
Kenalan dengan Deadzoning, Tren Liburan Tanpa Sinyal yang Lagi Viral!
Deadzoning adalah tren liburan terbaru di 2026 yang fokus pada satu hal: benar-benar istirahat, tanpa gangguan notifikasi, email, atau tuntutan kerja. Di tengah kebiasaan kita yang selalu “online”, konsep ini jadi cara baru buat menikmati liburan dengan lebih tenang dan mindful.
Sekarang, banyak orang tetap bekerja saat liburan, balas email di pinggir pantai, ikut meeting dari hotel, atau sekadar cek Slack “sebentar” yang akhirnya jadi keterusan. Akibatnya, liburan terasa setengah-setengah. enggak heran kalau tren deadzoning mulai banyak dilirik, terutama oleh Gen Z dan milenial yang makin sadar pentingnya kesehatan mental.
Untuk lebih jelaskan bagaimana cara menerapkan deadzoning, simak ulasan berikut, yuk!
Baca juga: 6 Tips Liburan Hemat ke Luar Negeri, Mulai dari 5 Jutaan!
Kenapa Deadzoning Jadi Tren di 2026?

Dilansir dari Parade, tingkat burnout global, terutama di kalangan anak muda, lagi tinggi banget. Banyak pekerja merasa stres karena sulit memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi. Apalagi sejak tren “work from anywhere”, batas antara kerja dan liburan jadi makin tipis.
Di sinilah deadzoning muncul sebagai solusi. Konsepnya adalah “intentional disconnect” atau memutus koneksi secara sengaja selama liburan. Jadi, kamu enggak cuma pergi dari rutinitas, tapi juga benar-benar lepas dari tekanan digital.
Menurut Christina Bennett, pakar tren perjalanan dari Priceline (dilansir dari HuffPost), deadzoning mencerminkan perubahan budaya. Banyak orang mulai meninggalkan kebiasaan selalu online dan lebih memilih liburan yang benar-benar bikin recharge, baik secara mental maupun emosional.
Deadzoning Bukan Cuma “Offline”, Tapi Reconnect

Menariknya, deadzoning bukan cuma soal mematikan internet. Lebih dari itu, ini tentang mengembalikan koneksi, bukan ke Wi-Fi, tapi ke diri sendiri.
Menurut Dr. Birgit Trauer (dilansir dari Euronews), perjalanan itu punya dua motivasi: “push” dan “pull”. Kita bukan cuma tertarik ke destinasi, tapi juga ingin menjauh dari sesuatu, seperti stres atau tekanan kerja.
Ia menjelaskan bahwa deadzoning adalah bentuk “regenerasi”, di mana kamu memberi ruang untuk otak beristirahat dari “cognitive load” akibat notifikasi dan informasi yang terus masuk.
Dengan kata lain, deadzoning adalah cara untuk reset pikiran, bukan sekadar liburan biasa.
Baca juga: Anti Drama saat Traveling! 7 Aplikasi Ini Bikin Perjalanan Jauh Lebih Mudah
Kenapa Gen Z dan Milenial Suka Tren Ini?

Gen Z dan millennial tumbuh di era digital, jadi wajar kalau mereka juga yang paling cepat merasa lelah dengan dunia yang serba online.
Dilansir dari HuffPost, banyak dari mereka bahkan berharap gadget bisa “dilarang” saat liburan. Bukan karena anti teknologi, tapi karena ingin punya waktu tanpa distraksi.
Menariknya lagi, konsep ini sebenarnya bukan hal baru. Dulu, ada era “Hippie Trail” di mana orang bisa traveling berbulan-bulan tanpa komunikasi dengan rumah. Bedanya, sekarang deadzoning dilakukan secara sadar, sebagai respons terhadap budaya digital yang terlalu intens.
Cara Mencoba Deadzoning Saat Liburan

Kalau kamu tertarik mencoba, enggak perlu langsung ekstrem. Ada beberapa cara sederhana yang bisa kamu mulai:
1. Siapkan Batasan Sebelum Berangkat
Pastikan kamu sudah menyelesaikan pekerjaan dan pasang auto-reply email. Jangan kasih celah seperti “kalau urgent hubungi saya ya”, ini justru bikin kamu tetap kepikiran kerjaan.
2. Pilih Destinasi yang Mendukung
Kamu bisa cari tempat yang sinyalnya terbatas, seperti pegunungan, pantai sepi, atau cabin di tengah alam. Lingkungan sangat memengaruhi kebiasaan kamu.
3. Matikan Notifikasi
Kalau belum siap full offline, minimal matikan notifikasi email dan media sosial. Mode pesawat juga bisa jadi solusi sederhana.
4. Jauhkan HP Secara Fisik
Kedengarannya sepele, tapi menyimpan HP di tas (bukan di tangan) bisa mengurangi kebiasaan cek layar tanpa sadar.
5. Fokus ke Aktivitas Sederhana
Nikmati hal-hal kecil seperti jalan santai, baca buku, atau sekadar menikmati suasana tanpa distraksi.
Manfaat Deadzoning untuk Kesehatan Mental

Banyak ahli sepakat bahwa mengurangi paparan digital bisa membantu menurunkan stres dan meningkatkan kualitas hidup.
Dilansir dari Euronews, dengan membatasi screen time, kamu bisa:
- Mengurangi kecemasan
- Tidur lebih nyenyak
- Lebih fokus pada momen saat ini
- Meningkatkan koneksi sosial secara nyata
Selain itu, kamu juga jadi lebih sadar dengan apa yang kamu rasakan, tanpa distraksi dari notifikasi yang terus muncul.
Tantangan Setelah Liburan: “Reversed Culture Shock”

Ada satu peringatan dari Dr. Trauer: hati-hati dengan efek “kejutan budaya terbalik” saat kamu pulang. Seringkali setelah merasakan betapa damainya hidup tanpa HP, kamu bakal merasa enggak cocok lagi dengan rutinitas kantor yang bising.
Tantangannya bukan cuma soal kabur dari kenyataan, tapi bagaimana membawa kedamaian dari liburan itu ke dalam keseharianmu. Mulailah dengan mengatur jadwal “bebas gadget” setidaknya satu jam sebelum tidur setiap harinya.
Worth It Enggak Coba Deadzoning?

Jawabannya: sangat worth it, apalagi kalau kamu sering merasa capek meski sudah liburan.
Di era sekarang, istirahat bukan cuma soal pergi ke tempat baru, tapi juga soal benar-benar hadir di momen tersebut. Dan deadzoning adalah cara sederhana tapi efektif untuk mendapatkan itu.
enggak harus langsung ekstrem atau jauh-jauh ke luar negeri. Kamu bisa mulai dari hal kecil, bahkan dari liburan dekat rumah. Yang penting, kamu memberi ruang untuk diri sendiri benar-benar berhenti sejenak.
Karena pada akhirnya, liburan yang paling berharga bukan yang paling sibuk, tapi yang paling bikin kamu merasa pulih.
Baca juga: Jauh dari Keramaian, Ini 5 Destinasi Wisata untuk Introvert di Akhir Tahun
Kalau kamu mau tahu destinasi yang “deadzoning” friendly, jangan lupa gabung WhatsApp Group Girls Beyond Circle dan diskusi di sana!
Cover: Magnific