Menu
Real Stories / Stories

Seutuhnya Perempuan Adalah Perempuan #GBBreakTheStereotype

“Perempuan itu harus melahirkan! Bukan perempuan namanya kalau belum pernah melalui fase itu!”

“Perempuan harus menyayangi anaknya segenap hati, jangan sampai anaknya tak terurus karena urusan pekerjaan, ya!”

“Kalau belum jadi ibu, berarti kamu belum menjadi perempuan yang utuh!”

Ekspektasi dan batasan dalam menjadi seorang perempuan: kewajiban untuk memenuhi kodratnya sebagai seorang ibu. Pernyataan-pernyataan tersebut kerap kali terdengar dari lingkungan di sekitar kita, tak terkecuali dari orang-orang yang kita kasihi. Stereotipe tersebut kemudian menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah benar perempuan harus berubah menjadi seorang ibu dulu supaya dapat dikategorikan sebagai perempuan yang ‘utuh’?

Nyatanya, definisi ‘utuh’ yang digaungkan orang-orang di sekitar kita tak terlepas dari mengakarnya nilai-nilai patriarki yang sudah tertanam sejak dahulu dalam masyarakat kita. Seperti yang tertoreh dalam buku International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences (2015) karya Karen J. Swift, pemenuhan ‘kewajiban’ seorang perempuan untuk menjadi ibu dapat diartikan melalui dua peran, yaitu peran reproduksi dan pembentukan. Menurut Adrienne Rich, peran pembentukan seorang ibu merupakan produk budaya patriarki, dimana dominasi laki-laki mengatur bagaimana seharusnya seorang ibu merasakan, bertindak, dan memutuskan sesuatu. 

Menjalani peran sebagai seorang ibu di tengah-tengah berlakunya standar hidup sebagai seorang perempuan yang disamaratakan sama dengan memenuhi keinginan yang bedasarkan atas kekuasaan masyarakat patriarki, jarang untuk diri mereka sendiri. Satu hal penting yang sering diabaikan oleh masyarakat patriarki: menjadi seorang perempuan adalah menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang memiliki hak penuh atas hidupnya, menentukan pilihan-pilihan sulit dan kompleks yang terbaik untuk dirinya tanpa tekanan dari ekspektasi sosial dan paksaan bahwa mereka adalah kaum yang di nomor duakan.

Perempuan yang mengetahui keinginannya. Perempuan yang tau apa yang terbaik untuk dirinya. Perempuan yang gigih dan cermat dalam meraih mimpinya. Perempuan yang dapat merasakan dan mengeluh kesahkan segala kelelahannya dari kehidupan dibawah dominasi laki-laki. Perempuan yang mengenal dan mendengarkan dirinya sendiri.

Stereotipe ‘perempuan yang utuh adalah yang memilih peran sebagai ibu’ tidak seharusnya dilanggengkan. Memilih perubahan diri untuk menjadi seorang ibu merupakan sesuatu yang mulia, datang dari hati yang sayang berdasarkan pilihan tepat untuk diri sendiri. Maka dari itu, seutuh-utuhnya perempuan bukanlah dia yang dibungkam dan dipaksa untuk memilih.

Seutuh-utuhnya perempuan adalah perempuan.

No Comments

    Leave a Reply