
THR Langsung Ludes? Ini 7 Bad Money Habits yang Perlu Kamu Tinggalkan
THR baru masuk, notifikasi saldo sempat bikin hati tenang, lalu beberapa hari kemudian uangnya seperti hilang entah ke mana. Rasanya akrab, ya? Banyak anak muda pernah ada di fase ini: semangat saat menerima uang tambahan, lalu menyesal karena pengeluarannya terlalu spontan. Di momen seperti ini, penting buat kenal dengan bad money habits atau kebiasaan finansial buruk yang sering bikin kondisi keuangan cepat berantakan.
Dilansir dari berbagai sumber, ada beberapa bad money habits yang paling sering bikin keuangan sulit stabil. Kabar baiknya, semua kebiasaan ini bisa diperbaiki kalau kamu mulai sadar pola dan punya strategi yang lebih rapi!
Baca juga: Pilih Nabung atau Investasi? Ini Panduan Tepat Agar Tak Menyesal di Masa Depan
Kenapa Bad Money Habits Sering Enggak Terasa?

Salah satu alasan utama kebiasaan keuangan buruk sulit disadari adalah karena efeknya enggak selalu langsung terasa. Saat beli satu barang murah, mungkin memang enggak bikin rekening jebol. Tapi kalau kebiasaan itu berulang, totalnya bisa besar tanpa kamu sadari.
Selain itu, gaya hidup digital juga bikin belanja makin gampang. Tinggal klik, bayar, selesai. Ditambah lagi media sosial sering mendorong rasa ingin ikut-ikutan. Saat melihat orang lain beli barang baru, nongkrong di tempat hits, atau upgrade gadget, kamu bisa merasa perlu melakukan hal yang sama.
Dilansir dari NPR, pengaruh promosi online, akun media sosial, dan email penawaran sangat besar dalam mendorong belanja impulsif. Karena itu, bad money habits bukan cuma soal enggak bisa menahan diri, tapi juga soal lingkungan yang memang terus menggoda pengeluaran.
Bad Money Habits yang Harus Kamu Tinggalkan

Nah, agar kamu enggak menyesal dengan uang yang kamu keluarkan, inilah beberapa kebiasaan yang perlu kamu tinggalkan dalam melihat “uang”!
1. Enggak punya budget yang jelas
Salah satu bad money habits paling umum adalah menjalani bulan tanpa anggaran. Uang masuk, uang keluar, tapi kamu enggak benar-benar tahu berapa yang dipakai untuk makan, transportasi, hiburan, atau tabungan.
Dilansir dari Clear Tax, enggak punya budget membuat keuangan terasa enggak terarah. Tanpa rencana, kamu jadi lebih mudah merasa “masih ada uang”, padahal pengeluaran kecil sudah menumpuk di banyak pos.
Buat anak muda, budgeting sering dianggap ribet atau terlalu kaku. Padahal, budget justru bikin kamu lebih bebas karena tahu batas aman pengeluaran. Kamu tetap bisa menikmati hidup, tapi tanpa drama menyesal di akhir bulan.
Tips mengelolanya:
- Catat semua pemasukan dan pengeluaran bulanan.
- Bagi uang ke beberapa pos seperti kebutuhan, tabungan, hiburan, dan dana darurat.
- Sisihkan uang untuk diri sendiri secara sadar, misalnya buat self-reward, tapi tetap ada batasnya.
- Evaluasi pengeluaran seminggu sekali supaya lebih mudah mengontrol kebocoran kecil.
2. THR habis karena belanja impulsif
Ini kebiasaan yang paling sering muncul saat ada uang tambahan. Karena merasa “lagi punya lebih”, kamu jadi lebih gampang checkout barang yang sebenarnya enggak dibutuhkan. Awalnya cuma satu dua barang, lalu bertambah karena ada diskon, gratis ongkir, atau promo terbatas.
Salah satu kebiasaan finansial yang perlu ditinggalkan adalah membeli barang karena terpengaruh promosi dan media sosial. Sementara itu, Sequoia Financial Planning juga menyoroti bahwa pengeluaran impulsif tanpa batas bisa membuat dompet bocor terus-menerus.
Belanja impulsif biasanya dipicu oleh emosi: lagi capek, lagi stres, lagi senang, atau sekadar takut ketinggalan tren. Itu sebabnya THR sering cepat habis bukan karena kebutuhan besar, tapi karena banyak keputusan kecil yang enggak dipikirkan matang-matang.
Tips mengelolanya:
- Terapkan aturan tunggu 24 jam sebelum membeli barang non-kebutuhan.
- Hapus aplikasi belanja kalau kamu merasa terlalu sering tergoda.
- Unfollow akun yang bikin kamu ingin belanja terus.
- Buat daftar prioritas sebelum memakai THR: berapa untuk kebutuhan, tabungan, keluarga, dan hiburan.
3. Enggak punya dana darurat
Banyak orang merasa dana darurat belum penting, apalagi kalau masih punya gaji rutin atau akses kartu kredit. Padahal, kondisi darurat bisa datang kapan saja, mulai dari sakit, kehilangan pekerjaan, sampai kebutuhan mendadak di rumah.
Dana darurat penting agar kamu tetap bisa bertahan tanpa harus menambah utang saat kondisi enggak terduga muncul. Punya kartu kredit bukan berarti aman, karena kalau tagihannya enggak sanggup dibayar, masalahnya justru bisa jadi lebih besar.
Buat anak muda, dana darurat sering kalah prioritas dibanding keinginan yang terasa lebih dekat. Padahal, menabung untuk keadaan darurat justru bikin hidup lebih tenang.
Tips mengelolanya:
- Mulai dari nominal kecil, yang penting rutin.
- Pisahkan dana darurat dari rekening harian supaya enggak ikut terpakai.
- Targetkan dana darurat minimal 3 sampai 6 bulan pengeluaran rutin, lalu tingkatkan sesuai kondisi.
- Gunakan hanya untuk situasi benar-benar mendesak, bukan untuk promo dadakan atau liburan impulsif.
4. Mengabaikan utang dan tagihan
Bad money habits berikutnya adalah pura-pura enggak melihat utang. Tagihan kartu kredit, cicilan, atau pembayaran pinjaman sering terasa menakutkan, jadi malah ditunda. Masalahnya, semakin lama diabaikan, bunga dan denda bisa terus bertambah.
Punya utang bukan berarti salah, karena dalam beberapa kondisi utang memang diperlukan. Yang jadi masalah adalah ketika utang dibiarkan menumpuk tanpa strategi pembayaran yang jelas. NPR juga menekankan pentingnya membuat rencana pelunasan utang agar kondisi keuangan enggak makin berat.
Kalau kamu sering bayar minimum atau telat membayar, itu tanda bahwa pola keuangan perlu segera dibenahi.
Tips mengelolanya:
- Catat semua utang beserta bunga dan jatuh temponya.
- Pasang pengingat otomatis untuk pembayaran bulanan.
- Prioritaskan melunasi utang berbunga tinggi lebih dulu.
- Kalau memungkinkan, cari opsi bunga lebih ringan atau restrukturisasi pembayaran.
5. Naik penghasilan, naik gaya hidup
Kebiasaan ini sering enggak disadari. Saat penghasilan naik, pengeluaran juga ikut naik. Kamu merasa pantas upgrade semuanya sekaligus: tempat nongkrong makin mahal, langganan makin banyak, barang yang dibeli makin premium, dan standar hidup ikut berubah.
Kondisi ini dikenal sebagai lifestyle creep atau inflasi gaya hidup. Akibatnya, meski penghasilan bertambah, kamu tetap merasa uang selalu habis. enggak sedikit orang yang secara nominal berpenghasilan lebih tinggi, tapi tetap hidup dari gaji ke gaji.
Padahal, kenaikan penghasilan seharusnya juga diikuti kenaikan tabungan atau investasi, bukan cuma kenaikan pengeluaran.
Tips mengelolanya:
- Saat penghasilan naik, langsung tambah alokasi tabungan.
- Hindari mengubah gaya hidup terlalu cepat.
- Bedakan antara upgrade yang memang dibutuhkan dan yang cuma biar terlihat setara dengan lingkungan.
- Tetapkan target keuangan baru setiap kali pemasukan bertambah.
6. Bayar langganan dan biaya kecil yang sebenarnya enggak perlu
Kadang bukan pengeluaran besar yang bikin uang cepat habis, tapi pengeluaran kecil yang rutin. Mulai dari aplikasi streaming yang jarang dipakai, biaya admin, fee transfer, denda telat bayar, sampai langganan yang lupa dihentikan.
Mengecek mutasi rekening dan daftar langganan penting untuk melihat layanan mana yang benar-benar dipakai. Juga, biaya-biaya kecil seperti fee ATM, overdraft, dan denda keterlambatan bisa jadi bentuk pemborosan yang sebenarnya bisa dicegah.
Karena nominalnya terlihat kecil, banyak orang meremehkannya. Padahal jika dikumpulkan selama beberapa bulan, totalnya bisa lumayan.
Tips mengelolanya:
- Cek seluruh langganan bulanan secara rutin.
- Hentikan layanan yang enggak benar-benar kamu gunakan.
- Perhatikan biaya admin, transfer, dan denda.
- Gunakan pembayaran otomatis untuk tagihan penting agar enggak kena telat bayar.
7. Investasi ikut-ikutan tanpa riset
Sekarang investasi makin mudah diakses, tapi itu juga bikin banyak orang tergoda masuk tanpa benar-benar paham. Ada yang beli saham karena ikut teman, ada yang masuk instrumen tertentu karena sedang ramai dibahas, ada juga yang tertarik karena takut ketinggalan.
Investasi tanpa riset adalah kebiasaan finansial buruk yang bisa berujung kerugian. Setiap orang punya tujuan keuangan dan toleransi risiko yang berbeda, jadi strategi orang lain belum tentu cocok buat kamu.
Buat pemula, yang paling penting bukan terlihat cepat mulai, tapi benar-benar paham ke mana uang ditempatkan.
Tips mengelolanya:
- Pelajari instrumen investasi sebelum menaruh uang.
- Jangan asal ikut tren atau rekomendasi tanpa cek ulang.
- Pahami profil risiko kamu sendiri.
- Mulai dari instrumen yang lebih mudah dipahami dan terdiversifikasi.
Cara Mulai Memperbaiki Bad Money Habits Tanpa Merasa Tersiksa

Memperbaiki kebiasaan keuangan enggak harus langsung ekstrem. Kamu enggak perlu mendadak jadi super hemat atau berhenti menikmati hidup. Yang penting adalah membuat perubahan kecil tapi konsisten.
Mulailah dengan mengenali satu kebiasaan terburukmu lebih dulu. Misalnya, kalau masalah utamamu belanja impulsif, fokus benahi itu dulu. Kalau masalahnya enggak punya budget, mulai dari mencatat pengeluaran. Sedikit demi sedikit, kamu akan lebih paham pola uangmu sendiri.
THR memang menyenangkan, tapi akan jauh lebih terasa manfaatnya kalau enggak langsung habis tanpa arah. Dengan meninggalkan bad money habits, kamu bukan cuma menghindari penyesalan sesaat, tapi juga membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang!
Baca juga: Percaya Enggak Percaya, Tips Feng Shui Ini Bisa Bikin Finansialmu Stabil dan Makin Lancar
Gabung discord Girls Beyond Circle kalau kamu mau tahu lebih banyak tips dan insight menarik lainnya!
Cover: Freepik