Menu
Mental Health

Halu Pacaran sama Idola Wajar Nggak, Sih? Serba-serbi Hubungan Parasosial ala Penggemar K-Pop

Apakah kamu termasuk penggemar K-Pop? Beberapa tahun terakhir, genre musik asal Korea Selatan tersebut memang sangat populer di seluruh penjuru dunia, nggak terkecuali Indonesia. Bahkan sekarang ini artis K-Pop nggak cuma sekadar datang ke Indonesia untuk menggelar konser atau menghadiri festival musik, tetapi juga didapuk menjadi bintang iklan sejumlah produk lokal, mulai dari kosmetik, skincare, sampai aplikasi ojek online

Nah, bicara soal K-Pop, kamu pastinya sudah nggak asing lagi dengan istilah “halu”. “Halu” merupakan kependekan dari kata “halusinasi” yang dalam KBBI diartikan sebagai pengalaman indra tanpa adanya perangsang pada alat indra yang bersangkutan, misalnya mendengar suara tanpa ada sumber suara tersebut. Tapi, halusinasi atau halu di sini merujuk pada kebiasaan seorang penggemar untuk berkhayal atau berimajinasi mengenai idola mereka. Misalnya, berkhayal jadi pacar sang idola, membayangkan gimana jadinya kalau idola mereka menjadi teman kuliah mereka alih-alih jadi artis, dan masih banyak lagi. 

“Halu” seolah telah menjadi bagian dari aktivitas fangirling ala para penggemar K-Pop saat ini.

Sebenarnya, halu ini nggak cuma terbatas hanya dalam komunitas penggemar K-Pop, tapi bisa dikatakan mereka adalah yang pertama mempopulerkan istilah tersebut. Halu juga nggak terbatas pada berimajinasi pacaran dengan idola. Nggak sedikit penggemar yang mengkhayalkan idola mereka sebagai kakak, adik, orang tua, sahabat, anak, rekan kerja, dan sebagainya. Dalam kata lain, seorang penggemar seringkali membangun sebuah hubungan parasosial dengan idola mereka melalui kegiatan ber-halu ria tersebut.

Apa Itu Hubungan Parasosial?

Hubungan parasosial merupakan sebuah relasi interpersonal antara dua pihak yang secara emosional hanya berdampak pada salah satu di antara mereka. Hubungan ini umumnya terjadi di antara audiens dengan media figure atau persona. Media figure yang dimaksud di sini bisa bermacam-macam, termasuk selebriti dan karakter fiksional.

Lalu, apa bedanya hubungan parasosial dengan hubungan antarmanusia pada umumnya? Jika dalam relasi pada umumnya kedua pihak yang terlibat sama-sama memiliki kekuatan untuk membangun intimasi, maka tidak demikian dalam hubungan parasosial. Dalam relasi tersebut, media figure merupakan satu-satunya pihak yang memiliki kemampuan untuk membangun kedekatan dan ikatan emosi dengan audiens yang kemudian akan memberikan reaksi sehingga terjadilah hubungan parasosial.

Konsep interaksi parasosial ini pertama kali dicetuskan dan dikaji oleh D. Horton dan R. Wohl dalam sebuah jurnal ilmu kejiwaan bertajuk “Mass Communication and Para-social Interaction: Observation on Intimacy at A Distance” pada tahun 1956. Mereka menyebutkan bahwa hubungan parasosial merupakan ilusi yang ditimbulkan oleh media massa. Namun, A. Marwick dan D. Boyd pada tahun 2011 menyatakan bahwa di masa sekarang, hubungan parasosial diperkuat oleh eksistensi media sosial yang seakan-akan membuat relasi antara idola dengan penggemar menjadi lebih intim.

Kehadiran media sosial mempermudah terbentuknya hubungan parasosial antara idola dengan penggemar.

Hubungan Parasosial dalam K-Pop

Kembali ke soal K-Pop, kenapa sih penggemar K-Pop itu sering banget mengalami relasi parasosial dengan idolanya? Salah satu ciri khas K-Pop adalah fan service alias “layanan” atau tindakan yang sengaja dilakukan oleh idola untuk menyenangkan penggemarnya. Fan service hadir dalam berbagai macam bentuk, baik secara fisik (bergandengan tangan, memeluk, melakukan kontak mata, dll.) maupun verbal (adu gombal, memuji, menulis atau menyebutkan nama penggemar sembari diikuti dengan kata-kata cinta, dll.).

Fan service juga hadir dalam bentuk tindakan mengirim foto serta menyapa dan mengobrol dengan penggemar melalui platform media sosial. Bahkan saat ini sudah banyak platform media sosial yang dibuat khusus untuk memfasilitasi interaksi antara idola K-Pop dengan para penggemarnya, di antaranya Weverse, Bubble, serta VLive. 

Interaksi antara idola K-Pop dengan penggemarnya melalui platform media sosial Weverse.
(Source: @teuverse_id on Twitter)

Fan service nggak cuma hadir melalui cara idola berinteraksi dengan para penggemarnya, tetapi juga dalam bentuk konten yang disajikan. Misalnya, dalam dunia K-Pop dikenal istilah “boyfriend/girlfriend pictures”, yaitu foto yang diambil dengan angle seolah-olah orang yang menjadi objek foto tersebut dipotret oleh pacarnya. Foto-foto tersebut juga biasanya didukung dengan penampilan maupun pose si objek foto yang seolah dirinya sedang pergi berkencan.

“Boyfriend pictures” merupakan salah satu bentuk konten fan service yang sering diberikan oleh artis K-Pop terhadap para penggemarnya.
(Source: @sound_of_coups on Instagram)

Melalui fan service, selebriti K-Pop dapat membuat para penggemarnya merasa dekat dengan mereka, sehingga terbangun ikatan emosional antara sang idola sebagai media figure dan penggemar selaku audiens. Berbeda dengan industri musik pada umumnya, K-Pop memang dikenal nggak cuma “jualan” lagu atau performance di panggung. Dari segi bisnis, membangun hubungan parasosial melalui fan service adalah trik industri K-Pop untuk memupuk loyalitas penggemar kepada para idolanya.

Nah, seperti hubungan pada umumnya, orang yang terlibat dalam hubungan parasosial juga bisa mengalami putus atau parasocial breakup. Parasocial breakup terjadi ketika seorang penggemar merasa kehilangan idolanya. Hal ini juga bisa terjadi ketika audiens atau penggemar tidak lagi mengikuti atau menggandrungi si media figure seperti dahulu. Kalau dalam dunia K-Pop, parasocial breakup sering terjadi ketika seseorang punya bias atau idola baru yang lebih digandrungi daripada idola sebelumnya. Parasocial breakup di kalangan penggemar K-Pop juga bisa terjadi ketika sang idola vakum untuk melaksanakan wajib militer, memiliki pasangan, terkena skandal, pensiun dari dunia hiburan, keluar dari grup, maupun grup yang disukai bubar. 

Idola K-Pop yang vakum untuk melaksanakan wajib militer dapat membuat penggemarnya mengalami parasocial breakup.

Parasocial breakup juga bisa terjadi dalam relasi parasosial dengan karakter fiksional, loh. Misalnya, ketika series atau cerita favorit kamu sudah tamat, atau karakter favorit kamu yang ada di dalamnya nggak lagi menjadi bagian dari cerita. Sama seperti putus cinta pada umumnya, parasocial breakup juga dapat memberikan dampak secara emosional berupa rasa sedih, kecewa, marah, dan sebagainya. 

Hubungan Parasosial Normal Nggak, Sih?

Nah, sekarang mungkin kamu lagi bertanya-tanya, sebenarnya hubungan parasosial itu normal nggak, sih? Jawabannya, normal banget! Menjalin relasi parasosial dengan persona ciptaan media memiliki sejumlah dampak positif, di antaranya meningkatkan rasa percaya diri, membentuk identitas diri, memperoleh rasa aman, dan masih banyak lagi. Hubungan parasosial juga bisa jadi sarana buat kamu untuk lebih mencintai diri sendiri, loh! Misalnya, ketika kamu berkhayal pacaran dengan idolamu, kamu pasti akan membayangkan bagaimana kamu ingin diperlakukan oleh pasanganmu, hal-hal apa saja yang membuat pasanganmu jatuh cinta denganmu, dan sebagainya. Bahkan mungkin saja kamu membuat surat atau pernyataan cinta yang seakan-akan ditulis oleh idola yang kamu anggap sebagai pasanganmu itu. 

Hubungan parasosial bisa menjadi sarana self-love bagi kita.

Baca juga: How Being a Fangirl Changed My Life

Hubungan parasosial juga bisa jadi awal mula seseorang berkarya, loh. Sebagai penggemar K-Pop, kamu pastinya sudah nggak asing dengan yang namanya fiksi penggemar atau fanfiction, atau yang belakangan ini lebih sering disebut alternate universe (AU) alias semesta alternatif. Nah, banyak banget penggemar K-Pop yang menulis fanfiction sebagai cara bagi dirinya untuk mengungkapkan perasaan terhadap sang idola. Ada juga yang mengekspresikan perasaannya dalam bentuk karya-karya lain, seperti fan art atau fan-made video edits. Karya-karya seperti ini nggak cuma jadi sarana bagi kita untuk mengungkapkan relasi parasosial kita dengan idola, tetapi juga bisa menjadi bentuk hiburan bagi sesama penggemar. 

Namun, seperti kata pepatah lama bahwa semua yang berlebihan itu nggak baik, begitu pula dengan hubungan parasosial. Pada titik tertentu, hubungan parasosial bisa jadi justru berdampak negatif buat kamu maupun orang-orang di sekitar kamu. Contohnya, muncul obsesi terhadap idolamu, sehingga kamu mulai nggak bisa membedakan kenyataan dengan imajinasi. Obsesi tersebut seringkali bikin kamu jadi membangun fantasi sendiri mengenai persona idolamu, hingga kamu bersikap denial pada realita yang ada. Hal seperti bisa bikin kamu punya persepsi bahwa idolamu selalu benar dan tanpa cela. 

Seseorang dapat memiliki obsesi berlebihan terhadap idolanya akibat hubungan parasosial.

Sama seperti selebriti pada umumnya, artis K-Pop nggak luput dari kesalahan dan nggak sedikit di antara mereka yang pernah terlibat skandal, baik itu kasus bullying, kekerasan seksual, perbuatan kurang sopan, dan sebagainya. Nah, ketika skandal seorang artis K-Pop terungkap di media dan ramai diperbincangkan, pasti ada aja penggemar yang mati-matian membela artis yang bersangkutan. Nggak jarang mereka ngotot idolanya benar dengan sejuta alasan, mulai dari mengklaim terjadi kesalahan penerjemahan atau interpretasi pada berita yang beredar, sampai menuduh ini semua cuma akal-akalan haters yang ingin menjegal karir sang idola. 

Selain itu, hubungan parasosial yang nggak sehat juga bisa bikin kamu posesif sama idola kamu. Di kalangan penggemar K-Pop, perilaku ini sering dijuluki sebagai perilaku bias is mine atau BIM. Kamu nggak suka ketika ada orang lain yang menggemari idola kamu, kamu iri terhadap penggemar idolamu yang bisa melakukan hal-hal yang nggak bisa kamu lakukan (nonton konser, ikut fanmeeting atau fansign, komentarnya dibalas oleh idolamu di media sosial, dll.), atau bahkan kamu nggak terima ketika idolamu dijodoh-jodohkan dengan sesama artis, maupun dirumorkan atau dikonfirmasi tengah menjalin hubungan dengan seseorang. 

Sikap obsesif dan posesif ini berpotensi berkembang menjadi perbuatan agresif yang merugikan serta membahayakan orang lain. Misalnya, kamu nggak terima idolamu punya pacar, lalu kamu menyerang pacar idolamu itu dengan melakukan berbagai macam kejahatan siber, seperti pelecehan verbal, doxxing, ujaran kebencian, death threats (ancaman pembunuhan), dan sebagainya. 

Hubungan parasosial yang toxic bisa menjadi penyebab seseorang melakukan cyberbullying atau cybercrime.

Nah, karenanya kamu harus berhati-hati ketika merasa bahwa hubungan parasosial yang kamu miliki dengan idolamu mulai menjadi toxic. Jika kamu merasa nggak bisa mengatasi masalahmu sendiri, kamu bisa berkonsultasi dengan tenaga profesional. Dengan begitu, hubungan parasosial “beracun” yang kamu alami nggak lantas berkembang jadi masalah kejiwaan maupun sosial yang lebih serius serta merugikan dan membahayakan dirimu sendiri maupun orang lain. 

Pada dasarnya, mengidolakan seseorang seharusnya menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan. Jadi, jangan sampai hubungan parasosial kamu dengan idola justru bikin kamu merasa sebaliknya, ya.

Baca juga: An Unexpected Way to Learn about Yourself: My Fangirling Journey

Mau bahas lebih banyak seputar hubungan parasosial dengan idola? Yuk, kita bahas bareng di Girls Beyond Circle! Klik di sini untuk bergabung, ya!

No Comments

    Leave a Reply