Menu
Real Stories / Stories

Memangnya Kenapa Kalau Janda? #GBBreakTheStereotype

“Eh, hati-hati dijaga suaminya. Jangan deket-deket dia,”
“Biar aku deh yang kasih ke suamiku, kamu ngga usah ketemu,”
“Yah, dua perempuan. Nggak ada laki-laki di rumah,”
“Kalian kan perempuan. Biar minta tolong yang lain aja buat memutuskan,” “Kamu ngga mau cari pacar? Nikah lagi aja,”

Penggalan obrolan di atas sudah seringkali saya dengar setahun belakangan ini. Bermula dari kejadian dua perempuan yang kehilangan sosok suami dan ayah secara fisik di rumah. Walaupun kampanye tentang gender equality sudah banyak kita dengar, nyatanya beberapa orang masih mengkotak-kotakkan “perempuan” sebagai sosok yang lemah, rapuh dan tidak berdaya. Pun hal ini dialami oleh saya dan ibu baik di lingkungan pekerjaan hingga tetangga. Percayakah kamu kalau kami juga mengalami ini di lingkup keluarga dekat?

Buat sebagian orang mungkin itu hanya sebatas rasa khawatir yang berlebihan. Namun, kali ini konteksnya beda. Sebagai anak tunggal yang syukurnya mendapat kasih sayang lengkap dari orang tua, saya dididik untuk tidak bergantung pada orang lain atau dalam kata gantinya berjuang di atas kaki sendiri. Hingga saya dewasa, masih banyak anggapan “manja”, “tidak pernah susah”, dan sebutan lain sampai-sampai saya merasa biasa saja dan hanya menganggap itu sebagai angin lalu. Saya jadi tidak memusingkan omongan orang lain dan ya seperti biasa mengurus hidup sendiri saja sudah banyak tantangannya, apalagi memikirkan omongan orang lain.

Sebagai seorang perempuan pekerja dan mengurus rumah tangga, perempuan seringkali harus memilih. Antara harus berangkat pagi saat anak masih tidur dan pulang larut malam, atau fokus pada urusan rumah tangga namun seringkali dianggap remeh. Kadang saya masih suka protes “Jadi perempuan kok susah, ya? Dikit-dikit dipandang remeh. Kadang kalau sudah berjuang, tidak dianggap,”

Makin lama ini semakin menjadi-jadi apalagi kalau sudah menyangkut status sebagai “janda”. Mendapat cibiran yang kurang enak dengan dalih hanya sebatas guyonan biasa. Menurut saya itu sudah bukan guyonan ketika seseorang dengan gamblang menyatakan “Oh, sudah nggak ada suami, ya? Cari laki-laki baru saja,” dengan wajah tidak bersalah. Saya sempat berpikir, bukannya menjadi “janda” bisa disebabkan oleh banyak hal ya? Ibu saya menyandang status sebagai seorang janda karena ayah saya meninggal. Ada perempuan lain menjadi janda karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga dan ingin menyelamatkan sang anak. Ada juga perempuan yang dipaksa dijodohkan dan merasa tidak berdaya, mencari cara untuk menyelamatkan diri.

Lantas, status sebagai janda adalah status yang salah atau menjijikkan? Saya rasa tidak. Apa bedanya dengan duda? Mengapa perempuan masih menjadi objek utama yang harus dikucilkan dan menjadi bahan guyonan? Kalau saya punya kuasa lebih, mungkin saya akan menutup mulut-mulut pencibir dengan plester supaya lebih baik diam daripada mengeluarkan obrolan menyakitkan.

Kejutan lainnya yang saya sadari adalah hal-hal ini diucapkan oleh sesama perempuan sendiri. Coba jika kejadian-kejadian tersebut berbalik? Apakah orang-orang ini juga menerima cibiran yang kurang mengenakkan? Bukan hanya di lingkungan keluarga yang seringkali membuat

perempuan rapuh dan tersudutkan, lingkungan kerja juga menjadi faktor terbesar. Padahal apa yang dikerjakan adalah urusan profesional. Tujuan yang mulia untuk mencari uang, membahagiakan keluarga, dan berjuang agar sang anak bisa sekolah atau mencapai mimpinya.

“Oh, mau ketemu suami saya? Ngga usah kegenitan, ya. Saya saja yang ngurus,” ini adalah penggalan kalimat ketika perempuan sebagai pekerja melakukan tanggung jawabnya dalam penandatanganan dokumen. Saya percaya bahwa tujuan perempuan ini baik dan hanya berurusan dengan kehidupan profesionalnya saja. Dianggap kecentilan, dibenci karena berpenampilan menarik sampai dicap tidak benar hanya karena menggunakan baju yang rapi dan berdandan.

Menurut saya, berpenampilan menarik itu sah-sah saja. Bisa dilakukan siapa saja, perempuan ataupun laki-laki. Tidak ada salahnya juga tidak berdandan atau well-dressed. Mungkin yang perlu digaris bawahi adalah tidak selalu turut dalam urusan orang lain dan memberikan penilaian yang kurang baik padahal tidak diminta. Bukankah sesama perempuan harusnya saling mendukung? Saya rasa banyak perempuan yang masih mendukung and fix each other’s crown. Mungkin tulisan ini akan saya tunjukkan ke keluarga terdekat atau orang-orang lain yang kerap mengejak status “janda”, supaya lebih terbuka pikiran dan pandangannya.

Dalam hal lain pun sebenarnya menyandang status “janda” tidak menghentikan perempuan untuk berkarya atau berprestasi. Saya rasa dalam usia berapapun, seorang “janda”, “perawan” atau status perempuan lainnya tidak menjadi batasan untuk melakukan sesuatu. Apabila ditolak dalam perusahaan, banyak hobi dan karya yang masih bisa dilakukan. Ini juga yang menjadi titik balik saya untuk tidak selalu berpikiran negatif tentang status seseorang. Banyak yang masih berjuang menggapai mimpinya, banyak yang memperjuangkan mimpi sang anak. Mari sebagai perempuan kita bisa merangkul satu sama lain, memberikan pelukan hangat dan mendukung dari jauh.

Selamat Hari Perempuan Internasional untuk kita semua. Apapun statusnya, usia, agama, suku dan perbedaan lainnya, perempuan punya hak untuk berjuang dan menggapai apapun yang diinginkan.

No Comments

    Leave a Reply