Menu
Career

Susah Cari Kerja? Jangan-jangan Kamu Alami Skills Gap

Hai, girls! Apakah saat ini kamu merasa kesulitan mencari pekerjaan? Padahal IPK bagus, punya pengalaman organisasi dan magang, pokoknya CV kamu udah oke banget. Tapi kok sampai sekarang masih belum ada yang nyantol, ya? Hmm… gimana kalo ternyata masalahnya ada di keterampilan digital kamu?

Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi alias jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibanding populasi lainnya. Yup, pada tahun 2030 yang akan datang, populasi penduduk usia kerja di negara kita diperkirakan akan mencapai lebih dari 208 juta jiwa, dan sekitar 69% di antaranya masuk dalam angkatan kerja. Kondisi ini akan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketujuh di dunia, loh! Keren banget, kan?

Namun ternyata saat ini kita tengah menghadapi masalah serius. Data dari Badan Pusat Statistika (BPS) menyebutkan bahwa per Februari 2022 lalu, angka pengangguran di Indonesia sebanyak 5,83% dari total 208,54 juta penduduk usia kerja. Ironisnya, dari jumlah tersebut, hampir 14% di antaranya merupakan lulusan jenjang pendidikan diploma dan sarjana (S1).

Mengapa ini bisa terjadi? Usut punya usut, tingginya angka pengangguran di kalangan penduduk angkatan kerja meski sudah bergelar sarjana dikarenakan adanya skills gap

Skills gap atau kesenjangan keterampilan merupakan kondisi di mana terdapat perbedaan antara skill yang dikuasai oleh pekerja dengan skill yang dibutuhkan oleh perusahaan. Kondisi ini juga sering dijuluki sebagai mismatch antara keterampilan pekerja dengan kebutuhan dunia kerja.

Skills gap merupakan masalah yang tidak dapat dipandang sebelah mata, karena dapat menyebabkan terhambatnya kemajuan perusahaan, naiknya angka pengangguran, serta lambatnya pertumbuhan ekonomi negara. 

Baca juga: 10 Prodi Langka Ini Cuma Ada Satu di Indonesia

Penyebab Skills Gap

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa skills gap bisa terjadi? Sebuah laporan dari Wiley Education Services and Future Workplace pada tahun 2019 menemukan bahwa salah satu faktor utama penyebab skills gap adalah adanya perubahan teknologi.

Seperti yang kita ketahui, digitalisasi terjadi begitu cepat dan pesat selama beberapa tahun terakhir. Digitalisasi terjadi dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya, dulu handphone cuma bisa buat telepon dan mengirim SMS. Sekarang, handphone sudah bisa digunakan untuk mengambil foto dan video, mengakses layanan keuangan, bermain game, mengirim email, memesan transportasi online, membayar pajak, dan masih banyak lagi.

Bahkan sekarang handphone lebih akrab disebut dengan istilah smartphone atau telepon pintar dikarenakan begitu banyaknya fungsi yang dimiliki. Makanya, muncul frasa “dunia berada dalam genggaman” karena bermodalkan satu smartphone saja, kita bisa melakukan begitu banyak hal secara praktis, efektif, dan efisien. 

Kemajuan teknologi yang begitu pesat tidak hanya memudahkan manusia dalam melakukan banyak hal, tetapi juga “mengambil alih” lapangan pekerjaan. Banyak sekali pekerjaan yang dulu hanya bisa dilakukan oleh manusia, tetapi sekarang dapat dilakukan oleh mesin dengan lebih cepat dan tepat.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bahkan telah memperkirakan bahwa pada tahun 2025 nanti akan muncul 97 juta pekerjaan baru, sekaligus hilangnya 85 juta pekerjaan lama sebagai buah dari transformasi digital. Dalam kata lain, seiring berjalannya waktu, persaingan dalam dunia kerja tidak hanya terjadi antara sesama manusia saja, tetapi kita juga harus bersaing dengan mesin dan algoritma.

Mengatasi Skills Gap

Terjadinya skills gap disebabkan oleh ketidakmampuan populasi angkatan kerja dalam beradaptasi di era digital. Namun apabila ditelusuri lebih jauh, ternyata skills gap bukan cuma persoalan individu, melainkan sebuah masalah yang bersifat sistemik.

Sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini masih belum optimal dalam mencetak lulusan yang memiliki literasi digital mumpuni. Keterampilan yang berkaitan dengan teknologi yang diajarkan di lembaga pendidikan umumnya masih bersifat teoritis dan hanya mencakup hal-hal yang mendasar saja.

Secara nasional, hanya 50% dari angkatan kerja yang telah menguasai keterampilan digital dasar, dan 1% yang memiliki keterampilan tingkat lanjut. Sementara itu, menurut Bank Dunia, Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital yang harus bisa dipenuhi dalam kurun waktu 15 tahun ke depan apabila kita tidak ingin mengalami ketertinggalan. 

Maka dari itu, menjawab tantangan Indonesia mengenai skills gap berarti mengubah sistem pendidikan yang saat ini berlaku di negara kita. Hal ini sudah mulai dilakukan oleh Kemendikbudristek melalui program Merdeka Belajar. Pemberlakuan program tersebut mencakup penghapusan Ujian Nasional (UN), yang kemudian digantikan oleh Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter. Salah satu keterampilan yang diujikan ialah literasi digital.

Namun, pelatihan literasi digital tidak hanya diberikan kepada peserta didik saja, tetapi juga diperuntukkan para tenaga pengajar. Sebagai pihak yang turun tangan secara langsung dalam mendidik murid, para guru tentunya perlu dibekali juga dengan keterampilan digital yang mumpuni. 

Kemkominfo juga turut ambil bagian dalam upaya memangkas skills gap di Indonesia melalui program Digital Talent Scholarship, sebuah program pelatihan digital bagi anak muda di seluruh Indonesia. Program tersebut mencakup tema-tema besar, seperti keamanan siber (cybersecurity), kecerdasan buatan (artificial intelligence), mahadata (big data), komputasi awan (cloud computing), serta programming. Digital Talent Scholarship secara garis besar dibagi menjadi 8 akademi dengan target populasi yang berbeda-beda, di antaranya adalah fresh graduate serta lulusan pendidikan vokasi.

Upaya mengatasi skills gap di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga berbagai komunitas masyarakat hingga lembaga/instansi yang berasal dari sektor swasta. Kamu sendiri mungkin sudah menyadari bahwa selama beberapa tahun belakangan, program-program berbentuk bootcamp, workshop, webinar, dan lain sebagainya banyak diselenggarakan. Program tersebut biasanya mengangkat tema yang terkait dengan keterampilan digital, seperti copywriting, digital marketing, content writing, data analyst, dan masih banyak lagi.

Dengan waktu yang terbilang singkat dan biaya yang relatif terjangkau, kamu bisa mendapatkan pelatihan intensif untuk mengasah keterampilan digital kamu, yang mungkin di tahun-tahun sebelumnya secara eksklusif hanya bisa didapatkan oleh mahasiswa jurusan IT saja. Bahkan ada pula sejumlah komunitas atau lembaga yang mengadakan pelatihan secara cuma-cuma alias gratis. 

Baca juga: ESMOD Jakarta Ajak Anak Muda Mengulik Dunia Content Creator

Skills & Gender Gap di Bidang STEM

Selain skills gap secara umum, isu yang tidak kalah penting adalah menjawab tantangan kesetaraan gender di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, & Mathematics) atau Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika. Lebarnya jurang kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam empat bidang tersebut tidak hanya menjadi masalah di Indonesia, tetapi juga secara global.

Saat ini, hanya ada 35% mahasiswa perempuan yang menimba ilmu di bidang STEM di seluruh penjuru dunia. Sementara itu, hanya 3% perempuan yang berhasil memasuki prodi Teknologi Informasi dan Komunikasi. Dari jumlah yang sangat sedikit itu pun, belum tentu mereka mendapatkan pekerjaan di bidang STEM ketika lulus nantinya.

Padahal Bank Dunia memperkirakan bahwa perempuan berkontribusi hingga 37% terhadap produk domestik bruto (PDB) global. Di era transformasi digital ini, apabila kesenjangan gender di bidang STEM tidak segera ditangani, pada akhirnya perekonomian nasional maupun global jugalah yang akan terdampak. 

Sulitnya bagi perempuan untuk masuk ke bidang STEM salah satunya dikarenakan ada anggapan bahwa perempuan lebih banyak menggunakan perasaan daripada logika, sehingga tidak akan cocok melakukan pekerjaan-pekerjaan di bidang tersebut. Selain itu, banyak pekerjaan dalam bidang STEM yang membutuhkan kekuatan fisik, dan lagi-lagi perempuan dianggap lebih lemah daripada laki-laki.

Baca juga: GB Community Story – Diremehkan, Siapa Takut?

Minimnya partisipasi perempuan dalam bidang STEM akhirnya menjadikan pendidikan maupun pekerjaan dalam bidang tersebut seringkali bernuansa maskulin, dan rentan akan terjadinya praktik-praktik seksisme maupun kekerasan berbasis gender. Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang sudah berhasil masuk dalam bidang STEM memutuskan untuk mundur karena merasa tidak aman dan nyaman dengan lingkungan sekitarnya.

Karenanya, mewujudkan kesetaraan gender dalam bidang STEM bukan hanya perihal memberi kesempatan sebanyak-banyaknya dan akses seluas-luasnya bagi perempuan, tetapi juga memastikan terciptanya lingkungan pendidikan dan kerja yang aman, inklusif, dan setara. Saat ini, pelatihan teknologi dan keterampilan digital khusus perempuan semakin menjamur di Indonesia.

Kemkominfo sendiri misalnya, mengadakan pelatihan bertajuk “Women in Tech: Cybersecurity and Phyton” yang bekerja sama dengan Cisco Networking. Pelatihan tersebut diikuti oleh perempuan dari seluruh penjuru Indonesia yang berusia 17-40 tahun dengan pendidikan terakhir minimal SMA/SMK/sederajat. 

Ada pula komunitas yang diinisiasi oleh masyarakat sipil, seperti PurpleCode Collective yang memiliki visi untuk mewujudkan “internet feminis” atau dunia digital yang menjunjung nilai-nilai kesetaraan serta inklusivitas. PurpleCode Collective biasa membagikan wawasan terkait dengan dunia digital melalui akun Instagram mereka, mengadakan diskusi daring, hingga merilis panduan mengatasi dan menangani kekerasan berbasis gender online (KBGO). Komunitas seperti PurpleCode Collective memang tidak memberikan pelatihan keterampilan digital secara eksklusif dan intensif, tetapi bisa jadi tempat yang tepat bagi kamu untuk belajar lebih banyak mengenai dunia digital dari kacamata feminisme.

Baca juga: The Power of Women Empowerment

Persoalan skills gap di Indonesia memang masih sangat rumit dan butuh waktu untuk menyelesaikannya, tetapi bukan berarti mustahil. Sebagai bagian dari populasi angkatan kerja, kita pun harus optimis dan terlibat aktif dalam menyelesaikan masalah ini. Yuk, kita sama-sama jadi agen perubahan dalam era digital!

No Comments

    Leave a Reply