gagal menampilkan data

ic-gb
detail-thumb

Breast Cancer Awareness Month: Cegah Tingginya Angka Kanker Payudara dengan SADARI

Written by Angela Ranitta

Setiap tahun, bulan Oktober diperingati sebagai Breast Cancer Awareness Month. Kanker payudara merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan. Pada tahun 2020, sebanyak 2,3 juta perempuan di seluruh dunia didiagnosis dengan kanker payudara. Pada tahun yang sama, terdapat 685 ribu kematian akibat kanker payudara.

Di Indonesia, kanker payudara menempati urutan pertama sebagai kanker yang paling banyak dialami masyarakat. Data dari Globocan pada tahun 2020 lalu menunjukkan bahwa Indonesia memiliki hampir 400 ribu kasus kanker payudara. Sementara itu, angka kematiannya mencapai lebih dari 22 ribu jiwa. Hal ini tentunya sangat disayangkan, mengingat kanker payudara termasuk jenis kanker yang paling mudah dideteksi. Data menunjukkan bahwa deteksi dini kanker payudara dapat menekan angka kematian akibat penyakit tersebut hingga 43%.

Kanker payudara umumnya terbentuk di kelenjar penghasil susu (lobulus) atau saluran (duktus) yang membawa air susu dari kelenjar ke puting. Namun, sel kanker juga bisa terbentuk di jaringan lemak atau jaringan ikat di dalam payudara. 

Faktor Risiko Kanker Payudara

Perempuan yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker payudara lebih berisiko tinggi.

Hingga kini, penyebab terjadinya kanker payudara masih belum diketahui secara pasti. Dalam kebanyakan kasus, kanker payudara bersifat genetik atau turunan. Namun, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara, seperti gaya hidup tidak sehat.

Sebuah studi dari The British Medical Journal pada tahun 2019 menemukan adanya hubungan antara konsumsi gula dengan peningkatan risiko kanker. Menurut studi tersebut, konsumsi minuman manis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara hingga 22%. Konsumsi gula yang berlebihan juga dapat menyebabkan obesitas, yang merupakan salah satu faktor risiko kanker payudara.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko kamu mengalami kanker payudara, antara lain:

  • Faktor genetik menyumbang 5-10% risiko seseorang terkena kanker payudara. Jika kamu punya anggota keluarga yang memiliki riwayat kanker payudara, sebaiknya kamu lebih waspada dan rutin mengecek kesehatan payudara kamu. 
  • Faktor usia yang semakin bertambah akan semakin meningkatkan pula risikonya. Rata-rata perempuan yang menderita kanker payudara berusia di atas 50 tahun. Namun, kanker ini juga dapat menyerang perempuan yang mulai menstruasi di bawah usia 12 tahun, maupun menopause di atas usia 55 tahun.
  • Faktor kehamilan juga memiliki peran dalam meningkatkan risiko kanker payudara. Perempuan yang belum atau tidak pernah hamil, pertama kali hamil di atas usia 30 tahun, serta tidak pernah menyusui tergolong rentan terhadap kanker payudara.
  • Pernah terpapar radiasi, terutama di area dada. Kamu yang bekerja di sektor kimia, nuklir, pertambangan, maupun profesi-profesi lainnya yang rentan terpapar radiasi perlu berhati-hati.
  • Kebiasaan merokok atau minum minuman beralkohol.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas.

Seseorang yang pernah mengalami kanker di salah satu payudara juga berisiko tinggi meskipun sel kanker tersebut sudah diobati atau diangkat. Karenanya, kalau kamu pernah mengalami kanker payudara, kamu harus tetap rutin memperhatikan kesehatan payudara kamu, ya.

Baca juga: Kenalan dengan Imposter Syndrome, Musuh Perempuan dalam Meraih Kesuksesan

Gejala Kanker Payudara

Munculnya benjolan tak wajar di area payudara dan ketiak merupakan salah satu gejala kanker payudara yang paling signifikan.

Meskipun kanker payudara termasuk salah satu jenis kanker yang mudah dideteksi, tetapi banyak pengidapnya yang baru sadar ketika mulai memasuki tahap lanjut. Hal ini dikarenakan kanker payudara seringkali tidak menimbulkan rasa sakit pada area tersebut. Selain itu, benjolan yang muncul sering disalahpahami sebagai bagian dari jaringan payudara, sehingga kemunculannya diabaikan oleh pengidap.

Berikut adalah sejumlah gejala kanker payudara yang perlu kamu perhatikan:

  • Muncul benjolan tak wajar di area payudara atau ketiak. Benjolan ini biasanya memiliki tekstur yang tidak merata dan cenderung keras. Benjolan ini juga dapat menimbulkan pengerasan pada payudara.
  • Ukuran payudara besar sebelah. Perempuan seringkali memiliki ukuran payudara yang berbeda satu dengan yang lainnya. Namun, apabila perbedaan ukurannya terlalu signifikan, maka patut dicurigai. Ukuran payudara yang besar sebelah disebabkan oleh munculnya benjolan tak wajar dari sel kanker.
  • Perubahan tekstur kulit payudara. Kulit di area payudara mengalami penebalan, tampak berlesung, atau seperti kulit jeruk. Selain itu, kulit yang mengalami perubahan tekstur biasanya juga terasa sangat gatal. 
  • Puting melesak ke dalam. Sel kanker yang menyerang jaringan di bawah puting dapat membuat puting payudara tampak terkulai atau tenggelam. 
  • Keluar cairan berwarna dari puting. Cairan tersebut biasanya memiliki warna cokelat kemerahan, bening, kuning, hijau, hingga putih keruh mirip susu. Keluarnya cairan dari puting payudara perlu diwaspadai, terutama apabila kamu sedang tidak menyusui. Bahkan dalam beberapa kasus dapat keluar darah dari puting payudara.
  • Nyeri yang tidak wajar dan terus-menerus pada payudara. Perempuan memang sering mengalami nyeri payudara ketika menjelang menstruasi. Namun, jika rasa nyeri terus terjadi dan semakin mengganggu, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Beberapa pengidap kanker payudara juga mengalami rasa panas mirip terbakar di area payudara mereka.

Diagnosis dan Penanganan Kanker Payudara

Ada berbagai macam prosedur pemeriksaan untuk mendiagnosis kanker payudara, begitu pula penanganannya.

Diagnosis kanker payudara oleh dokter biasanya meliputi wawancara medis serta pemeriksaan fisik pada area payudara dan ketiak pasien. Adapun prosedur pemeriksaan lainnya, yaitu:

  • Mammogram atau foto payudara untuk mendeteksi kelainan pada payudara.
  • Ultrasonografi (USG) payudara untuk mendeteksi apakah benjolan payudara bersifat padat atau merupakan kista yang berisi cairan.
  • Biopsi atau pengambilan sampel jaringan untuk diperiksa di laboratorium dan mendeteksi apakah sel tersebut bersifat jinak atau ganas.
  • Computerized Tomography scan (CT scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk mendeteksi ukuran serta area penyebaran sel kanker payudara.

Sementara itu, prosedur penanganan kanker payudara secara medis, antara lain:

  • Pembedahan untuk mengangkat sel kanker atau benjolan (lumpektomi), seluruh payudara (masektomi), sebagian kelenjar limfe (sentinel node biopsy), atau beberapa kelenjar limfe (axillary lymph node dissection).
  • Radioterapi dengan energi sinar X dan proton untuk mematikan sel kanker.
  • Kemoterapi dengan obat-obatan tertentu untuk mematikan sel kanker.
  • Terapi hormonal untuk menghalangi sel kanker mendapatkan hormon yang mereka butuhkan untuk tumbuh.
  • Terapi biologis untuk menjaga sistem kekebalan tubuh pengidap kanker payudara, maupun mengendalikan efek samping dari perawatan kanker lainnya.
  • Terapi radiasi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk mematikan sel kanker.

Prosedur penanganan kanker payudara tentunya akan disesuaikan dengan hasil diagnosis dokter dan tingkat keparahan kanker yang dialami. Hindari melakukan prosedur-prosedur non-medis yang tidak terjamin kebenarannya untuk menangani kanker payudara, ya. Sebab, hal ini justru bisa memperparah kondisi pasien, serta menimbulkan penyakit-penyakit lainnya.

Baca juga: Hindari Self Diagnosis, Segera ke Psikolog atau Psikiater Kalau Kamu Alami 10 Gejala Ini

Kanker Payudara pada Laki-laki

Meskipun angkanya rendah, tetapi kanker payudara juga dapat dialami oleh laki-laki.

Tahukah kamu kalau kanker payudara tidak hanya terjadi pada perempuan, tetapi juga laki-laki? Sama seperti perempuan, laki-laki juga memiliki jaringan payudara. Namun, perkembangannya berbeda, sehingga payudara laki-laki tidak membesar seperti perempuan, serta menghasilkan air susu. 

Menurut American Cancer Society, 2.700 laki-laki didiagnosis dengan kanker payudara setiap tahunnya, dan 530 di antaranya meninggal dunia. Meskipun angka kanker payudara laki-laki sangat kecil apabila dibandingkan dengan perempuan, tetapi banyak sekali kasus yang terlambat dideteksi dan ditangani. Sebab, masih banyak orang awam yang belum tahu kalau laki-laki pun bisa terkena kanker payudara.

Kanker payudara pada laki-laki biasanya disebabkan oleh faktor usia. Sebagian besar kasus kanker payudara ditemukan pada laki-laki usia lanjut, yaitu 60-70 tahun. Pekerjaan juga dapat meningkatkan faktor risiko kanker payudara laki-laki. Laki-laki yang terpapar radiasi atau bekerja di bawah terpaan suhu panas, seperti tukang las, pandai besi, buruh pabrik baja, dan sebagainya mesti berhati-hati.

Kanker payudara juga bisa disebabkan oleh kadar hormon estrogen yang terlalu tinggi pada laki-laki. Umumnya, laki-laki memiliki kadar hormon testosteron yang lebih tinggi daripada hormon estrogennya. Tingginya kadar estrogen pada tubuh laki-laki dapat disebabkan oleh terapi hormon, obesitas, gangguan pada testis, gangguan pada hati, hingga kecanduan alkohol.

Pencegahan Kanker Payudara

Meskipun faktor penyebabnya masih belum pasti, tetapi banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kanker payudara.

Kamu tentunya dapat melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya kanker payudara. Berikut adalah sejumlah tips untuk kamu menekan risiko mengalami kanker payudara:

  • Menjaga berat badan tetap ideal. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, obesitas dapat menjadi faktor risiko kanker payudara. Faktanya, perempuan yang obesitas 20-40% lebih berisiko terkena kanker payudara. Rutin berolahraga serta menjaga pola makan bisa membantumu mempertahankan berat badan yang ideal.
  • Menjaga pola makan. Kamu pastinya sudah tahu, dong kalau pola makan yang kurang sehat sangat bisa menjadi sumber penyakit di kemudian hari, tak terkecuali kanker payudara. Banyak-banyak mengonsumsi makanan sehat, seperti sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan atau biji-bijian, dan sebagainya. Hindari konsumsi gula, lemak jenuh, dan zat-zat lainnya secara berlebihan. Pastikan asupan gizi kamu terpenuhi secara seimbang.
  • Menghindari konsumsi minuman beralkohol. Alkohol dapat memicu peningkatan kadar estrogen dalam tubuh dan menjadi faktor risiko kanker payudara. Selain itu, terlalu banyak minum minuman beralkohol juga dapat menimbulkan penyakit-penyakit lainnya yang tidak kalah fatal dari kanker payudara. 
  • Menghindari kebiasaan merokok. Berdasarkan data, mantan perokok memiliki risiko terkena kanker payudara sebesar 6-9% lebih tinggi daripada orang-orang yang tidak pernah merokok sama sekali. Sementara itu, perokok aktif memiliki risiko sebesar 7-13%.
  • Melakukan olahraga secara rutin. Kamu bisa melakukan olahraga apa pun yang kamu mau, mulai dari bersepeda, berenang, jogging, senam, maupun workout di gym. Olahraga dapat mencegah terjadinya obesitas yang merupakan faktor risiko kanker payudara. 
  • Menyusui bayi secara teratur. Buat kamu yang sudah memiliki anak di bawah usia 2 tahun, ada baiknya kamu menyusui anakmu secara teratur. Jika kamu bekerja atau sering bepergian, kamu juga bisa memompa ASI dan menyimpannya di dalam kulkas untuk diberikan kepada anakmu melalui botol. Menyusui bayi secara teratur dapat mengurangi risiko terkena kanker payudara. Selain itu, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif akan jauh lebih sehat nantinya.

Baca juga: Menemukan Diri Sendiri dalam Olahraga

Deteksi Dini dengan SADARI

Kematian akibat kanker payudara dapat dicegah melalui deteksi dini secara mandiri.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, kanker payudara seringkali baru ketahuan saat sudah memasuki tahapan lanjut. Padahal kanker payudara yang terdeteksi sejak dini dapat mengurangi risiko kematian pasien hingga nyaris 50%. Nah, kamu bisa menghindari ini dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI. 

Prosedur SADARI bisa kamu lakukan seperti gambar di bawah ini:

Lakukan prosedur pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI secara rutin 7-10 hari setelah menstruasi (dihitung dari hari pertama menstruasi). Bagi perempuan yang telah menopause atau tidak rutin menstruasi karena kondisi kesehatan tertentu, lakukan SADARI pada tanggal yang sama setiap bulannya.

Kamu juga bisa melakukan mamografi atau rontgen jaringan payudara secara rutin, terlebih apabila kamu memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker payudara. Mamografi rutin juga dianjurkan bagi perempuan yang telah berusia 40 tahun ke atas. 

Mamografi dapat dilakukan setiap 1-2 tahun sekali. Biaya prosedur mamografi di Indonesia sangat bervariasi, yaitu 350-900 ribu rupiah. Kabar baiknya, mamografi sekarang sudah bisa ditanggung oleh BPJS Kesehatan, loh.

Baca juga: Cara Mengatur Keuangan Bagi First Jobber

Tahukah kamu bahwa di luar sana masih banyak perempuan pengidap kanker payudara yang kesulitan mengakses layanan kesehatan? Biaya seringkali menjadi kendala nomor satu bagi mereka untuk mendapatkan penanganan. 

Kamu bisa berdonasi untuk membantu perempuan-perempuan Indonesia yang kesulitan mengakses penanganan kanker payudara.

Kamu bisa membantu mereka dengan berdonasi melalui Lovepink Indonesia, organisasi nirlaba yang berfokus pada sosialisasi deteksi dini kanker payudara serta pendampingan penyintas kanker payudara. Lovepink Indonesia menggalang dana melalui penjualan merchandise berupa kaos seharga 200 ribu rupiah saja. Kamu bisa cek di http://lovepinkindonesia.org/merchandise untuk membeli kaos dari Lovepink Indonesia. 

Kamu juga bisa berdonasi ke Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Donasi ke YKPI dapat disalurkan melalui rekening Bank Mandiri Cab. Wijaya 126-000-705-9198 a.n. Yayasan Kanker Payudara Indonesia, atau rekening BCA 217-111-9997 a.n. Yayasan Kanker Payudara Indonesia.

Semoga semakin banyak kasus kanker payudara di Indonesia yang mendapat penanganan sejak dini. Dengan begitu, kita bisa bersama-sama menekan tingginya angka kematian akibat kanker payudara. Stay healthy, girls!

Kamu pengen sharing seputar isu kesehatan dan perempuan lainnya? Yuk, gabung dengan Girls Beyond Circle! Klik di sini untuk join, ya!