gagal menampilkan data

Article

Bukan Lagi Slow Living, Ini Arti Soft Living yang Bisa Kamu Terapkan Mulai Sekarang!

Written by Adila Putri Anisya

Pernah nggak sih kamu merasa capek banget sama tuntutan hidup yang kayak nggak ada habisnya? Baru bangun tidur, sudah kepikiran to-do list yang menumpuk. Buka media sosial, isinya orang-orang yang lagi pamer pencapaian atau hustle culture yang bikin kita merasa “kurang produktif” kalau nggak sibuk 24/7. Fenomena burnout akhirnya jadi makanan sehari-hari buat anak muda zaman sekarang.

Nah, di tengah gempuran rasa lelah ini, muncul sebuah tren yang lagi viral banget di TikTok dan Instagram: Soft Living. Mungkin kamu sering melihat video estetik dengan lampu kamar yang hangat, kegiatan minum matcha di pagi hari, atau orang yang pakai baju nyaman sambil baca buku. Tapi, apakah soft living cuma sekadar estetik belaka? Dan apa bedanya dengan slow living yang sudah lebih dulu populer?

Yuk, kita bedah bareng-bareng arti soft living dan gimana cara kamu menerapkannya biar mental tetap aman dan hidup terasa lebih ringan!

Baca juga: Tren Terbaru, Soft Life: Pengganti Hustle Culture, Ini Penjelasannya! 

Apa Arti Soft Living?

Apa Arti Soft Living?
Sumber foto: Freepik

Kalau bicara soal arti soft living, banyak orang yang salah kaprah dan menganggap ini adalah gaya hidup malas-malasan. Padahal, bukan itu poinnya.

Soft living adalah sebuah pilihan gaya hidup yang memprioritaskan kenyamanan, ketenangan pikiran, dan kelembutan terhadap diri sendiri. Istilah ini awalnya populer dari komunitas kreator konten di Nigeria (soft life) yang kemudian mendunia. Intinya, kamu memilih untuk tidak “berperang” dengan hidup. Kamu menolak konsep bahwa hidup harus penuh penderitaan dan kerja keras bagai kuda untuk bisa bahagia.

Soft living bukan berarti kamu nggak punya tanggung jawab atau berhenti bekerja. Tapi, kamu memilih untuk melakukan segalanya dengan cara yang lebih halus, meminimalkan stres, dan nggak membiarkan ambisi merusak kesehatan mentalmu. Ini adalah cara kamu mengambil jeda dari dunia yang terlalu bising dan menuntut.

Bedanya Soft Living vs. Slow Living

Bedanya Soft Living vs. Slow Living
Sumber foto: Freepik

Mungkin kamu bertanya, “Terus bedanya sama slow living apa dong?” Memang keduanya sama-sama mengajak kita untuk lebih sadar (mindful), tapi ada perbedaan mendasar yang perlu kamu tahu:

1. Fokus Utama: Estetika vs. Filosofi

  • Soft Living cenderung lebih fokus pada kenyamanan personal dan vibrasi yang menenangkan. Ini sangat dipengaruhi oleh suasana lingkungan, seperti penggunaan tekstur kain yang lembut, pencahayaan yang redup, dan rutinitas perawatan diri yang memanjakan panca indra.
  • Slow Living lebih dalam lagi. Fokusnya adalah mengurangi kecepatan hidup secara keseluruhan. Ini tentang menyederhanakan jadwal, mengurangi konsumsi barang berlebihan, dan kembali ke alam.

2. Pendekatan Waktu: Momen vs. Sistem

  • Soft Living sering kali berupa ritual harian atau momen-momen kecil yang bikin kamu merasa nyaman saat ini juga. Misalnya, mandi busa setelah kerja atau pakai parfum favorit sebelum tidur.
  • Slow Living adalah tentang membangun sistem hidup jangka panjang. Bagaimana kamu mengatur waktu agar nggak terburu-buru dan bagaimana kamu menyelaraskan setiap tindakan dengan nilai-nilai hidupmu.

3. Kenyamanan vs. Keselarasan

  • Dalam soft living, kenyamanan adalah raja. Kamu mencari cara agar hidup terasa semulus mungkin.
  • Dalam slow living, keselarasan (alignment) adalah kuncinya. Kamu mungkin melakukan hal yang sulit (seperti berkebun atau masak sendiri dari nol), tapi kamu menikmatinya karena itu membuatmu merasa utuh.

Kenapa Anak Muda Sekarang Butuh Soft Living?

Kenapa Anak Muda Sekarang Butuh Soft Living?
Sumber foto: Freepik

Kita hidup di era di mana informasi masuk secepat kilat. Tekanan untuk sukses di usia muda sering kali bikin kita merasa gagal kalau belum punya segalanya di usia 25 tahun. Arti soft living hadir sebagai pelindung atau buffer agar kamu nggak hancur karena tekanan tersebut.

Soft living memberikan kamu izin untuk bilang “nggak” pada hal-hal yang menguras energi. Kamu nggak harus ikut setiap acara nongkrong kalau kamu butuh istirahat. Kamu nggak harus mengambil beban kerja tambahan hanya demi validasi atasan jika itu artinya kamu bakal tipes minggu depannya.

Singkatnya, soft living adalah bentuk perlawanan terhadap budaya burnout. Ini adalah cara kamu bilang ke dunia, “Aku berharga, terlepas dari seberapa produktifnya aku hari ini.”

Baca juga: Apa Itu Soft Living? Cara Ibu Tetap Waras di Tengah Rutinitas Padat 

Cara Menerapkan Soft Living dalam Keseharian

Cara Menerapkan Soft Living dalam Keseharian
Sumber foto: Freepik

Nggak perlu modal besar atau renovasi rumah total untuk mulai menerapkan gaya hidup ini. Kamu bisa mulai dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kamu. Berikut adalah langkah praktisnya:

1. Buat Batasan (Boundaries) untuk Energimu

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah belajar menjaga energi. Soft living nggak akan berhasil kalau kamu tetap membiarkan orang lain atau pekerjaan menginvasi ruang pribadimu secara berlebihan.

  • Jangan ragu untuk menolak ajakan keluar kalau kamu merasa capek.
  • Matikan notifikasi pekerjaan setelah jam kantor selesai.
  • Lindungi waktu tidurmu seolah itu adalah harta karun paling berharga.

2. Temukan Definisi Istirahat Versimu

Istirahat itu nggak cuma tidur, lho. Buat sebagian orang, istirahat bisa berarti masak makanan kesukaan, jalan santai tanpa tujuan, atau sekadar bengong sambil dengerin musik. Temukan apa yang benar-benar bisa mereset sistem sarafmu, lalu jadikan itu sebagai rutinitas harian, bukan sekadar hadiah kalau kamu sudah sukses.

3. Sengaja Menciptakan Kenyamanan

Pernah nggak kamu punya barang bagus tapi disimpan terus “buat acara spesial”? Dalam soft living, hari ini adalah acara spesialnya.

  • Pakai mug cantikmu untuk minum kopi setiap pagi.
  • Nyalakan lilin aroma terapi saat kamu lagi ngerjain tugas.
  • Pilih baju dengan bahan yang paling nyaman di kulitmu.
    Sentuhan-sentuhan kecil ini membantu otak kamu merasa aman dan rileks.

4. Lepaskan Rasa Bersalah (No More Guilt)

Ini adalah bagian tersulit tapi paling penting dalam memahami arti soft living. Kita sering merasa bersalah kalau nggak melakukan apa-apa. Padahal, istirahat adalah kebutuhan biologis, bukan kemewahan. Kamu nggak perlu minta maaf karena kamu memilih untuk duduk diam selama 30 menit tanpa melihat HP.

5. Terima Bahwa Nggak Semua Hal Bisa Kamu Kontrol

Dunia ini berisik dan kadang kacau. Kamu mungkin nggak bisa mengontrol macetnya jalanan atau bos yang lagi galak. Tapi, kamu bisa mengontrol bagaimana kamu meresponsnya. Soft living mengajarkan kita untuk melembutkan apa yang bisa kita kendalikan dan melepaskan apa yang nggak bisa. Fokuslah pada hal-hal kecil yang ada di depan mata.

6. Cari “Circle” yang Satu Frekuensi

Lingkungan itu sangat berpengaruh. Kalau teman-temanmu selalu ngomongin soal kerjaan dan kompetisi, kamu bakal susah untuk merasa tenang. Cobalah berteman dengan orang-orang yang juga menghargai ketenangan dan batasan diri. Punya teman ngobrol yang nggak bikin kamu merasa “tertinggal” itu adalah bentuk kemewahan di zaman sekarang.

Baca juga: Slow Living Adalah Gaya Hidup untuk Gen Z? Simak Faktanya!

Jadi, sudah siap untuk memulai hidup yang lebih “lembut” hari ini? Ingat, kamu berhak mendapatkan kedamaian, dan itu nggak perlu menunggu sampai kamu sukses atau kaya raya. Kedamaian itu bisa kamu jemput sekarang juga.

Stay soft, stay sane!

—-

Gabung WhatsApp Group Girls Beyond Circle kalau kamu mau tahu istilah yang lagi tren lainnya!

Comments

(0 comments)

Sister Sites Spotlight

Explore Girls Beyond