
Cara Menerapkan ‘I Statement’ agar Hubungan dengan Pasangan Lebih Sehat
Komunikasi selalu menjadi kunci utama untuk membangun hubungan yang sehat. Tentunya hal ini enggak mudah untuk semua orang. Kita cenderung merasa enggak enakan dan takut menyakiti perasaan pasangan kita, apalagi sampai menyalahkan. Namun kita bisa coba ‘I statement’.
Meskipun istilah ini mungkin masih kurang familiar, ‘I statement’ bisa jadi penolong untuk menyampaikan perasaan dengan jujur. Kita juga enggak perlu merasa bersalah karena takut terkesan menyalahkan.
Baca juga: Anti Posting Pacar di Media Sosial? Kamu Bisa Coba ‘Soft Launching Relationship’!
Apa Itu ‘I statement’?

Mengutip dari Verywell Mind, ‘I statement’ adalah cara komunikasi yang fokus kepada perasaan si pembicara. Cara ini bisa menghapus kesan menyalahkan dan mengizinkan pembicara menyampaikan perasaan tanpa mendapat respons defensif.
‘I statement’ atau biasanya juga dikenal sebagai ‘I feel’ statement bisa menjadi alat komunikasi untuk membangun hubungan yang sehat. Cara ini merupakan kebalikan dari ‘You statement’ yang secara langsung menyalahkan si pendengar yang dianggap menyakiti perasaan.
Sederhananya, ‘You statement’ biasanya diungkapkan dengan “menunjuk” pasangan kita yang dianggap bersalah. Misalnya, kita kesal dan khawatir karena pasangan kita belum menghubungi sesuai yang dia janjikan.
Daripada kita mengungkapkan perasaan itu, kita malah mengatakan, “Kamu enggak hubungi aku kayak yang kamu bilang! Sebenernya kamu enggak peduli sama aku, ya?”
Komunikasi seperti ini akan membentuk hubungan yang enggak sehat karena kita cenderung menyalahkan daripada menyampaikan perasaan. Jadi gimana, sih, menerapkan ‘I statement’ supaya kita punya hubungan dengan pasangan lebih sehat?
Cara Menerapkan ‘I statement’

Dari pengertiannya, kita sudah bisa membayangkan cara menerapkan ‘I statement’ ini di hubungan kita. Tapi, jangan sampai salah kaprah, girls! Faktanya, menerapkan komunikasi ini enggak semudah yang kita bayangkan.
1. Sampaikan Perasaan Kamu
Fokus pada apa yang kamu rasakan, bukan tindakan apa yang pasangan kamu sudah lakukan. Dengan melakukan ini, kamu bisa mengenali emosimu sendiri dan enggak mendapat respons defensif dari pasanganmu.
Dilansir dari Verywell Mind, ketika kamu menyalahkan dan mendapatkan respons defensif, komunikasi akan menjadi bias. Sebab, kamu sudah lebih dulu mengenali kesalahan yang dibuat oleh pasanganmu. Makanya, penting untuk mengekspresikan perasaan kamu supaya fokus komunikasi bisa lebih terarah.
2. Hubungkan Perasaanmu dengan Topik Permasalahan
Ketika kamu bisa menyampaikan perasaanmu, seperti, “Aku lagi sedih,” atau sebagainya, kamu bisa menghubungkannya dengan masalah yang ada. Misalnya, “Aku lagi sedih karena saat ini aku melihat interaksi kita semakin berkurang, apalagi kamu jadi lebih sibuk.
”Contoh di atas adalah bagaimana cara menghubungkan perasaanmu dengan masalah yang sedang dihadapi oleh kamu dan pasanganmu. Dengan melakukan ini, kamu dan pasanganmu bisa fokus kepada perasaan yang membuatmu tidak nyaman dan memikirkan solusinya bersama.
Baca juga: Ciri-Ciri Hubungan Secure Attachment, Kamu dan Pasangan Dewasa secara Emosional
3. Sampaikan Apa yang Kamu Inginkan
Meskipun masalah di dalam sebuah hubungan harus diselesaikan bersama, kamu juga perlu menyampaikan apa yang kamu inginkan untuk membangun hubungan yang sehat bersama pasanganmu. Setelah menyampaikan perasaan dan menghubungkannya dengan masalah, kamu bisa mengekspresikan keinginanmu sebagai solusi.
Misalnya, kamu bisa bilang, “Aku lagi sedih karena saat ini aku melihat interaksi kita semakin berkurang, apalagi kamu jadi lebih sibuk. Aku berharap kita bisa meluangkan waktu bersama di weekend.”
Keinginanmu bisa saja dikabulkan, tetapi hubungan yang sehat juga membuka diskusi dan kompromi. Sehingga, kamu juga harus mendengarkan sudut pandang pasanganmu setelah kamu menyampaikan perasaanmu.
Kenapa ‘I statement’ Penting di Sebuah Hubungan?

Dikutip dari Verywell Mind, konsep ‘I statement’ ini dikenalkan oleh seorang psikolog bernama Thomas Gordon pada tahun 1960-an. Dia mengenalkan konsep ini untuk membantu anak-anak dalam menghubungkan emosi dengan tindakan mereka selama bermain.
Namun siapa sangka kalau konsep ini bisa berlaku di berbagai bentuk hubungan, termasuk hubungan romantis. Tentunya ‘I statement’ bisa menjadi cara komunikasi untuk membangun hubungan dengan pasangan lebih sehat. Kenapa komunikasi ini penting?
Dalam menjalani hubungan yang sehat, diperlukan kompromi antara kamu dan pasangan. Dengan menerapkan ‘I statement’, kamu enggak cuma bisa menyampaikan perasaanmu. Kamu dan pasanganmu juga bisa fokus mencari solusi untuk masalah yang ada daripada sibuk memikirkan siapa yang harus disalahkan.
Selain itu, komunikasi ‘I statement’ ini dapat membantu kita mendapatkan feedback dengan cara yang lebih baik daripada sebuah kritik pedas. Dengan fokus pada perasaan pembicara, kita bisa menjadi lebih terbuka untuk menerima sudut pandang baru dan enggak merasa dikritik habis-habisan.
Baca juga: Friendship Burnout: Ketika Berteman Menjadi Melelahkan, Ketahui Cara Menghadapinya!
Menjalani healthy relationship tentunya membutuhkan kerja sama antara kamu dan pasangan. Sebab, hubungan yang sehat dijalani oleh pasangan yang melakukan komunikasi dua arah, bukan satu arah. Yuk belajar mengekspresikan perasaanmu!
Di Girls Beyond Circle, kamu bisa menemukan berbagai tips tentang relationship, personality, dan masih banyak lagi. Gabung di sini supaya enggak ketinggalan!
Hai, aku Diva Anggraini Dunggio, penulis di balik artikel ini. Mau connect di LinkedIn enggak?