Menu
Real Stories / Stories

Tantangan Menjadi Perempuan #GBBreakTheStereotype

Waktu kuliah ditanya “kapan lulus?”, setelah lulus kuliah ditanya “kok masih nganggur” atau
mungkin “kerja dimana?”. Baru setahun, dua tahun kerja, ditanya lagi “kapan nikah?”. Setelah
nikah, eh muncul lagi pertanyaan “kapan punya anak?” atau “mau punya anak berapa? Nggak
mau nambah lagi?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut ibarat pertanyaan klise yang pasti akan
kita dengar saat kita sedang berada pada titik kehidupan tertentu. Terkhusus perihal pernikahan
dan keturunan yang seakan menjadi tolok ukur kesuksesan dan kebahagiaan yang disematkan
kepada seseorang. Walaupun seseorang telah mencapai kesuksesannya secara individu
misalnya dari segi finansial atau karir, namun jika seseorang belum menikah dan belum
memiliki anak, orang-orang disekitar sering menganggapnya belum berhasil.


Bicara tolok ukur kesuksesan dan kebahagiaan, tentu masing-masing orang memiliki standar
atau tujuan yang berbeda. Namun tulisan ini tidak akan membahas soal itu, melainkan tentang
tuntutan-tuntutan yang berasal dari stereotype masyarakat, yang tanpa disadari membatasi
perjalanan perempuan untuk menjadi individu yang utuh.


“Perempuan harus cepet-cepet nikah, ya.. sebelum umur 30 lah paling enggak, biar nanti
nggak susah punya anak. Makin tua nanti nggak ada cowok yang mau lho”


Kurang lebih seperti itu ungkapan yang kerap dilontarkan kepada perempuan yang belum
memiliki keinginan untuk cepat-cepat menikah. Pilihan akan pernikahan seorang perempuan seringkali dibatasi dengan pertimbangan usia dan kesuburan. Padahal sebenarnya ada variabel
yang lebih penting untuk mempertimbangkan kapan seorang perempuan ingin menikah, yaitu
kesiapan dirinya sebagai seorang individu yang utuh, yang nantinya akan berdampak besar
terhadap bagaimana ia menjalankan perannya sebagai seorang istri sekaligus ibu. Anggapan
bahwa untuk menikah perempuan tidak perlu harus mapan secara finansial karena akan ada
suami yang menafkahi juga semakin mendesak perempuan untuk segera menikah dan justru
malah menempatkan perempuan sebagai pihak yang “bergantung” terhadap laki-laki.


Dengan adanya batasan usia dan kesuburan, tanpa sadar perempuan jadi memiliki rentang
waktu yang pendek untuk mengeksplorasi dan menyelesaikan PR PR yang ada dalam dirinya.
Bayangkan saja jika seorang perempuan dituntut harus menikah sebelum usianya memasuki 30
tahun, padahal secara finansial dia belum mencapai goals nya, atau masih ada luka-luka batin
yang belum terselesaikan, atau mungkin masih banyak impian-impian lain yang belum terwujud.
Pada titik tersebut, perempuan terasa seperti sedang dikejar-kejar. Tak hanya itu saja, dalam
kehidupan rumah tangga, perempuan juga memiliki tanggung jawab yang cukup berat dalam
menjalankan multiperan sebagai seorang istri, ibu dan mungkin sebagai pekerja profesional.
Mari kita ambil 1 contoh peran saja.. Untuk menjadi ibu, banyak sekali hal yang harus disiapkan
dan dipelajari oleh perempuan agar mampu menjalankan perannya sebagai seorang ibu yang
baik. Dengan berbagai tanggung jawab yang tidak sepele tersebut, maka lumrah jika
perempuan mempertimbangkan banyak hal, tidak terburu-buru untuk menikah dan
mempersiapkan dirinya sebaik mungkin terlebih dahulu.


Dalam menentukan sebuah pilihan, seringkali kita dihadapkan pada banyak sekali
pertimbangan yang bahkan asalnya bukan dari dalam diri kita sendiri, melainkan dari luar, salah
satunya stereotype yang disematkan kepada perempuan. Adanya stereotype dari luar tersebut,
jangan sampai mengaburkan suara dari dalam diri kita. Cukup tempatkan mereka sebagai
pertimbangan tambahan saja dan bukan sebagai faktor utama penentu pilihan kita. Dengan
begitu, dalam menentukan sebuah pilihan, kita benar-benar menjalani ekspektasi diri kita
sendiri, bukan ekspektasi orang lain. Jangan sampai kita tidak mindfull dalam menentukan
sebuah pernikahan dengan hanya mendengarkan perkataan orang lain saja, padahal nantinya
kita sendiri yang akan menjalaninya, bukan mereka.

No Comments

    Leave a Reply