Menu
Entertainment

Hari Penyandang Disabilitas Internasional: Rekomendasi Film yang Angkat Tema Disabilitas

Setiap tahun, tanggal 3 Desember diperingati sebagai Hari Penyandang Disabilitas Internasional. Salah satu tujuan peringatan ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menciptakan dunia yang lebih inklusif dan setara bagi para penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas masih sering mengalami diskriminasi dalam berbagai aspek di tengah masyarakat. Stigma-stigma negatif pun kerap dilekatkan kepada mereka. Bahkan tak jarang mereka dipandang sebagai objek untuk dieksploitasi. 

Di bawah ini merupakan sejumlah film yang menampilkan tokoh serta mengangkat isu seputar disabilitas. Tak hanya itu, mereka juga memberikan representasi yang baik mengenai penyandang disabilitas. Apa saja kira-kira?

Miracle in Cell No. 7 (2022)

Dodo Rozak merupakan seorang pria penyandang disabilitas intelektual. Ia hidup bersama anak perempuannya yang bernama Kartika. Suatu hari, Dodo tak sengaja terlibat dalam insiden yang menewaskan putri semata wayang politikus ternama, William Wibisono. Dodo pun dijebloskan ke penjara dan divonis hukuman mati. 

Awalnya, pihak kepolisian maupun para napi di sana membenci Dodo karena telah melakukan perbuatan keji. Namun, mereka semakin skeptis tatkala menyaksikan keluguan dan kebaikan Dodo. Akhirnya, mereka pun menyadari bahwa Dodo hanya dijebak untuk kepentingan politik William yang hendak mencalonkan diri sebagai gubernur. Mereka berusaha membantu Dodo yang saat itu hendak mengajukan banding. Namun, di hari persidangan, Dodo dihadapkan dengan dilema: membela diri atau menyelamatkan Kartika. 

Baca juga: Rekomendasi Film Indonesia yang Bicara soal Hubungan Orang Tua dan Anak

Walk. Ride. Rodeo. (2019)

Amberley Snyder merupakan seorang atlet rodeo muda nan berbakat asal Utah, Amerika Serikat. Prestasinya sudah diakui secara nasional. Suatu hari, ia mengalami kecelakaan tunggal yang membuatnya lumpuh dari pinggang ke bawah. Dokter menyatakan bahwa Amberley akan bergantung pada kursi roda seumur hidupnya.

Tak mudah bagi Amberley untuk menerima hidup barunya sebagai penyandang disabilitas, terlebih ia sedang berada di puncak kariernya. Ia tetap melatih dirinya agar bisa melakukan rodeo meskipun separuh tubuhnya lumpuh. Dalam segala keterbatasannya, Amberley mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi rodeo bergengsi, The American Rodeo.

Wonder (2017)

Auggie Pullman merupakan seorang anak laki-laki yang mengidap penyakit langka, mandibulofacial dysostosis. Ia memiliki bentuk wajah yang berbeda dari orang pada umumnya. Selama ini, Auggie menempuh pendidikan melalui homeschooling, tetapi ketika ia naik ke kelas 5 SD, orang tuanya memutuskan untuk mendaftarkan Auggie ke sekolah swasta umum. 

Di sekolah baru, Auggie sering di-bully karena disabilitas yang disandangnya. Ia hanya punya satu orang teman bernama Jack. Suatu hari, Auggie tak sengaja mendengar Jack meledeknya di hadapan teman-teman mereka yang lain. Auggie menjauhi Jack dan berteman dengan seorang gadis bernama Summer, yang membantu keduanya berbaikan. Namun, masalah kembali muncul ketika seorang anak bernama Julian mulai melakukan bullying terhadap Auggie. 

Baca juga: Apa Itu Inner Child dan Mengapa Bisa Terluka?

My Annoying Brother (2016)

Doo-young merupakan atlet nasional yang mengalami kebutaan pasca insiden di sebuah kompetisi judo internasional. Akibatnya, ia terpaksa pensiun dini di tengah puncak kariernya. Sang kakak yang merupakan napi, Doo-shik memanfaatkan disabilitas Doo-young agar mendapatkan pembebasan bersyarat. 

Sejatinya, Doo-shik dan Doo-young tak pernah benar-benar akur. Doo-young selalu berusaha menghindari Doo-shik yang sejak dulu terkenal problematis. Namun, lambat laun Doo-young mulai membuka hati terhadap kakak laki-lakinya tersebut. Di saat yang sama, Doo-shik didiagnosis dengan kanker stadium lanjut dan tak punya banyak waktu tersisa. Sementara itu, Doo-shik telah berjanji akan membantu Doo-young yang hendak mengikuti Paralimpiade Rio. 

The Theory of Everything (2014)

Stephen Hawking memiliki segalanya. Ia adalah mahasiswa berprestasi di jurusan astrofisika Universitas Cambridge yang sedang menyelesaikan skripsi mengenai black holes. Saat ini, ia mulai menjalin hubungan dengan mahasiswi jurusan sastra bernama Jane Wilde. Namun, suatu hari Stephen didiagnosis dengan amyotrophic lateral sclerosis (ALS) yang menyebabkan saraf-sarafnya melemah. Penyakit ALS tidak memiliki obat, dan lambat laun Stephen akan kehilangan kemampuan bergerak, menelan, bahkan bernapas. Meski penyakit ini tak memengaruhi kemampuan berpikir Stephen, tetapi ia tak akan bisa mengkomunikasikannya lagi dengan orang lain.

Vonis tersebut membuat Stephen seketika kehilangan semangat hidupnya. Namun, Jane berusaha menyemangatinya dan berjanji akan setia mendampingi Stephen apa pun yang terjadi. Keduanya pun menikah dan memiliki tiga orang anak. Kecerdasan Stephen sontak membuatnya naik daun layaknya seorang selebriti. Di satu sisi, Jane yang harus mengurus anak, merawat Stephen, dan beradaptasi dengan popularitas suaminya mulai merasa tertekan. 

Baca juga: Rekomendasi Film tentang Kemerdekaan Perempuan yang Wajib Kamu Tonton

Still Alice (2014)

Alice Howland merupakan seorang profesor linguistik di Universitas Columbia. Ia memiliki karier cemerlang dan keluarga bahagia bersama suaminya, John dan ketiga anak mereka yang telah beranjak dewasa, Anna, Tom, dan Lydia. Suatu hari, Alice didiagnosis penyakit Alzheimer. 

Setiap hari, Alice berusaha untuk terus melatih ingatannya dengan menjawab daftar pertanyaan yang ia catat di ponselnya. Di sisi lain, penyakit yang ia derita terus berkembang dan memengaruhi kehidupannya. Ia bahkan mulai melupakan orang-orang terdekatnya, dan berhalusinasi mengenai ibu serta saudara perempuannya yang meninggal dalam kecelakaan mobil saat Alice masih remaja. Diam-diam, Alice merekam video yang menginstruksikan dirinya sendiri untuk bunuh diri apabila suatu hari nanti ia tak lagi bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di ponselnya. 

Baca juga: 5 Film Indonesia yang Bahas Kesehatan Mental

Barfi (2012)

Barfi merupakan seorang pemuda penyandang bisu-tuli yang memiliki sifat jahil. Ia sering mengerjai orang-orang di sekitarnya hingga dikejar-kejar oleh Inspektur Sudhanshu Dutta. Suatu hari, Barfi bertemu dengan seorang gadis bernama Shruti dan jatuh cinta dengannya. Namun, ibu Shruti melarangnya menikahi Barfi karena memiliki disabilitas dan keterbatasan finansial. Shruti pun terpaksa menikah dengan pria pilihan ibunya, Ranjeet dan memutus seluruh kontak dengan Barfi. 

Barfi kemudian bertemu kembali dengan teman masa kecilnya, Jhilmil. Jhilmil merupakan seorang perempuan penyandang autisme. Di saat hubungan keduanya semakin dekat, Shruti kembali muncul dalam kehidupan Barfi. 

I Am Sam (2001)

Di tahun 1993, seorang pria dengan disabilitas intelektual bernama Sam Dawson menjadi orang tua tunggal dari seorang anak perempuan bernama Lucy. Sam tinggal di lingkungan yang sangat suportif, tetapi Lucy sering menjadi bulan-bulanan di sekolah karena memiliki ayah penyandang disabilitas. 

Di saat yang sama, Sam terancam kehilangan hak asuhnya atas Lucy. Disabilitas intelektual yang ia miliki membuat Sam dianggap tak akan mampu menjadi orang tua yang baik bagi Lucy. Sam pun menyewa seorang pengacara bernama Rita Harrison yang bersedia mendampinginya secara pro bono (tanpa bayaran). 

Baca juga: Rekomendasi Buku yang Bahas Trauma Masa Kecil

Itulah sejumlah film yang mengangkat tema seputar disabilitas. Dari film-film di atas, kita belajar bahwa penyandang disabilitas sudah seharusnya diperlakukan selayaknya manusia. Mereka bukan cuma objek untuk direndahkan atau dieksploitasi. Semoga kita bisa menciptakan dunia yang lebih inklusif, setara, dan ramah bagi penyandang disabilitas. Be kind to everyone, girls!

Kalau kamu pengen ngobrol seputar isu-isu terkini dan berbagi rekomendasi film, yuk gabung ke Girls Beyond Circle! Klik di sini untuk join, ya!

No Comments

    Leave a Reply