Menu
Mental Health

Sering Halu sama Idola? Kenalan dengan Maladaptive Daydreaming

“Dasar penggemar K-Pop tukang halu! Ke psikolog sana!” Hai, kamu para penggemar K-Pop! Sering banget nggak, sih mendapat cibiran seperti itu? 

Ya, menjadi seorang penggemar K-Pop memang sering dikaitkan dengan aktivitas berkhayal mengenai idola. Hal ini karena industri K-Pop membangun hubungan parasosial antara penggemar dengan idolanya sebagai bagian dari strategi marketing mereka. Hubungan parasosial dapat memupuk loyalitas penggemar dikarenakan adanya perasaan dekat atau intim dengan sang idola. Aktivitas “halu” ini juga didukung dengan maraknya fiksi penggemar (fanfiction) atau alternative universe (AU) di kalangan penggemar K-Pop. 

Penggemar K-Pop seringkali berimajinasi tentang “bagaimana jika sang idola berada di sekitar mereka”. Entah sebagai teman, pasangan, bahkan anggota keluarga. Imajinasi tersebut kadang nggak berhenti sampai di situ saja, melainkan memiliki sebuah alur. Gimana, sih awalnya kok bisa kenal sama si idola? Terus kapan dia mulai sadar kalau naksir sama kamu? Abis itu ditembaknya gimana? Waktu udah jadian, biasanya pacarannya ngapain aja? 

Aktivitas “halu” alias berkhayal tentang idola seringkali dicibir karena dianggap nggak normal.

Nah, aktivitas “halu” inilah yang kerap dianggap nggak wajar oleh sebagian orang. Bahkan nggak sedikit yang menilai penggemar K-Pop yang suka “halu” punya gangguan kejiwaan. Waduh, apa benar begitu? 

Faktanya, berkhayal adalah hal yang lumrah dilakukan oleh manusia. Siapa saja pasti pernah berkhayal, meskipun khayalannya terbilang sepele. Misalnya, pernah nggak, sih kamu lagi bosen di kelas terus berkhayal tiba-tiba ada pesawat jatuh di lapangan sekolahmu? Atau berharap ada uang segepok jatuh dari langit. Mungkin juga kamu pernah berandai-andai suatu hari nanti punya jet dan kapal pesiar pribadi. Itu semua termasuk khayalan, lho.

Lalu, khayalan yang nggak wajar itu seperti apa? Nah, ini saatnya kamu kenalan dengan maladaptive daydreaming

Baca juga: Halu Pacaran sama Idola Wajar Nggak, Sih? Serba-serbi Hubungan Parasosial ala Penggemar K-Pop

Apa Itu Maladaptive Daydreaming?

Maladaptive daydreaming adalah perilaku melamun yang nggak wajar. Lamunan yang dimiliki bisa sangat intens dan berlangsung cukup lama. Karenanya, nggak jarang hal ini mengganggu aktivitas, serta pikiran dan perasaan orang yang melakukannya. 

Istilah maladaptive daydreaming pertama kali dicetuskan oleh Prof. Eliezer Somer dari Universitas Haifa, Israel pada tahun 2002. Meski begitu, kondisi ini belum dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan dalam panduan penegakkan diagnosis penyakit mental, DSM edisi ke-5 tahun 2013. Namun, maladaptive daydreaming bisa menjadi gejala dari sebuah gangguan kejiwaan, seperti ADHD, depresi, gangguan kecemasan, gangguan disosiatif, maupun OCD.

Maladaptive daydreaming berbeda dengan halusinasi. Seseorang yang mengalami halusinasi mendengarkan suara atau melihat sesuatu yang nggak bisa mereka kendalikan maupun bedakan dengan realita. Sebaliknya, seseorang yang mengalami maladaptive daydreaming sadar bahwa apa yang ia imajinasikan adalah khayalan semata. 

Tanda-tanda Maladaptive Daydreaming

Seperti yang sudah disebutkan, maladaptive daydreaming berbeda dengan lamunan biasa maupun halusinasi. Umumnya, maladaptive daydreaming bersifat kompleks dan intens, serta berdurasi cukup panjang. Selain itu, kondisi ini sengaja dibuat atau dilakukan oleh seseorang.

Berikut adalah tanda-tanda kamu tengah mengalami maladaptive daydreaming:

Kompleks

Lamunan yang dialami ketika mengalami maladaptive daydreaming umumnya bersifat kompleks. Lamunan tersebut layaknya sebuah skenario film atau cerita yang memiliki alur, tokoh, hingga latar yang sangat detail. Rasanya seolah-olah kamu sedang memutar sebuah film di dalam kepalamu. 

Durasi Panjang

Karena lamunannya cenderung kompleks, umumnya maladaptive daydreaming berlangsung cukup lama. Bahkan durasinya bisa sampai berjam-jam hingga menyita waktu dan mengganggu rutinitas. 

Intens

Lamunan dalam maladaptive daydreaming juga dapat bersifat sangat intens. Lamunan tersebut bisa membuatmu merasakan berbagai emosi, serta menunjukkan beragam ekspresi. Nggak jarang seseorang yang mengalami maladaptive daydreaming mendapati dirinya tertawa sendiri atau tiba-tiba menangis karena terbawa suasana. Kamu juga mungkin tanpa sadar berbicara sendiri ketika sedang mengalami maladaptive daydreaming.

Sengaja Dilakukan

Nah, ini dia yang membedakan maladaptive daydreaming dengan lamunan biasa atau halusinasi. Biasanya seseorang dengan sengaja melakukan maladaptive daydreaming. Itulah sebabnya kamu tetap bisa membedakan realita dengan khayalan meskipun lamunan yang kamu alami sangatlah kompleks dan intens. 

Baca juga: Patah Hati karena Idola? Kenalan dengan Parasocial Breakup dan Cara Menghadapinya

Penyebab Maladaptive Daydreaming

Hingga kini, penyebab seseorang mengalami maladaptive daydreaming belum diketahui secara pasti. Prof. Eliezer Somer menyebutkan bahwa hal ini dapat berawal dari lamunan biasa yang berkembang secara bertahap. 

Namun, ada pula hipotesis bahwa seseorang melakukan maladaptive daydreaming sebagai bentuk coping mechanism. Misalnya, kamu sedang mengikuti seminar yang sangat membosankan. Namun, kamu nggak bisa melakukan apa-apa selain duduk manis di bangkumu. Akhirnya, kamu melakukan maladaptive daydreaming untuk mengatasi rasa jenuh. 

Selain itu, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, maladaptive daydreaming juga dapat disebabkan oleh gangguan kejiwaan tertentu.

Dampak Maladaptive Daydreaming

Maladaptive daydreaming memang bukan merupakan gangguan kejiwaan. Namun, nggak jarang perilaku atau kondisi ini membawa dampak negatif terhadap diri kita. Berikut adalah sejumlah dampak negatif yang disebabkan oleh maladaptive daydreaming:

  • Mengurangi kualitas tidur 
  • Menghambat aktivitas sehari-hari
  • Mengganggu relasi dengan orang lain
  • Menurunkan performa atau kualitas kinerja 

Baca juga: Hindari Self Diagnosis, Segera ke Psikolog atau Psikiater Kalau Kamu Alami 10 Gejala Ini

Mencegah Maladaptive Daydreaming

Perilaku maladaptive daydreaming dapat dicegah agar nggak sampai mengganggu kehidupanmu sehari-hari. Kamu bisa melakukan beberapa cara di bawah ini untuk mencegah maladaptive daydreaming.

Perbaiki Kualitas Tidur

Seseorang seringkali melakukan maladaptive daydreaming di malam hari. Akibatnya, kualitas tidur mereka berkurang dan aktivitas sehari-hari mereka jadi terganggu. Tidur yang nggak berkualitas juga bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. Maka dari itu, kamu perlu memperbaiki kualitas tidurmu sebagai cara mencegah maladaptive daydreaming. Jika kamu kesulitan tidur, kamu bisa melakukan aktivitas seperti journaling atau mendengarkan musik yang menenangkan pikiran. Selain itu, kamu bisa mengurangi konsumsi kafein yang bikin kamu sulit tidur di malam hari.

Terapkan Mindfulness

Mindfulness adalah praktik untuk meningkatkan fokus terhadap apa yang ada dan terjadi di sekeliling kita saat ini. Praktik ini biasa dianjurkan bagi orang yang memiliki kecemasan terhadap masa depan atau sulit move on dari masa lalu. Namun, kamu juga bisa menerapkan mindfulness untuk mencegah maladaptive daydreaming

Isi Waktu dengan Kegiatan Produktif

Seseorang kerap melakukan maladaptive daydreaming ketika merasa jenuh atau gabut. Karenanya, kamu bisa mengisi waktu luang dengan berbagai kegiatan produktif. Misalnya, membaca buku, memasak, bersih-bersih, dan sebagainya. Hal ini dapat menghindarkan kamu dari perilaku maladaptive daydreaming.

Jika maladaptive daydreaming yang kamu alami semakin mengganggu kegiatan sehari-hari maupun pikiran dan suasana hatimu, maka jangan ragu untuk segera berkonsultasi ke psikolog. Sebab, seperti yang sudah disebutkan, perilaku ini bisa jadi merupakan gejala dari kondisi kesehatan mental yang lebih serius. 

Baca juga: Kepo Berlebihan Berujung Malapetaka: Kenalan dengan Doomscrolling

Kalau kamu butuh safe space untuk ngomongin seputar isu kesehatan mental, kamu bisa bergabung dengan Girls Beyond Circle. Klik di sini untuk gabung, ya!

No Comments

    Leave a Reply