gagal menampilkan data

Article

Bianca L: Polyglot Muda yang Mampu Menguasai 10 Bahasa dan Ingin Menjadi Penerjemah Pemerintah

Written by Zefanya Pardede

Apa jadinya bila seseorang sudah bisa menguasai 6 bahasa hanya di usia 7 tahun?

Bianca L. merupakan seorang gadis yang sedang menjalankan studinya dalam bidang sastra. Sejak kecil, ia memiliki kemampuan untuk menyerap ilmu bahasa dengan sangat cepat. Berawal dari menguasai 6 bahasa, kini ia lancar sepenuhnya dalam 10 bahasa. Ini membuatnya seorang polyglot atau seseorang yang fasih dalam banyak bahasa.

Ia bercita-cita untuk menjadi penerjemah multilingual yang bisa membantu pemerintah dan perusahaan besar. Mulai dari menolak undangan untuk masuk program TV hingga mengikuti program-program camp internasional yang fully-funded, banyak sekali keputusan yang dibuat Bianca dalam perjalanannya.

Bahasa Spanyol Jadi Kata Pertama Saat Kecil

Potret Bianca L.

Jauh sebelum Bianca belajar cara berbicara, gadis ini sudah terpapar oleh bermacam-macam bahasa asing. Sebagai penikmat film, orang tua Bianca tak jarang memutarkan tontonan dari berbagai belahan dunia, termasuk tononan anak yang diberikan kepadanya.

“Waktu kecil aku dikasih tonton film-film anak bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, dan Spanyol. Orang tuaku lumayan suka Disney, anime, dan telenovela,” kata Bianca.

Tontonan-tontonan tersebut menjadi rutinitas sehari-hari. Tanpa disadari, Bianca dengan cepat menangkap kata-kata yang diucapkan para aktor asing yang ada di layar. Karena terlalu sering menonton film anak dalam bahasa asing, salah satu dari beberapa kata pertama yang diucapkan Bianca saat kecil justru dalam bahasa Spanyol.

“Ini lucu dan memang aneh, sih, tapi kata Mama, di awal mulai bisa ngomong, yang salah satu kata yang keluar itu bahasa Spanyol,” ceritanya sambil tertawa. “Katanya aku bilang ‘hola’, yang berarti ‘halo’ karena kebanyakan ikut nonton sinetron telenovela.”

Rupanya, kejadian tersebut adalah awal dari kemampuan Bianca untuk menguasai beragam bahasa. Di usia lima tahun, Bianca dapat menguasai bahasa Indonesia dan Inggris dengan kelancaran yang 100 persen, serta bahasa Jepang dan Spanyol yang hampir sepenuhnya lancar.

Dari situ, orang tua Bianca memberikannya buku-buku dalam berbagai bahasa untuk mengenalkan Bianca dengan bahasa asing lainnya.

“Setelah belajar baca tulis, aku dikasih buku-buku bahasa lain yang gampang. Rusia ada, Mandarin ada, Prancis ada––orang tuaku bisa lihat kalau aku memang tertarik, walaupun usiaku masih kecil, dan mereka support itu,” katanya.

Kecepatan Bianca untuk menyerap bahasa-bahasa tersebut pun di atas tingkat normal. Di usianya yang baru mencapai 7 tahun, ia mampu menguasai 6 bahasa dengan lancar, yaitu bahasa Indonesia, Inggris, Jepang, Spanyol, Mandarin, dan Rusia.

Ternyata, orang tuanya bukan satu-satunya orang yang menyadari kepintaran Bianca.

Menolak untuk Masuk TV

Bianca saat masih sekolah.

Selain dalam bahasa, kecerdasan Bianca dalam bidang lain tergolong salah satu yang terbaik di angkatannya. Ia juga mengikuti banyak lomba bahasa yang mampu meningkatkan jumlah prestasinya di usia muda.

Suatu hari, ibunya dikirimkan pesan oleh seorang kru TV dengan maksud untuk mengundang Bianca ke salah satu program yang akan tayang. Orang tersebut ternyata sempat melihat Bianca beraksi dalam sebuah lomba pidato bahasa asing.

“Di salah satu lomba pidato itu, memang ada rekan media. Tapi aku nggak tahu kalau bakal sampai diajak masuk program,” ucap Bianca.

Ibunya mengajak Bianca mendiskusikan hal ini bersama. Namun, Bianca memilih untuk menolak tawaran tersebut.

“Aku baru saja berumur 12 tahun, dan itu masa-masa di mana aku merasa paling tertutup dan malu-malu gitu orangnya.”

Bianca mengaku bahwa dirinya tidak pernah menyesal atas keputusan itu.

“Aku sudah lihat polyglot muda lain yang sudah under the spotlight sejak kecil. Aku punya respect tinggi bagi mereka,” bicaranya

Ia menjelaskan bahwa kebanyakan anak-anak yang gifted akan menjadi burnout dan stres akibat ekspektasi orang-orang ketika terlalu banyak menjadi pusat perhatian dan penilaian saat kecil. Apabila Bianca masuk TV, dan semisal ia kemudian diundang ke program-program lainnya, tak dipungkiri bahwa dirinya akan merasakan tekanan yang luar biasa.

“Cukup dengan ikut lomba-lomba dulu saja, deh,” tambahnya.

Berhasil Ikut Camp Internasional yang Fully-Funded

Bianca di salah satu camp yang ia ikuti di Jepang.

Menjadi polyglot membuka jalan-jalan baru bagi Bianca. Ia menggunakan kemampuannya dalam kegiatan-kegiatan sekolah dan organisasi internasional. Saat SMA, ia menjadi bagian dari Model UN.

“Aku belajar bahwa kemampuanku bisa digunakan untuk perdebatan profesional. Makanya aku sejak SMA ikut Model UN,” jelas Bianca.

Selain itu, Bianca juga melakukan beberapa pekerjaan freelance secara online untuk menerjemahkan tulisan dan project orang-orang.

“Zaman aku SMA, freelance belum terkenal. Tapi itu jadi salah satu sumber uang jajanku kala itu, dan aku cukup bangga soalnya bisa menghasilkan uang dari kemampuanku ini, walau nggak banyak,” katanya.

Di antara perlombaan dan pengalaman yang ia miliki, mengikuti camp internasional jadi salah satu kebanggaannya semasa remaja.

Berkat prestasinya, Bianca diundang untuk mengikuti sejumlah program summer camp dan winter camp yang diselenggarakan di negara-negara lain. Program-program tersebut mendatangkan pelajar-pelajar dari berbagai belahan dunia. Bianca sudah pernah ke Jepang, Swiss, Brazil, Amerika Serikat, dan bahkan Nepal.

“Di sela-sela setiap tahun akademik, aku berkesempatan buat ikut program camp yang fully-funded oleh panitia. Aku bertemu banyak orang, mendapat teman, dan belajar banyak hal tentang budaya dunia,” ceritanya.

Bagi Bianca, pengalaman yang ia dapat dari setiap camp yang diikuti mengalahkan segala prestasi dan perlombaan yang pernah dimenangkan.

“Aku menemukan passion aku dalam berkomunikasi dan menghubungkan orang-orang yang datang dari latar belakang yang berbeda di situ.”

Ingin Menjadi Penerjemah Multilingual

Kini, Bianca sedang menekuni studinya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dan mengambil jurusan Sastra Jerman. Ia mengaku bahwa jurusan ini ia ambil karena pengetahuannya mengenai bahasa Jerman masih minim.

“Aku mau ambil bahasa yang sebelumnya belum pernah aku tekuni,” katanya.

Kelak, Bianca ingin menjadi penerjemah multilingual yang bisa bekerja untuk pemerintah. Meskipun pendidikannya selama berkuliah adalah Sastra Jerman, Bianca telah mengambil beberapa tes sertifikasi bahasa yang bisa membuat dirinya lebih kredibel saat meniti karier.

“Aku sudah sertifikasi bahasa Inggris, Jepang, Korea, Mandarin, dan Spanyol. Sebentar lagi aku mau lanjut persiapan untuk bahasa Prancis, Jerman, Arab, dan Rusia,” tambah Bianca.

Bagi Bianca, bahasa tidak hanya penghubung antar manusia, tetapi juga awal dari kehidupan seseorang di masa depan. Ia berharap, kemampuan berbahasa yang dimiliki bisa membawanya menuju impian.

Selain Bianca L., baca juga cerita-cerita dari perempuan hebat lainnya di sini.

Mau kenalan dengan cewek-cewek keren? Bergabung ke Girls Beyond Circle sekarang!

Sister Sites Spotlight

Explore Girls Beyond