gagal menampilkan data

ic-gb
detail-thumb

Film Colony Karya Sutradara Train to Busan, Raih Standing Ovation 7 Menit di Cannes Film Festival, Kenapa?

Written by Tania Kresna

Siapa yang udah enggak sabar nunggu film baru dari sutradara film Train to Busan? Yeon Sang-Ho, sutradara film tersebut, kembali lagi dengan film k-zombie-nya dengan judul Colony (2026). Film ini mendapatkan standing ovation di Cannes Film Festival.

Bukan sekadar basa-basi habis credits rolling, buat ukuran Cannes, ini bisa dikatakan respons yang promising untuk film ini ditonton.

Selain dari konten cerita yang khas berlatarkan zombie, apa yang buat film ini jadi worth untuk ditonton? Tanggal rilis bakal di-spill di akhir, catat tanggalnya!

Baca juga: Intip Pesona Aktris Indonesia di Cannes Film Festival 2026, Ada Raline Shah hingga Prilly Latuconsina

4 Alasan Colony Layak Masuk Watchlist

Sumber: Showbox

Simak poin-poin yang perlu kamu tahu tentang film ini. Dari raih standing ovation sampai fakta zombienya adalah penari profesional.

1. Film K-Zombie Ketiga yang Diundang ke Cannes Film Festival

Colony menjadi film ketiga k-zombie dari sutradara Yeon Sang-Ho yang juga mendapat undangan ke Cannes, dengan Train to Busan (2016) dan Peninsula (2020) yang lebih dulu diundang ke Cannes. Sayangnya, untuk Peninsula kala itu kurang maksimal dinikmati dikarenakan Covid-19.

Kini sutradara Yeon, dengan film k-zombie ketiganya juga turut diundang untuk dilakukan screening lewat sesi Midnight Screening dan berhasil mendapat antusiasme para penontonnya lewat standing ovation.

Cannes dikenal dengan film festival yang identik dengan film arthouse atau drama emosional, namun antusiasme malam itu bisa jadi tanda kalo filmnya cukup ‘fresh’ bukan sekadar tipikal film zombie yang jumpscare atau survival chaos.

2. Zombie jadi Potret Kecemasan Horor Modern

Yeon bilang kalo Colony lebih dari sekadar film zombie, tapi potret ketakutan masyarakat saat ini. Apa yang ngebuat film ini terasa begitu? Ia melihat perilaku masyarakat modern yang mulai berubah.

Lewat film Colony, zombie jadi gambaran gimana manusia modern hidup di tengah komunikasi rapid dan massive terlebih dengan kehadiran AI (Artificial Intelligence) saat ini. Lewat konsep hive mind, memperjelas bagaimana para zombie bersatu dan saling berkomunikasi untuk mengumpulkan informasi, berkoordinasi dan meniru manusia.

Sang sutradara melihat adanya reduksi pada perilaku manusia lewat hilangnya kemampuan berpikir untuk bertindak sebagai individu dikarenakan informasi yang super cepat.

Dengan premis yang cukup dekat dengan realitas saat ini, film Colony kali ini ngasih pengalaman nonton yang beda, bukan cuma ngasih rasa deg-degan karena jumpscare dan capeknya dikejar-kejar zombie, tapi juga melihat gimana krisis manusia saat ini.

3. Setting Gedung Tinggi jadi Gambaran Peradaban Manusia

Ada perbedaan setting antara film Train to Busan dan Colony.

Masih ingat adegan film Train to Busan yang terjebak di kereta? Kereta menjadi simbol ruang horizontal yang melambangkan situasi krisis yang bergerak cepat. Karakter yang dipaksa untuk terus bergerak maju agar bisa selamat dari kejaran zombie.

Sementara, pada film Colony, karakter di dalamnya terjebak di sebuah gedung tinggi. Yeon memilih gedung tinggi sebagai setting ruang vertikal karena ia ingin menggambarkan bagaimana peradaban manusia saat ini. 

Gedung menjadi simbol manusia yang kompleks, bertingkat, terstruktur, dan tampak kokoh di luar. Namun, pada saat terjadi krisis besar, semua menjadi chaos, bisa terlihat dari wabah Covid-19 lalu.

Yeon ingin menyampaikan bahwa peradaban manusia saat ini terlihat kuat namun sebenarnya rapuh karena fondasi kita tidaklah stabil sehingga menyebabkan manusia menjadi sangat rentan jika terjadi krisis yang besar.

Baca juga: Film Salmokji Tayang di Bioskop Indonesia, Ini Fakta Horor Korea yang Lagi Viral

4. Ketegangan yang Bikin Penonton Ikut Mikir

Enggak cuma ada adegan yang membuat tegang seperti aksi lari, teriak, dan survival mode lainnya, lebih dari itu, kali ini film Colony memberikan ketegangan berbeda.

Bukan cuma soal cepat lari untuk menghindari zombie agar bisa selamat, tapi para karakter dipaksa untuk cepat berpikir dalam membaca situasi, memecahkan pola, dan mengambil keputusan yang tepat di tengah tekanan ekstrem.

Bukan sekadar ‘lari selamatin diri dari zombie’, tapi film ini juga mengajak penontonnya untuk ikut mikir sepanjang film. 

5. Hadirkan 20 Penari di Balik Koreografi Zombie

Bukan tanpa tujuan, memilih penari profesional sebagai zombie alih-alih mengandalkan CGI (Computer-Generated Imagery), demi visual yang lebih nyata sekaligus menyampaikan makna tertentu.

Ia ingin menyampaikan gagasannya lewat tema film ini mengenai kolektivitas dan individualitas.Ia menolak gerakan zombie yang identik seperti robot, gerakan chaos liar dan  terlihat sama satu dengan yang lainnya.

Dengan memilih 20 penari, sejalan dengan tema besar film ini yang menekankan pada konsep individualitas yang penting untuk manusia modern. Ia berharap hal ini bisa tersampaikan. Terlihat dari bagaimana para penari tetap memiliki fungsi dan perannya masing-masing.

Kalo kamu mau konsep k-zombie yang berbeda dan ingin merasakan sensasi realitas yang modern, film Colony wajib masuk watchlist

Tapi kalo sampai sini kamu belum cukup yakin, mungkin beberapa review singkat dari mereka yang udah nonton duluan lewat screening film-nya bisa jadi bikin kamu lebih yakin untuk jadi watchlist atau skip filmnya. 

Reaksi Penonton Cannes Menyaksikan Film Colony

Sumber: Showbox

Sesi Midnight Screening di Cannes ini dikenal dengan penonton yang banyak walkout kalo filmnya enggak cukup ‘worth’ untuk ditonton. 

Namun, sekitar 2.300 penonton di Cannes saat itu memilih untuk tetap menonton filmnya hingga akhir. Setelah film berakhir, sekitar 5-7 menit penonton memberikan apresiasi lewat standing ovation. Ini menunjukkan kalo film Colony, berhasil untuk mempertahankan tensi penonton.

Respons penonton Cannes menunjukkan bahwa Colony untuk kategori film k-zombie terasa cukup segar dan efektif. 

Di samping itu, beberapa penonton menilai dari segi lain seperti kedalaman emosinya yang belum sekuat Train to Busan. Meski begitu, banyak yang tetap mengapresiasi ritme ceritanya, konsep setting yang simbolis dan cukup kuat, serta performa para pemainnya.

Berbeda dengan Train to Busan, film Colony menekankan pada krisis realitas modern. Bukan hanya intensitas film dari segi aksi. 

Buat kamu yang tertarik nonton dan udah masukin Colony di watchlist kamu, film ini akan tayang di bioskop Indonesia pada 3 Juni 2026, dan tiket on sale mulai 27 Mei 2026. Jangan lupa untuk set tanggalnya di kalender kamu, ya!

Baca juga: Buat Kamu yang Introvert, Ini 7 Film yang Bikin Ngerasa ‘Relate’

Berbagi informasi seru dan menarik lainnya dengan join komunitas WhatsApp Group Girls Beyond Circle.

Hai, teman-teman! Aku Tania Kresna, penulis artikel ini. Let’s connect on Linkedin/Instagram!