Menu
Real Stories / Stories

Venezia Guishella: Tantangan Seorang Seniman Modern di Tengah Negara yang Minim Apresiasi Seni

Venezia Guishella dan karya-karyanya.

Seni merupakan suatu hal yang sudah ada sejak ratusan ribu tahun yang lalu dan telah menjadi unsur penting bagi kehidupan manusia. Tanpa disadari, keseharian kita melibatkan kehadiran seni, seperti musik, tarian, dan lukisan, bahkan bahasa yang kita gunakan pun tergolong sebagai wujud seni.

Sayangnya, zaman modern telah membuat masyarakat lupa akan makna dan pentingnya seni. Minimnya apresiasi membuat industri kreatif, terutama di Indonesia, kurang diperhatikan. Jumlah orang yang ingin terjun secara profesional ke bidang seni pun semakin menurun.

Venezia Guishella, seorang seniman muda asal Jakarta, menjadi salah satu dari sebagian anak muda di Indonesia yang sedang mendalami pembelajaran dan praktik seni. Gadis usia 21 tahun ini sedang menekuni program studi ilustrasi di University of Hertfordshire, Hatfield, Inggris.

Ia menceritakan berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanannya sebagai ilustrator, mulai dari pergumulan dengan diri hingga halangan-halangan untuk bekerja di industri kreatif sebagai seniman modern di Indonesia.

Baca juga: Susah Move On, Ini 6 Zodiak yang Paling Suka Stalking Mantan!

Sudah Kenal Seni Sejak Kecil

Lukisan yang dibuat oleh Venezia saat berusia tiga tahun.

Bagi Venezia ini, seni tak kenal usia. Seniman ini sudah mulai menggambar sejak usia tiga tahun. Ia mengaku bahwa dirinya suka mencoret-coret di dinding, lembaran-lembaran kalender, dan mewarnai perabotan rumah di kala itu.

“Aku suka banget coret-coret di mana-mana. Hancur, deh!” katanya sambil tertawa.

Orang tua Venezia memutuskan untuk membawanya ke kursus-kursus seni untuk anak-anak. Di sana, ia mulai belajar ilmu dasar mewarnai, menarik garis, dan menggambar bentuk. Kursus-kursus ini menyadarkan Venezia akan passion dan bakat yang ia miliki.

Seiring berjalannya waktu, lukisan yang diciptakan semakin rumit. Beralih dari krayon dan kertas, ia mulai bereksperimen dengan media lukisan lainnya, seperti kanvas, kain, arang, dan pastel. Kini, ia kerap menggunakan alat-alat digital untuk memproduksi karya-karya seni menarik, seperti desain, ilustrasi, dan animasi.

Proyek yang ia lakukan untuk sebuah buku berjudul The Queen of the Southern Sea menjadi salah satu karya terbaiknya. Karya ini melibatkan metode dan media yang tidak biasa. Dengan teknik-teknik collography, drypoint atau intaglio, dan screenprinting, lukisan-lukisan dinilai ini cukup menantang oleh Venezia.

Proyek Venezia untuk buku The Queen of the Southern Sea.

“Proyek ini menjadi salah satu yang paling memorable. Aku belum pernah bereksperimen di area ini sebelumnya,” cerita Venezia. “Bisa dibilang aku jadi harus keluar dari zona-zona familiar.”

Baca juga: Kenali Cinta Manipulatif ‘Love Bombing’ Beserta 3 Ciri-cirinya

Sering Buat Fanart, Sering Dilirik Selebritas

Fanart Zendaya oleh Venezia.

Ketika duduk di bangku SMP, Venezia mulai menjadikan Instagram sebagai sebuah galeri digital. Melalui akun @veneziarts (kini pindah ke @vezenev), seniman muda ini kebanyakan mencurahkan bakatnya pada lukisan-lukisan fanart. Fanart adalah karya-karya yang dibuat oleh para penggemar selebritas, artis, tokoh, film, atau buku tertentu. 

“Kalau soal fanart, aku kebanyakan pakai media kertas dan pensil warna. Sederhana, tapi berguna banget,” ucapnya.

Tidak jarang Venezia mendapat respons dan apresiasi secara langsung dari orang-orang ternama berkat fanart yang dihasilkan, seperti Emma Chamberlain, NIKI, Rich Brian, Dodie, Mxmtoon, dan bahkan kru produksi serial Netflix Umbrella Academy. Ini tentunya menjadi sebuah kebanggaan sendiri bagi Venezia.

“Bangga, pastinya iya. Kalau fanart-ku di-notice artis, aku merasa bahwa lukisanku sudah bagus,” katanya.

Namun, Venezia sadar bahwa secara tidak langsung, ia mulai mengukur kemampuannya dari apakah lukisan yang dibuat berhasil menarik perhatian orang-orang terkenal. Ada masanya ia memandang kesuksesan sebuah karya dari perhatian yang didapat.

“Aku mendokumentasikan setiap notice yang didapat dari artis. Lama-kelamaan, aku ngerasa hampa dan burnt out,” papar Venezia. “Sekarang, aku sedang mencoba untuk tidak memprioritaskan hal itu. Aku lebih fokus ke ide-ide dan proses kerja.”

Baca juga: Hal-hal yang Harus Dihindari Agar Pengalaman Konser NCT Dream Tetap Aman, Apa Saja?

Industri Kreatif di Indonesia Kurang Menjanjikan

Beberapa karya seni Venezia yang dibuat menggunakan arang.

Setelah berkuliah selama dua tahun di Raffles College, Jakarta, Venezia melanjutkan studinya di Inggris, lebih tepatnya di University of Hertfordshire untuk mendapat gelar ilustrasi.

Beberapa hal menjadi alasan di balik keputusannya untuk pergi ke negara lain demi memperluas praktik seninya. Salah satunya adalah terbatasnya sumber ilmu seni yang disediakan oleh lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia.

“Di Indonesia, susah sekali cari sekolah yang benar-benar punya jurusan ilustrasi. Paling mendekati adalah DKV atau desain. Indonesia juga sedikit banget kampus atau sekolah yang support jurusan-jurusan seni,” jelas Venezia.

Venezia juga mendapati bahwa di Inggris, orang-orang lebih terbuka dengan profesi yang berkaitan dengan kesenian, baik ilustrasi, desain, seni murni, maupun bentuk-bentuk seni lainnya yang mungkin jarang ditemui di Indonesia.

“(Seni) tentu lebih ramah di luar Indonesia. Orang-orang cenderung lebih terdidik, kolaboratif, dan pengertian terhadap seniman, termasuk pemerintahnya. Sebenarnya aku bisa berkarier di Indonesia, tapi aku pasti nggak bisa dapat koneksi dan pengalaman seperti di Inggris.”

Hal ini membuat kesempatan bekerja yang sesuai dengan minat dan ketertarikannya di sana jauh lebih menjanjikan ketimbang di Indonesia.

Namun, menekuni seni di Inggris rupanya juga tidak selalu lebih mudah. Berbeda dari masa studinya di Indonesia, jumlah mahasiswa yang memilih jurusan-jurusan seni jauh lebih banyak. Kompetisi pun semakin tinggi lantaran banyak orang berbakat yang berbondong-bondong mengejar posisi teratas.

Akan tetapi, fakta ini justru membuat dirinya semakin bersemangat.

“Banyak mahasiswa internasional juga di sini, dan sama-sama ngejar seni. Menurutku, competition-nya jauh lebih susah daripada kalau di Indonesia. Aku jadi merasa lebih bersemangat untuk berusaha,” bicara Venezia.

Baca juga: 7 Jurusan Ini Punya Prospek Kerja Tinggi di Masa Depan, Bisa Bikin Sukses!

Ingin Tetap Berkarya Sampai Tua

Desain oleh Venezia.

Venezia berencana untuk terus menekuni studinya dalam bidang seni dan ilustrasi. Ia terus berlatih untuk mengembangkan kemampuannya dan membuka pintu-pintu kesempatan baru. Baginya, perjalanan menuju kesuksesan belum berakhir.

“Masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Pokoknya, besar rencanaku untuk ke depannya,” jawabnya.

Harapannya, Venezia berminat untuk meniti karier secara profesional sebagai ilustrator atau perancang visual. Namun, ia mengaku bahwa apabila suatu hari cita-cita ini tidak bisa tercapai, ia akan tetap terus melukis sampai tua.

“Sampai tanganku nggak sanggup memegang kuas, aku akan terus melukis, melukis, dan melukis.”

Baca juga: Di Balik Kontroversi Film ‘Dear David’, Ada Krisis Gender, Kesehatan Mental, dan Ketidakadilan yang Diabaikan

Perjuangan Venezia menuju karier seni profesional masih berlanjut. Semangat, Venezia!

Bagaimana denganmu? Apa kamu juga tertarik untuk bekerja di industri kreatif?

Suka dengan hal-hal tentang melukis, musik, teater, dan bentuk seni lainnya? Bergabung ke Girls Beyond Circle sekarang! Di sana, kamu bisa berbagi insight dan inspirasi dengan gadis-gadis seniman lainnya. Klik di sini untuk bergabung.

No Comments

    Leave a Reply