
Penjelasan Ending The Great Flood: Film Korea Tentang Banjir Besar yang Dibintangi Kim Da Mi
Baru saja selesai nonton The Great Flood di Netflix dan merasa otakmu agak sulit mencerna maksud dari ending-nya? Ternyata, banyak yang merasa demikian!
Film bencana Korea yang dibintangi Kim Da-mi ini memang bukan cuma film tentang bertahan hidup dari terjangan air bah.
Di balik visualnya yang mencekam, ada lapisan plot twist sci-fi yang cukup dalam tentang eksperimen AI, simulasi, dan masa depan manusia. Kalau kamu masih bingung kenapa ceritanya terus berulang atau apa maksud adegan terakhirnya, yuk kita bedah bersama ending The Great Flood ini!
Baca juga: Fakta Menarik The Great Flood: Film Korea Kim Da Mi yang Tayang Akhir Tahun 2025
Sinopsis Film The Great Flood

The Great Flood adalah film sci-fi thriller garapan Kim Byung Woo yang berlatar dunia setelah bencana global. Sebuah asteroid menghantam Antartika dan mencairkan es dalam skala besar, memicu banjir masif yang hampir memusnahkan umat manusia.
Di tengah kekacauan itu, Anna (Kim Da Mi), seorang ilmuwan yang terjebak di sebuah apartemen yang perlahan terendam air bersama seorang anak yang ia lindungi.
Sepanjang film, kamu akan melihat usaha Anna bertahan hidup dengan naik ke lantai atas, menyusuri tangga darurat yang terblokir, menghindari penjaga bersenjata, dan terus mencari anaknya yang sering terpisah darinya.
Ada juga sosok Hee-jo (Park Hae Soo), petugas keamanan yang ditugaskan mengevakuasi Anna karena perannya dianggap krusial bagi masa depan manusia.
Plot Twist: Ternyata Semuanya Adalah Simulasi

Plot twist ending The Great Flood adalah pengungkapan bahwa apa yang kamu tonton sebagian besar bukanlah realita yang sedang terjadi saat itu juga.
Ternyata, Anna dan Ja In berada dalam sebuah simulasi perulangan waktu (time loop). Ingat angka-angka yang muncul atau ada di pakaian? Itu menandakan berapa kali simulasi tersebut sudah dijalankan.
Dalam kenyataannya, bumi memang sudah hancur karena banjir besar. Anna yang asli sebenarnya berada di luar angkasa, tepatnya di Isabela Lab, setelah dievakuasi dari bumi yang sekarat.
Namun, perjalanan itu enggak mulus karena mereka terkena hantaman meteorit. Untuk menyelamatkan “esensi” kemanusiaan, Anna merelakan dirinya menjadi subjek uji coba. Ia mengunggah memorinya ke dalam sistem untuk melatih sebuah program AI.
Baca juga: Bikin Semangat Naik Level, 7 Film tentang Dunia Karier yang Pas Ditonton Akhir Tahun
Apa Itu Emotion Engine?

Mungkin kamu bertanya-tanya, buat apa repot-repot membuat simulasi banjir? Tujuannya adalah menciptakan Emotion Engine.
Di masa depan, manusia mencoba menciptakan manusia sintetis atau AI yang bisa menggantikan peran manusia biologis yang sudah punah. Namun, robot atau AI biasanya hanya bergerak berdasarkan logika.
Supaya AI ini benar-benar menjadi “manusia baru”, mereka butuh emosi. Nah, memori Anna tentang cintanya kepada anaknya, pengorbanannya, dan insting bertahan hidupnya digunakan sebagai data utama.
Ja In sendiri bukanlah anak kandung Anna yang asli, melainkan prototipe AI bernama Newman 77. Simulasi banjir yang terus berulang itu adalah proses “training” agar AI tersebut bisa merasakan emosi manusia yang murni, terutama kasih sayang tanpa syarat seorang ibu.
Mengapa Perulangannya Sangat Banyak?

Diceritakan bahwa simulasi ini sudah berjalan lebih dari 21.000 kali! Kenapa lama sekali? Karena dalam ribuan simulasi sebelumnya, Anna sering kali gagal. Dia terkadang lebih memilih logika bertahan hidup daripada pengorbanan emosional.
Loop atau perulangan ini baru bisa pecah ketika Anna membuat keputusan yang murni didasarkan pada cinta, bukan sekadar hitung-hitungan sains.
Ketika Anna akhirnya berhasil menemukan Ja In di tempat persembunyiannya (lemari di atap) dan memilih untuk melompat bersama ke dalam banjir sebagai bentuk penerimaan, saat itulah fase pelatihan AI dianggap berhasil. Emosi “kasih sayang” itu akhirnya terkunci di dalam sistem.
Penjelasan Ending: Harapan Baru di Bumi

Di bagian akhir film, tepatnya saat end credits, kita melihat sebuah kapsul kembali turun ke bumi dari Isabela Lab. Kapsul ini membawa Newman 77 dan Newman 78. Siapa mereka? Mereka adalah versi manusia sintetis (AI) yang sudah memiliki memori dan emosi Anna serta Ja In.
Memori Anna telah berhasil ditransfer sepenuhnya ke dalam tubuh baru ini. Meskipun tubuh biologis Anna mungkin sudah tiada, kesadaran dan perasaan cintanya tetap hidup dalam sosok “manusia baru” tersebut.
Mereka mendarat di bumi yang airnya mulai surut dan daratan mulai bisa dihuni kembali. Ini adalah simbol bahwa umat manusia tidak benar-benar punah, melainkan berevolusi menjadi bentuk baru yang lebih tahan banting, namun tetap memiliki “hati” manusia.
Kesimpulan: Pesan di Balik Teknologi

The Great Flood ingin memberitahu kamu bahwa yang membuat kita menjadi manusia bukanlah sekadar detak jantung atau logika berpikir, melainkan ikatan emosional dan empati.
Di dunia yang sudah hancur dan didominasi mesin, cinta adalah satu-satunya teknologi yang tidak bisa diciptakan hanya dengan kode komputer, melainkan harus dirasakan melalui pengalaman dan pengorbanan.
Memang film ini butuh konsentrasi lebih untuk dimengerti karena alurnya yang melompat-lompat, tapi setelah tahu bahwa ini adalah kisah tentang seorang ibu yang “mengajari” robot cara mencintai, ceritanya jadi terasa sangat menyentuh, bukan? Jadi, apakah kamu sudah enggak penasaran lagi dengan ending The Great Flood?
Baca juga: 8+ Drama Korea Desember 2025, Banyak Tayang di Netflix!
Gabung discord Girls Beyond Circle kalau kamu mau tahu update tentang film Korea lainnya!