Menu
Real Stories / Stories

Dunia Belum Siap dengan Sosok Perempuan Tangguh #GBBreakTheStereotype

Aku yakin, dunia sudah banyak berubah. Sayangnya dunia belum siap dengan sosok tangguh yang adalah seorang perempuan. Tangguh dalam definisiku bukan hanya dia bisa seni bela diri, jadi multimillionaire, atau apa pun bentuk yang bisa terlihat dan terukur. Terkadang, tangguhnya seorang perempuan adalah bagaimana dirinya tetap tegar melanjutkan hidup dan menggapai mimpi meskipun ada banyak cobaan yang sedang ia alami. Namanya memang “mimpi”, tapi mimpi bukanlah ilusi semata bagi perempuan masa kini. Ada yang kami perjuangkan, dan ada tujuan yang ingin kami capai. 

Sejak kecil, aku selalu punya cita-cita untuk bisa berkuliah setinggi-tingginya. Bagiku, salah satu cara untuk mencapai impianku adalah dengan menimba ilmu. Hingga saat ini, aku masih berusaha untuk terus belajar sembari bekerja full-time. Lelah sudah biasa. Tapi, aku yakin suatu hari aku akan mencapai yang aku dambakan dalam hidup, yaitu menjadi Entrepreneur dan menjadi sumber berkat bagi banyak orang melalui kesempatan yang bisa aku berikan bagi banyak orang nantinya.

I believe that human beings should not only live for themselves, but for others too. It makes our lives more valuable and meaningful. 

Aku rasa, yang aku lakukan cukup baik dan aku cukup puas dengan pencapaian ku selama ini. Namun, tidak jarang ada kalimat yang dilontarkan dari sesama perempuan atau keluarga sendiri. Baru saja kemarin, seorang anggota keluar menghubungi keluarga kami. Di video call tersebut, sebuah pertanyaan disampaikan kepadaku, ”Kerja aman kan? Gimana sekolah? Ngapain cape-cape sekolah sih nanti kepinteran. Ga ada laki-laki yang mau loh” atau “Jangan kerja terus. Kalau pendapatan kamu lebih besar dari pasanganmu, nanti kamu mengecilkan dia loh. Ga baik memandang laki-laki dengan sebelah mata.” Ada juga perbincangan dari tetangga yang bilang, ”Cariin anak saya jodoh dong. Udah 27 dan 32 tahun tapi ga punya pacar. Abis mereka jadi perempuan terlalu dominan sih jadi laki-laki takut deketinnya.” Perempuan dengan impian seringkali disebut tidak rasional, tidak mengukur, atau illusory. Sedih ya. 

Seketika pertanyaan muncul dalam benakku, mengapa hanya perempuan yang di cap dominan jika ia berani berpendapat, mengintimidasi jika terlalu pintar, dan menakutkan sampai tidak ada seorang yang mau menjadi pendampingnya jika ia punya impian besar? Tak jarang opini tersebut datang dari orang-orang yang tahu seberapa pentingnya impian itu bagi hidup seorang perempuan. Semakin tinggi kami punya tujuan, semakin banyak hurdles dalam bentuk kata-kata stereotyping ke perempuan. 

Sebagaimana aku mendukung potensi perempuan, begitu pula aku menghargai kemampuan laki-laki untuk berkontribusi dalam memperbaiki dunia. Namun, aku tidak yakin kalau hal ini terjadi sebaliknya. Hingga hari ini, aku masih mendambakan dunia dimana buah pikiran perempuan diakui sebagaimana dunia memvalidasi laki-laki. Tapi, semakin dewasa, semakin sering aku berkata, ”Ya sudahlah..” Yang aku tahu aku berusaha menunjukkan kemampuanku sebagai salah satu perempuan yang mendambakan perubahan stereotype ini, begitu pula dengan banyak perempuan lainnya di luar sana. Berjuanglah jika cita-citamu menjadi ibu yang baik untuk keluarga dan anak-anakmu, gapailah gelar setinggi-tingginya, kejarlah tujuanmu dan cintai dirimu akan kemampuanmu sekecil dan sebesar apapun. Untuk sesama perempuan, ingat yang pernah Fridah Githuku, Executive Director GROOTS pernah sampaikan, An undying spirit is the primary source of help because it is within you.” Selamat berjuang, Girls! Let’s fight for this together.

No Comments

    Leave a Reply