut kamu, Zaskia bakal jawab apa? Simak wawancaranya di bawah ini ya!

Q1: “Nasihat karier apa yang ingin kamu berikan untukku?”

  1. Treat your job as your passion

Saat kita menganggap pekerjaan kita hanyalah ‘pekerjaan’, ketika dihadapkan dengan masalah kita akan lebih cepat merasa burned out. Tapi kalau kita menganggap pekerjaan kita sebagai ‘passion’, kita akan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Sebesar apapun masalah yang dihadapi, kita akan menganggap itu sebagai challenge dan terus mencari jalan keluarnya. 

Misalnya kita suka sekali masak, dan menganggap itu passion kita. Saat kita mencoba satu resep masakan yang rumit, bagi kita itu bukan masalah, tapi tantangan. So, instead of giving up, kita akan terus berusaha mempelajari gimana caranya membuat resep tersebut sampai akhirnya menghasilkan masakan yang enak.

2. Work ethic & networking matters 

Aku percaya, kedua hal ini lebih berharga daripada IPK, grade, atau angka-angka lain yang tercantum di CV seseorang. Saat kita terjun ke dunia kerja, yang akan dilihat adalah hasil kerja kita. Mau setinggi apapun IPK yang kita dapatkan saat kuliah, kalau hasil pekerjaan kita nggak sesuai dengan apa yang diekspektasikan bos atau perusahaan, ya nggak akan berarti apa-apa.

Mungkin sebagian orang berpikir kalau kerja itu dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore aja, setelah itu selesai. Tapi balik lagi, kalau kita menganggap pekerjaan kita itu passion, pasti kita mau melakukan yang terbaik. We’d be willing to advance our career, salah satunya dengan networking. Penting sekali untuk kita memperluas jaringan kita dengan orang-orang dari satu bidang yang sama, dan juga multiplier, yaitu orang-orang yang berbeda bidang dengan kita.

Dulu saat bekerja di Indonesia aku punya atasan, seorang ekspatriat dari Singapura. Karena dia baru pindah ke Jakarta, dia harus memperluas jaringan kliennya melalui networking. Setiap hari selalu ada aja agenda lunch atau ngopi sama orang-orang dari berbagai bidang, dan aku selalu ikut bersama atasanku ini. Orang lain mungkin melihatnya, “Dia kerja nggak sih? Kok kerjaannya nongkrong terus? Ngopi-ngopi terus?”. Tapi ternyata setelah satu tahun, aku bisa melihat sendiri hasil dari usaha berjejaringnya ini. Orang-orang yang lunch dan ngopi bersama atasanku inilah yang akhirnya menjadi client. Setiap mereka butuh legal service, atasanku ini selalu dicari, karena dia sudah menjadi top of mind mereka.

Hal tersebut aku terapkan saat aku datang ke Amerika sebagai mahasiswa. Aku mempelajari bahwa mahasiswa internasional di Amerika banyak yang belum begitu paham tentang dunia hukum. Aku masuk ke komunitas-komunitas mahasiswa internasional, dan memperkenalkan diriku sebagai legal practitioner. Aku berteman dan menjalin relasi dengan mereka sampai akhirnya banyak orang-orang dari komunitas ini yang menjadi klienku. Setiap mereka butuh layanan hukum, mereka pasti cari aku.

Q2: “Nanti aku bakalan dapetin dream job aku nggak, ya?”

Yes, asalkan kamu mau usaha untuk selalu working on yourself. Asalkan kamu terus menggali apa yang kamu suka dan apa yang kamu inginkan dalam hidup. Menurutku dream job itu bukan melulu sebuah jabatan, atau sebuah tingkatan karier di suatu perusahaan. Dream job adalah pekerjaan yang kita lakukan dengan sepenuh hati. 

Q3: “Tiga skill apa yang harus aku kuasai di dunia kerja?”

  1. Endurance

Ketahanan diri, atau istilah yang sering dipakai. ‘tahan banting’. Bagaimana kita bisa menjadi seseorang yang tidak mudah mengeluh, apalagi menyerah. Setiap menjalani pekerjaan apapun, suka atau tidak suka, kita rela untuk menjalaninya seberat apapun tantangan yang dihadapi.

  1. Perseverance

Di pekerjaan apapun, kita pasti akan dihadapkan dengan masalah. Penting sekali bagi kita untuk punya perseverance, alias kegigihan. Setiap dihadapkan dengan tantangan atau masalah, kita tidak berpikir bahwa that’s the end of the world. Tapi kita lebih fokus mencari jalan keluar. Kalau kita gigih, kita nggak akan takut gagal. Lagipula, kalau kita nggak pernah gagal, kita nggak akan bisa merasakan sukses, karena perasaan gagal adalah perbandingan saat kita meraih sukses.

  1. Patience & mindfulness. 

Sabar dan tidak selalu responsif terhadap setiap hal. Aku ingat saat usiaku 20-an, aku cenderung sangat responsif akan segala sesuatu. Misalnya, saat aku mendapat suatu kabar, aku bisa langsung ‘meledak’, bisa langsung sedih atau senang berlebihan. Ada baiknya bagi kita untuk take time, pikirkan dan rasakan dulu sebelum akhirnya memberikan respon terhadap sesuatu.

Q4: “Apakah aku akan bertemu dengan cinta sejatiku?

Pertama, you have to love yourself first. That’s first and foremost. Saat kamu sudah mencintai dirimu sendiri, secara nggak sadar kamu akan memancarkan cinta dalam bentuk energi positif ke orang-orang disekitarmu. I believe that positive energy and positive chemical exchange, so you will attract people with the same vibe as you, then, you’ll meet the right person. Karena kamu sudah mencintai dirimu sendiri, bahkan sebelum kamu mencintai orang lain.

Saat kita belum mencintai diri sendiri, kita akan menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain. Kita akan berharap orang lain yang akan memberikan perasaan cinta yang kita butuhkan. Jadi, saat orang tersebut pergi dari hidup kita, kita akan merasa kecewa, marah, bahkan ‘hancur’. Seperti kehilangan separuh dari diri kita. 

Saat kita mencintai diri sendiri, kita akan berpikir, ada atau tidaknya orang yang memberikan cinta, kita tetap akan berdiri tegak karena kita punya cinta untuk diri sendiri dan itu sudah cukup.

Q5: “Saat aku punya waktu luang, lebih baik digunakan untuk apa?”

Take care of yourself first. Lakukan apa yang kamu sukai. Kalau kamu sukanya olahraga, puas-puasin lakukan olahraga kesukaan kamu. Atau kamu sukanya masak, nyalon, apapun. Do it. Nanti ketika kamu sudah memiliki pasangan dan berkeluarga, waktu yang kamu miliki harus dibagi dengan mereka. So, while you’re single, just be as selfish as you can be for yourself!

Kedua, spend time with your family, especially your parents. Terkadang saat kita sedang sibuk mengejar mimpi, kita nggak sadar kalau orangtua juga bertambah tua. Bersyukur jika orangtua kita punya umur panjang, masih bisa hidup sampai kita berkeluarga. Realitanya tidak selalu seperti itu. So, while you have more time for yourself, share it with your family.

Q6: “Bagaimana seharusnya aku menghadapi kegagalan?”

Pertama-tama, rasakan dulu perasaan kecewa dan sakit yang kamu rasakan. Ini penting sekali supaya tidak ada perasaan denial atau unresolved pain. Setelah itu, take a break for a while. Setelah rehat, kamu harus kembali bangkit dan hadapi masalahmu. 

Aku pernah dengar satu ungkapan dari Albert Einstein, “Insanity is doing something the same over and over again and expecting different results”. So, kamu harus cari cara yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya untuk mengatasi masalah itu, cara yang lebih baik dari cara sebelumnya. Menurutku, quitting is not really an option, if that is something that you really want. 

Q7: “Apa aku perlu peduli dengan omongan orang lain tentang diriku?”

Dulu saat usiaku 20 tahun, aku juga pernah struggling dengan hal ini. Secara nggak sadar aku memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang aku. “Aku salah nggak ya?”, “Kenapa ya orang lain menganggap aku seperti itu?” dan masih banyak lagi pikiran-pikiran lainnya. 

Tapi setelah aku berproses selama ini, aku sadar bahwa nggak ada gunanya mendengarkan komentar orang lain. Masalah yang ada di keseharian kita aja pasti udah beragam. Untuk apa nambah masalah yang nggak nyata, seperti opini orang lain yang nggak bisa kita kontrol? 

Selama tidak merugikan atau menyakiti orang lain, aku rasa kita nggak perlu mendengarkan opini orang lain tentang diri kita.

Q8: “Apakah aku akan punya hidup yang bahagia nantinya?”

Yes, of course!!! Because I chose to never give up, and I love myself. I am the one who made myself happy. So, jangan menyerah ya!

No Comments

    Leave a Reply