Menu
Real Stories / Stories

Perempuan dan Segala Tuntutannya #GBBreakTheStereotype

Halo! Perkenalkan nama saya Fuji Aulia, usia saya hampir menginjak 25 tahun. Saya ingin berbagi sedikit pandangan saya berdasarkan pengalaman pribadi, dan sepertinya cukup relevan dengan hari peringatan International Women’s Day tanggal 8 Maret lalu. Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat untuk para perempuan di seluruh penjuru dunia, dimanapun kamu berada. Yakinlah bahwa kamu adalah versi terbaik dari dirimu!

Dulu saya belum menyadari adanya isu-isu yang berkaitan dengan hak perempuan beserta stereotipe-stereotipe negatif yang muncul bersamaan. Sedikit tentang latar belakang saya, saya hidup di lingkungan di mana kesenjangan antara perempuan dan laki-laki itu nyata adanya. Namun, dulu saya cukup menganggap hal ini sesuatu yang lumrah.

Suatu hari, saya pernah ditugaskan oleh salah satu orang terdekat saya untuk menyapu. Mencoba berpikir secara logis, saya membagi tugas dengan seorang rekan laki-laki yang kebetulan berada di tempat yang sama, tujuannya agar pekerjaan cepat selesai. Diluar ekspektasi, si pemberi tugas berkata “Sudah, biar Fuji saja yang menyapu. Itu memang pekerjaannya sebagai perempuan” patut diingat kembali, si pemberi tugas adalah seseorang yang sangat dekat dengan saya.

Pada momen tersebut saya hanya bisa diam, meskipun rasa hati ingin memaki. Tidak hanya sekali, diskriminasi semacam itu terjadi kembali. Saya mencoba untuk menyampaikan bahwa kegiatan membersihkan rumah dan memasak adalah keahlian bertahan hidup, tidak ada hubungannya dengan laki-laki atau perempuan. Namun argumen saya tidak diterima dengan baik, dibantah kembali dengan anggapan bahwa perempuan lebih cocok untuk melakukan tugas rumah. Kejadian ini membuat saya berpikir, sepertinya kita memang tidak bisa mengontrol pikiran orang lain ya?

Selain itu, saya juga sering mendengar bias tentang perempuan dan kaitannya dengan cita-cita. Belakangan ini saya sedang antusias sekali mempersiapkan diri untuk mengikuti rangkaian tes dalam rangka seleksi sebuah pekerjaan. Tenaga serta pikiran saya fokuskan untuk seleksi ini selama satu tahun terakhir. Tidak disangka, salah seorang kerabat berkata

“Untuk apa jadi hakim?Itu pekerjaan yang sulit, perempuan mana bisa”,

“Udah jangan terlalu kepengen jadi orang hebat, nanti susah dapat pasangan lho. Pasangan kamu bisa minder!”

“Udahlah nggak usah kerja. Kamu nikah aja!”

Perkataan-perkataan tersebut secara tidak langsung memengaruhi mental saya. Dari yang sebelumnya bersemangat sekali, hingga saya mulai meragukan kemampuan diri. Tidak jarang saya nyungsep ke pojokan sambal nangis-nangis.

Ironisnya, kebanyakan hal yang saya alami ini keluar dari mulut sesama perempuan. Di mana saya yakini, seharusnya perempuan bisa saling mendukung. Setiap orang punya pilihan, terlepas dari dirinya laki-laki ataupun perempuan. Mengapa lingkungan kita harus selalu mengkotak-kotakan perempuan dengan ekspektasi dan bias yang tidak masuk akal? Semua perempuan berhak untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Setiap saya terjebak dalam situasi di mana saya merasa didiskriminasi sebagai perempuan, saya berusaha untuk mengungkapkan apa yang saya rasa, apa yang saya pikir, dan apa yang saya inginkan. Memang pasti ada saatnya saya tidak punya keberanian untuk mengungkapkan, walaupun saya memilih diam di kondisi tertentu, saya akan tetap melangkah. Biarkan kemampuan dan pencapaian saya kelak yang akan membuktikan semuanya.

No Comments

    Leave a Reply