Menu
Mental Health

Kenalan dengan Imposter Syndrome, Musuh Perempuan dalam Meraih Kesuksesan

Di zaman sekarang, isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan semakin mendapat perhatian. Perempuan memiliki karir cemerlang, menduduki posisi kunci pada sebuah lembaga atau instansi, menjadi pengusaha dan membuka lapangan kerja bagi banyak orang, serta mandiri dan stabil secara finansial sudah menjadi hal yang lumrah. 

Menjadi perempuan sukses adalah sesuatu yang sangat membanggakan, bukan? Namun, bagaimana jika yang kita rasakan justru sebaliknya? Bagaimana jika alih-alih merasa senang atas pencapaian kita, kita justru minder, meragukan diri sendiri, bahkan merasa tidak pantas mendapatkan itu semua?

Apabila kamu pernah atau sering merasakan hal tersebut ketika kamu berhasil mencetak prestasi, bisa jadi kamu mengalami imposter syndrome. Secara harfiah, imposter syndrome dapat diterjemahkan sebagai sindrom penipu. Ini adalah sebuah kondisi psikologis ketika seseorang merasa tidak berhak akan pencapaiannya.

Kondisi ini juga membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak kompeten seperti yang orang-orang kira. Pemikiran atau perasaan tersebut juga seringkali diikuti dengan rasa takut apabila suatu hari nanti orang lain tahu bahwa dirinya tak sebaik yang mereka kira.

Imposter syndrome memang tidak tergolong sebagai penyakit kejiwaan, tetapi apabila tidak ditangani dengan serius dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih parah, seperti gangguan kepribadian. 

Penyebab dan Gejala 

Imposter syndrome dapat disebabkan oleh beberapa hal, tetapi umumnya berkaitan dengan pola asuh dan faktor lingkungan.

Pola asuh dan pendidikan yang selalu menetapkan target pencapaian tinggi, lebih mementingkan hasil daripada proses (goal-oriented), serta jarang memberikan apresiasi atau validasi terhadap anak dapat berkontribusi pada munculnya imposter syndrome dalam diri seseorang. Imposter syndrome juga dapat disebabkan oleh lingkungan yang kompetitif.

Selain itu, kondisi ini juga dapat terjadi ketika seseorang memasuki fase kehidupan baru atau mendapatkan peran baru. Misalnya, pertama kali menjadi ketua organisasi, pertama kali menjuarai sebuah kompetisi, atau pertama kali memiliki pekerjaan. 

Sejumlah gejala imposter syndrome, antara lain kurang percaya diri, meragukan kemampuan diri sendiri, mudah merasa cemas, takut berlebihan akan kegagalan atau membuat kesalahan, tidak mampu menilai kompetensi diri sendiri secara objektif dan realistis, memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi, cenderung perfeksionis, serta sering mencela atau merendahkan diri sendiri.

Seseorang yang mengalami imposter syndrome juga seringkali mengaitkan pencapaiannya dengan faktor eksternal, alih-alih mengapresiasi usaha atau kemampuannya untuk mencapai hal tersebut. Pernahkah kamu menemui seseorang yang setiap kali dipuji atas keberhasilannya selalu bilang bahwa itu cuma kebetulan atau keberuntungan semata?

Atau mungkin kamu sendiri sering bilang begitu setiap kali mendapatkan apresiasi atas pencapaian kamu? Jika iya, maka bisa jadi kamu telah mengalami gejala imposter syndrome.

Lebih Rentan Dialami Perempuan

Imposter syndrome memang dapat terjadi kepada siapa saja. Namun, perempuan lebih rentan mengalami imposter syndrome daripada laki-laki. Mengapa demikian?

Dalam budaya patriarki, perempuan selalu ditempatkan pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki. Subordinasi perempuan ini terjadi dalam berbagai aspek, termasuk sosial, ekonomi, dan politik. Perempuan dianggap tidak lebih kompeten, produktif, serta profesional daripada laki-laki. Maka dari itu, ketika seorang perempuan berprestasi dan berhasil mencapai sesuatu, seringkali ia justru meragukan dirinya sendiri dan merasa tak pantas mendapatkan pencapaian tersebut. 

Baca juga: GB Community Story – Diremehkan, Siapa Takut?

Berdasarkan hasil survei oleh organisasi AS, Lean In pada tahun 2019, 62% jabatan pada tingkat manajerial dipegang oleh laki-laki, sedangkan perempuan hanya menduduki 38%.  Sementara itu, data dari McKinsey & Company pada tahun 2018 menunjukkan bahwa di Indonesia, hanya ada 20% perempuan yang menduduki posisi manajemen tingkat menengah serta 5% yang berhasil menjabat sebagai CEO dalam suatu perusahaan.

Imposter syndrome juga dapat dipengaruhi oleh aspek identitas lainnya, seperti ras dan etnis, agama, orientasi seksual, dan kelas sosial. Perempuan yang berasal dari kelompok minoritas atau marjinal akan lebih rentan mengalami imposter syndrome. Sebab, selama ini mereka seringkali mendapatkan tindakan diskriminatif atau dinomorduakan, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun di dunia kerja. 

Cara Mengatasi Imposter Syndrome

Imposter syndrome yang tidak segera diatasi dapat menjadi penghambat bagi seseorang untuk berkembang, terutama perempuan. Perempuan enggan mencoba hal baru, mengambil kesempatan, dan menduduki peran penting karena merasa dirinya tak cukup kompeten. 

Lalu, bagaimana caranya untuk mengatasi imposter syndrome?

Tidak Ada yang Sempurna di Dunia Ini

Salah satu gejala imposter syndrome adalah sikap perfeksionis, serta takut berlebihan terhadap kegagalan atau kesalahan. Hal ini tidak hanya membuat kita menyabotase diri, tetapi juga sulit percaya atau bekerja sama dengan orang lain, karena takut mereka tidak dapat memenuhi ekspektasi kita. 

Semua orang pastinya ingin menjadi yang terbaik, dan menghasilkan karya atau pekerjaan yang terbaik pula. Perasaan cemas, takut gagal, dan takut membuat kesalahan itu wajar, kok. Menetapkan standar pencapaian yang tinggi juga oke-oke saja.

Namun, semua itu perlu diimbangi dengan manajemen ekspektasi yang baik. Kita perlu menekankan bahwa pada dasarnya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, begitu pula setiap keputusan yang kita ambil atau hasil pekerjaan yang kita lakukan. 

Berorientasi pada Proses, Bukan Hasil

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, imposter syndrome dapat terjadi karena seseorang terbiasa belajar atau bekerja dengan berorientasi pada hasil (goal-oriented), alih-alih proses untuk mencapai hasil tersebut (process-oriented).

Keberhasilan mencapai suatu tujuan atau prestasi memang penting, tetapi memaknai proses untuk menuju ke sana jauh lebih penting. 

Menanamkan pola pikir process-oriented membuat kita jadi lebih mengapresiasi diri sendiri. Selain itu, kita jadi lebih mudah memetakan kekurangan atau kesalahan yang kita perbuat dalam sebuah proses mencapai atau mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, apabila hasil pekerjaan kita tidak sesuai dengan ekspektasi, akan lebih mudah bagi kita untuk melakukan refleksi dan menentukan langkah-langkah perbaikan ke depannya.

Baca juga: #WomenInspiration: Sukses Berkarier, Para Fashion Designer Perempuan Ini Membuktikan Tak Ada Perjuangan Yang Sia-Sia

Apresiasi Diri Sendiri

Seseorang yang mengalami imposter syndrome sulit menghargai dirinya sendiri, bahkan merasa minder dan tidak pantas sukses. Kurangnya penghargaan terhadap diri sendiri seringkali berawal dari pola asuh, pendidikan, atau lingkungan sekitar.

Bisa jadi sejak kecil kita memang jarang mendapatkan pujian dari orang-orang di sekitar kita, atau kita baru diapresiasi ketika berhasil memiliki pencapaian yang “fantastis”, seperti menang kompetisi tingkat nasional, lulus dengan predikat cum laude, memiliki jabatan tinggi di kantor, dan sebagainya. 

Tidak jarang pula alih-alih mendapatkan pujian, kita justru disepelekan karena dianggap beruntung semata. “Pantas kamu bisa dapat peringkat satu. Sekolahmu ‘kan sekolahannya anak-anak nakal dan malas belajar. Makanya kamu bisa menonjol di sana.” “Wajar kamu bisa lulus cepat dengan IPK tinggi. Jurusan kuliahmu itu memang gampang, nggak perlu banyak berpikir.” “Oh, tempat kamu bekerja itu masih perusahaan baru, ya? Wajar lah ya kamu cepat naik jabatan.”

Mendapatkan validasi dari orang lain memang penting, tapi ingat bahwa semua itu tak ada gunanya apabila kita tidak bisa menghargai diri sendiri. Maka dari itu, jangan terlalu bergantung pada pujian dari orang lain dan mulailah mengapresiasi diri sendiri. Apresiasi kelebihan, keberhasilan, serta kerja keras yang telah kamu lakukan selama ini.

Bangun Support System

Kita semua pasti sudah familiar dengan jargon “women support women” atau “empowered women empower women”. Maraknya imposter syndrome di kalangan perempuan dapat dilawan dengan membangun support system yang kuat di antara kita sendiri. 

Ingatlah bahwa dalam budaya patriarki, setiap perempuan rentan mengalami diskriminasi, meskipun intensitasnya dapat berbeda satu dengan yang lainnya. Diskriminasi gender dalam patriarki bersifat sistemik, sehingga untuk melawannya diperlukan perjuangan yang bersifat kolektif. 

Perempuan yang memiliki privilege pun harus punya kesadaran untuk memberdayakan perempuan lain. Apabila kamu perempuan yang berada pada posisi strategis di sebuah instansi, serta memiliki koneksi dengan key people, maka manfaatkanlah privilege-mu itu untuk membantu sesama perempuan menjadi berdaya. Ciptakanlah sebuah sistem atau lingkungan kerja yang inklusif dan setara bagi setiap orang yang ada di dalamnya. 

Support system yang kuat tidak hanya dapat meminimalisir kemungkinan seorang perempuan mengalami imposter syndrome, tetapi juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi perempuan untuk mencapai kesetaraan dalam berbagai aspek maupun bidang. 

Baca juga: Kisah Perempuan Indonesia yang Sukses Bangun ‘Empire’ Mereka Sendiri

Bicarakan dengan Profesional

Apabila kita merasa bahwa imposter syndrome yang kita alami sudah sangat mengganggu, maka jangan ragu untuk meminta bantuan profesional, ya! Hal ini untuk mengantisipasi agar kondisi kita tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih parah lagi. 

Profesional seperti psikolog klinis akan dapat memberikan saran yang sesuai bagi permasalahan kita, serta menunjukkan langkah-langkah yang dapat kita ambil untuk mengatasi imposter syndrome yang kita alami. 

Nah, itu tadi definisi, penyebab, gejala, serta cara mengatasi imposter syndrome. Stay confident and let’s empower each other, girls!

1 Comment

Leave a Reply