Menu
Career

Quiet Quitting Jadi Tren, Ketahui Manfaat dan Kekurangannya!

Dengan ramainya PHK massal, quiet quitting jadi sorotan. Istilah ini jadi fenomena yang populer di budaya korporat sejak COVID-19 dimulai. Makin banyak karyawan yang jadi pasif saat bekerja dan melihat manfaat quiet quitting.

Quiet quitting di Indonesia juga banyak dijumpai, terutama di perusahaan-perusahaan besar. Hmm, apa sebenarnya arti quiet quitting?

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting bukan berarti diam-diam resign dari pekerjaan, tetapi fenomena ketika seorang karyawan hanya melakukan pekerjaan mereka sebatas bare minimum. Mereka hanya mengerjakan tugas yang tertera pada job description dan membiarkan tanggung jawab lainnya.

Akan tetapi, pihak perusahaan tidak bisa menyalahkan karyawan karena karyawan tersebut tetap melaksanakan job description-nya, meskipun tanpa inisiatif lebih dan antusiasme.

Beberapa contoh quiet quitting adalah hanya bekerja pada jam-jam kerja, seperti pada pukul 09.00–18.00. Di luar jam-jam tersebut, karyawan memilih untuk mengabaikan panggilan kerja karena dianggap jam off-work. Contoh quiet quitting yang lain adalah tidak menggunakan banyak tenaga dan semangat untuk menyelesaikan pekerjaan, walaupun hasilnya begitu-begitu saja.

Quiet quitting terjadi karena adanya stres dan kejenuhan yang dirasakan karyawan saat bekerja. Stres bisa disebabkan oleh banyak faktor, seperti tugas-tugas yang monoton, lingkungan kerja yang tidak mendukung, dan rekan atau atasan yang kurang komunikatif.

Baca juga: Bingung Cara Tulis Surat Resign? Ini Contohnya!

Manfaat Quiet Quitting

Quiet quitting jadi jalan pintas bagi orang-orang yang tetap harus bekerja, meskipun sudah tidak lagi menikmati pekerjaan. Kalau kamu sedang mempertimbangkan quiet quitting, berikut manfaat quiet quitting bagi karyawan.

Mempertahankan Kontrol atas Worklife

Quiet quitting memberi batas jelas antara kehidupan kerja dan kehidupan di luar kerja. Karyawan yang menerapkan quiet quitting tidak keluar dari job description yang sudah diberikan dan bekerja sesuai dengan jam kerja yang ditetapkan.

Banyak sekali perusahaan yang menuntut karyawannya untuk bekerja lebih dari apa yang dijanjikan pada kontrak. Quiet quitting memberi kesempatan untuk tidak mengambil tanggung jawab lebih dan memilih untuk tidak lembur. Manfaat quiet quitting yang satu ini jadi alasan paling umum di balik peningkatan quiet quitting di Indonesia.

Meningkatkan Fokus

Ternyata, quiet quitting juga bisa meningkatkan fokus dalam bekerja. Ketika kamu hanya berpatok pada jam-jam kerja untuk melakukan pekerjaan, kamy akan berusaha untuk menyelesaikan semua tugas sebelum jam kerja berakhir.

Ini membuat kamu lebih fokus selama pekerjaan berlangsung agar bisa segera pulang. Selain itu, bekerja hanya sesuai job description juga mencegah distraksi dari pekerjaan lain karena karyawan tidak bekerja di luar tanggung jawab diri sendiri.

Baca juga: 5 Langkah Siasati Lingkungan Kerja Toxic Supaya Bertahan di Kantor

Mendukung Kesehatan Mental

Manfaat quiet quitting yang terakhir adalah terjaganya kesehatan mental di tempat kerja. Melakukan quiet quitting dapat membantu mencegah atau mengurangi berbagai masalah kesehatan mental terkait pekerjaan, termasuk, stres, depresi, dan burnout.

Dengan quiet quitting, kamu akan mendapat lebih banyak waktu untuk menjalani hobi dan passion di luar pekerjaan. Waktu istirahat pun juga lebih optimal.

Kekurangan Quiet Quitting

Quiet quitting pastinya bukan tanpa kekurangan. Ini kekurangan quiet quitting yang harus kamu ketahui!

Kurang Sosialisasi dengan Rekan

Quiet quitting terjadi karena kamu tidak lagi semangat untuk bekerja. Ini juga berpengaruh pada hubunganmu dengan rekan-rekan kerja lain. Ketika kamu hanya melakukan bare minimum di tempat kerja, tingkat komunikasi dan sosialisasi pun menurun.

Kamu mungkin merasa tidak ingin terlibat dalam brainstorming dan diskusi pekerjaan. Hal ini akan menghambat hubunganmu dengan rekan lain selama bekerja.

Baca juga: Mindfulness Jadi Kunci Penting Agar Kerjaan Maksimal, Ini Cara Melatihnya

Kamu Dinilai Tidak Perform dan Tidak Profesional

Adanya sikap pasif di tempat kerja dengan quiet quitting akan membuatmu terlihat kurang perform dan tidak profesional. Kamu mungkin akan menjadi pusat penilaian para atasan karena hasil kerja yang monoton atau tidak mengalami peningkatan.

Adanya image pasif ini juga bisa membuat dirimu cenderung lebih mudah untuk terkena layoff. Jadi, perhitungkan kekurangan ini sebelum menjadi karyawan quiet quitting.

Sulit Meraih Goals Karier

Kekurangan quiet quitting yang terakhir adalah adanya kesulitan untuk mencapai goals. Kalau kamu berencana untuk meraih jenjang karier yang lebih tinggi, quiet quitting tentu akan menjadi penghalang.

Kurangnya antusiasme dan keaktifan yang menurun akan membuatmu lebih jauh dari goals. Kalau kamu memang ada prestasi tertentu dalam karier, quiet quitting bukan jalan yang benar untukmu!

Nah, itu dia manfaat dan kekurangan quiet quitting di Indonesia.

Mau tips lebih seputar karier? Bergabung ke Girls Beyond Circle sekarang!

No Comments

    Leave a Reply