
Kenali 4 Jenis Attachment Style: Avoidant, Anxious, Secure, dan Disorganized
Pernahkah kamu bertanya-tanya, “Kenapa ya, aku selalu begini dalam hubungan?” atau “Kenapa aku takut banget ditinggalkan?” Jawabannya mungkin ada pada sesuatu yang disebut gaya kelekatan atau attachment style. Ini adalah pola kita berinteraksi dan berperilaku dalam hubungan, yang ternyata, akarnya sudah tertanam sejak kita masih bayi!
Attachment style kita terbentuk dari interaksi awal dengan orang tua atau pengasuh utama. Pola ini kemudian jadi cetak biru bagaimana kita mencari kedekatan, menangani penolakan, hingga menjalin hubungan romantis saat dewasa.
Yuk, kita cari tahu 4 jenis attachment style: Aman (Secure), Cemas (Anxious), Menghindar (Avoidant), dan Kacau (Disorganized) yang dilansir dari Healthline, Cleveland Clinics, sampai The Attachment Project!
Baca juga: [Quiz] Gaya Cintamu Seperti Apa? Yuk, Temukan Attachment Style Kamu!
Apa Itu Attachment Style?

Dilansir dari Healthline, konsep penting ini dikembangkan pada tahun 1960-an dan 1970-an oleh psikiater Inggris John Bowlby dan psikolog Amerika-Kanada Mary Ainsworth.
Inti dari teori ini adalah: Orang tua yang hadir dan responsif terhadap kebutuhan bayi mereka akan memberikan si kecil “basis aman” (safe base). Dari basis aman ini, anak akan percaya diri menjelajahi dunia luas, lalu kembali untuk mencari kenyamanan dan perlindungan saat dibutuhkan.
Kenapa Ini Penting?
- Pondasi Kepercayaan: Ketika kamu dibesarkan dengan keyakinan bahwa orang tua selalu ada untukmu, kamu cenderung kurang merasa takut. Perasaan percaya yang berharga ini terbangun sejak bayi hingga remaja.
- Mempengaruhi Hubungan Masa Depan: Pengalaman positif dengan pengasuh membuatmu percaya bahwa orang lain juga bisa diandalkan. Ini akan memengaruhi semua hubunganmu, termasuk pertemanan dan percintaan.
Mary Ainsworth awalnya mendefinisikan tiga attachment style utama melalui penelitian terkenalnya yang disebut “Situasi Aneh” (The Strange Situation). Belakangan, para peneliti menambahkan gaya keempat. Empat attachment style itu adalah:
- Kelekatan Aman (Secure Attachment)
- Kelekatan Cemas (Anxious Attachment)
- Kelekatan Menghindar (Avoidant Attachment)
- Kelekatan Kacau/Cemas-Menghindar (Disorganized Attachment)
1. Secure Attachment

Jenis attachment style ini yang ideal dan paling sehat! Sekitar 56% orang dewasa diperkirakan memiliki gaya ini.
Asal-usul di Masa Kecil
Attachment style aman terjadi ketika pengasuh selalu tersedia, sensitif, responsif, dan menerima semua reaksi emosional anak.
- Anak merasa bebas menjelajah lingkungan, tapi tahu orang tua selalu ada saat ia kembali mencari keamanan dan kenyamanan.
- Orang tua memeluk, bermain, dan menenangkan saat anak sedih. Anak belajar bahwa ia boleh mengekspresikan emosi negatif dan akan ada yang membantu.
Ciri-ciri Saat Dewasa
Dewasa dengan kelekatan aman cenderung sukses dalam hubungan intim, baik itu pertemanan maupun percintaan. Mereka percaya diri, seimbang, dan suportif.
- Punya harga diri yang tinggi.
- Nyaman dengan hubungan yang intim dan langgeng. Mereka percaya cinta romantis itu abadi.
- Mampu mengatur emosi dengan baik.
- Berkomunikasi secara jujur dan efektif.
- Merasa nyaman saat menghabiskan waktu sendirian (otonom).
- Mencari dukungan sosial saat dibutuhkan dan terbuka membagi perasaan dengan pasangan atau teman.
- Mampu mengelola konflik secara sehat.
Orang dengan kelekatan aman umumnya memiliki hubungan yang saling percaya, bertahan lama, dan memuaskan.
2. Anxious Attachment

Anxious attachment adalah salah satu tipe kelekatan enggak aman (insecure attachment), juga sering disebut sebagai Ambivalen atau Preokupasi (Preoccupied).
Asal-usul di Masa Kecil
Gaya ini terbentuk karena orang tua merespons kebutuhan anak secara enggak konsisten (sporadis). Kadang perhatian dan perlindungan ada, kadang enggak.
- Anak enggak bisa mengandalkan orang tua untuk selalu hadir saat dibutuhkan.
- Karena rasa enggak aman ini, anak mungkin menjadi lebih menuntut (demanding) dan bahkan “lengket” (clingy). Mereka sulit jauh dari orang tua untuk menjelajah.
- Dalam studi The Strange Situation, anak dengan gaya cemas sangat sulit ditenangkan saat orang tua kembali setelah berpisah, dan butuh waktu lama untuk tenang. Mereka juga cenderung curiga pada orang asing.
Ciri-ciri Saat Dewasa
Orang dengan kelekatan cemas sering dicirikan dengan rasa takut yang kuat akan penolakan dan ditinggalkan. Mereka mendambakan kedekatan, tetapi kecemasan ini justru bisa merusak hubungan.
- Takut ditinggalkan dan cenderung mencari kepastian atau validasi terus-menerus dari pasangannya.
- Mengalami banyak kecemasan dalam hubungan. Mereka khawatir pasangannya enggak membalas perasaan mereka sepenuhnya.
- Cenderung clingy atau codependent (saling ketergantungan yang enggak sehat).
- Sangat sensitif terhadap kritik.
- Memiliki harga diri yang rendah dan butuh persetujuan dari luar untuk merasa divalidasi.
- Cenderung cemburu.
- Sangat tertekan saat hubungan berakhir.
Dalam hubungan, kecemasan ini bisa membuat seseorang ragu-ragu untuk benar-benar dekat atau terus-menerus bertanya-tanya apakah ia sudah melakukan terlalu banyak atau terlalu sedikit.
Baca juga: Ciri-Ciri Hubungan Secure Attachment, Kamu dan Pasangan Dewasa secara Emosional
3. Avoidant Attachment

Avoidant attachment adalah tipe kelekatan enggak aman. Kadang disebut juga Dismissive (Menolak).
Asal-usul di Masa Kecil
Gaya ini muncul ketika orang tua kesulitan menerima dan merespons kebutuhan anak secara sensitif. Alih-alih menenangkan, orang tua justru:
- Meminimalkan perasaan anak (misalnya, “Jangan cengeng, begitu saja nangis!”).
- Menolak tuntutan anak atau enggak membantu dalam tugas yang sulit.
- Anak belajar bahwa lebih baik mengabaikan perasaannya dan menjadi mandiri. Mereka belajar bahwa mencari orang tua enggak akan membantu.
- Anak dengan kelekatan ini enggak akan mencari orang tua saat tertekan dan berusaha meminimalkan menunjukkan emosi negatif. Mereka menunjukkan sedikit atau enggak ada preferensi antara orang tua dan orang asing.
Ciri-ciri Saat Dewasa
Dewasa dengan kelekatan menghindar sering berjuang dengan intimasi atau kedekatan emosional. Mereka sangat menghargai kemandirian dan kemerdekaan.
- Memiliki kesulitan dengan keintiman dan hubungan yang dekat.
- enggak banyak menginvestasikan emosi dalam hubungan sosial atau romantis.
- Cenderung menarik diri secara emosional atau fisik ketika hubungan menjadi terlalu dekat, sebagai upaya menjaga kemandirian. Mereka sering menghindari keterlibatan yang lebih dalam.
- Kesulitan membagi pikiran dan perasaan dengan pasangan.
- Bisa jadi workaholic atau sering menggunakan alasan seperti jam kerja panjang untuk menghindari kedekatan.
- Merasa terancam ketika seseorang mencoba mendekat secara emosional.
- Sering punya masalah komitmen.
- Menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang langka dan sementara.
Ketika hubungan berakhir, mereka cenderung mengalami sedikit tekanan emosional (atau seenggaknya enggak menunjukkannya). Mereka cenderung menjauh sebagai cara untuk melindungi diri.
4. Disorganized Attachment

Disorganized attachment ini juga dikenal sebagai Cemas-Menghindar (Anxious-Avoidant) atau Takut-Menghindar (Fearful-Avoidant), dan dianggap sebagai tipe kelekatan enggak aman yang paling bermasalah.
Asal-usul di Masa Kecil
Jenis attachment style ini sering dikaitkan dengan pola asuh yang enggak terduga dan menakutkan (atypical behavior). Orang tua mungkin bertindak sebagai sumber kenyamanan sekaligus sumber ketakutan.
- Pengasuh bisa jadi menolak, mengejek, atau menakut-nakuti anak.
- Ketika anak mendekati orang tua, ia merasakan rasa takut dan kecemasan, bukan perlindungan.
- Strategi anak menjadi “kacau” (disorganized) karena ia ingin mendekat untuk mencari kenyamanan (insting kelekatan), tetapi juga ingin lari karena takut (insting bertahan).
- Anak dapat terlihat bingung, linglung, atau menunjukkan campuran perilaku menghindar dan melawan. Mereka mungkin lari ke orang tua saat tertekan, tetapi pada saat yang sama menolak pelukan atau kenyamanan.
Ciri-ciri Saat Dewasa
Dewasa dengan kelekatan kacau menunjukkan campuran perilaku cemas dan menghindar yang membingungkan. Mereka adalah orang yang paling sulit diprediksi dalam hubungan.
- Mendambakan hubungan yang dekat dan penuh cinta, namun juga sangat takut pada hal itu.
- Perilaku yang enggak konsisten dan enggak terduga.
- Berjuang untuk membuka diri dan menjadi rentan (vulnerable).
- Seringkali menyabotase hubungan mereka sendiri.
- Kesulitan membangun kepercayaan dengan pasangan.
- Cenderung berada dalam hubungan yang enggak sehat, ditandai dengan toksisitas, clinginess (kelekatan berlebihan), komunikasi yang buruk, bahkan penyalahgunaan.
- Seringkali memiliki riwayat trauma atau penyalahgunaan di masa kecil.
Mereka mungkin mencari hubungan yang penuh kasih, tetapi tiba-tiba akan mendorong orang tersebut menjauh saat hubungan mulai intim.
Bisakah Attachment Style Berubah?

Kabar baiknya: Ya, kamu bisa mengubah attachment stylemu!
Meskipun John Bowlby percaya attachment style cenderung tetap, neurosains modern menunjukkan bahwa otak kita bisa berubah. Hubungan intim di masa dewasa, pertemanan, dan bahkan terapi dapat memengaruhi attachment style.
Perubahannya dimulai dari:
- Kesadaran Diri (Self-Awareness): Kamu harus tahu dulu, “Attachment style-ku apa, ya?” dan mengenali pola-pola emosionalmu dalam hubungan.
- Keputusan untuk Berubah: Begitu kamu sadar ada masalah, kamu harus memutuskan untuk melakukan perubahan.
- Reframing Pola Pikir: Membingkai ulang pola pikir lama dapat membantu kamu beralih dari kelekatan enggak aman menuju kelekatan aman.
Enggak peduli bagaimana masa kecilmu, kamu selalu punya pilihan untuk membentuk hubungan yang lebih sehat di masa depan. Berdialog dengan pasangan, mencari teman yang memiliki kelekatan aman, atau berbicara dengan konselor atau terapis dapat menjadi langkah awal yang sangat membantu.
Baca juga: 10 Cara Menghadapi Pasangan Avoidant dalam Hubungan Agar Tetap Langgeng!
Dari keempat jenis attachment style di atas, kamu punya ciri-ciri yang mana, nih? Yuk, gabung discord Girls Beyond Circle buat kamu yang suka diskusi menarik seputar relationship!