Menu
Personal Growth

Bagaimana Caranya Berhenti Menjadi People Pleaser?

Pernahkah kamu terjebak dalam situasi yang nggak nyaman karena sulit menolak permintaan orang lain? Atau mungkin kamu pernah terpaksa menertawakan gurauan yang kasar atau menyinggung karena takut dibilang nggak asyik? Kalau jawabannya iya dan kamu sering banget mengalaminya, bisa jadi kamu merupakan seorang people pleaser.

Apa Itu People Pleaser?

People pleaser adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki kecenderungan untuk selalu berusaha menyenangkan orang-orang di sekitarnya. Kepribadian ini biasanya ditandai dengan sulit menolak permintaan orang lain. Seorang people pleaser juga kerap mengalami kesulitan dalam menyampaikan pendapat maupun membuat keputusan. Sebab, mereka khawatir sikapnya tersebut akan membuat orang lain tersinggung atau kecewa. 

Akibatnya, people pleaser nggak jarang dimanfaatkan atau direndahkan oleh orang lain. Sebab, mereka tahu bahwa kamu nggak pernah menunjukkan penolakan atau ketidaksetujuan pada orang lain. 

Baca juga: “I Can Fix Him”: Sindrom Pahlawan ala “F4 Thailand” yang Bikin Kamu Terjebak Toxic Relationship

Tanda-tanda People Pleaser

Seperti yang sudah disebutkan, seorang people pleaser kesulitan bersikap asertif atau menunjukkan ketegasan. Nah, berikut adalah sejumlah pertanda kamu telah menjadi seseorang dengan kepribadian people pleaser:

  • Memandang rendah diri sendiri
  • Mudah menyalahkan diri sendiri
  • Selalu merasa cemas apabila orang lain nggak menyukaimu
  • Merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain
  • Sulit mengatakan tidak terhadap permintaan orang lain
  • Sulit membuat keputusan berdasarkan pertimbangan pribadi
  • Mudah mengikuti pendapat atau keinginan orang lain
  • Sangat menghindari konflik atau perdebatan dengan orang lain
  • Selalu ingin membantu orang lain, tapi sungkan menerima bantuan dari mereka
  • Enggan mengakui perasaan yang dianggap negatif, seperti marah, kecewa, atau sedih
  • Meminta maaf atas hal-hal yang nggak perlu atau bukan kesalahanmu

People pleaser merasa dirinya berharga ketika disukai oleh orang lain. Tentunya, kita semua ingin menjadi sosok yang disukai oleh banyak orang. Namun, seorang people pleaser seringkali melakukan hal-hal yang menyusahkan, merendahkan, atau merugikan dirinya sendiri demi predikat tersebut.

Baca juga: Kenalan dengan Imposter Syndrome, Musuh Perempuan dalam Meraih Kesuksesan

Dampak People Pleaser

Tentunya, kepribadian people pleaser sangat berdampak buruk pada diri sendiri. Bahkan hal ini bisa sangat berpengaruh pada kesehatan mentalmu. Misalnya, kamu mudah merasa cemas karena selalu memikirkan apakah orang-orang menyukaimu. Kamu punya ketakutan berlebihan akan mengecewakan orang lain. 

Kamu juga terbiasa memendam rasa marah, kecewa, atau sedih karena memiliki kepribadian people pleaser. Akibatnya, kamu menjadi sulit mengenali emosi yang kamu punya. Selain itu, kamu cenderung meledak-ledak ketika merasa marah atau sedih. Sebab, kamu melakukan bottling up atau memendam perasaanmu terlalu lama, hingga kamu sulit mengendalikannya ketika emosi tersebut akhirnya meluap. 

Kepribadian people pleaser juga dapat membuatmu merasa kehilangan jati dirimu. Sebab, kamu terbiasa mengikuti kemauan orang lain. Kamu bahkan mengorbankan hakmu untuk berpendapat atau membuat keputusan demi menyenangkan orang lain. 

Kepribadian people pleaser membuatmu mudah dimanfaatkan oleh orang lain, serta terjebak dalam toxic friendship.

Dari segi sosial, kepribadian people pleaser bisa bikin kamu mudah dimanfaatkan oleh orang lain. “Udah, nyuruh dia aja! Dia nggak bakal nolak, kok!” Begitu kira-kira yang orang pikirkan tentang kamu. 

Akibatnya, seorang people pleaser rentan terjebak dalam hubungan yang nggak berkualitas, baik pertemanan maupun percintaan. Apakah kamu merasa teman-temanmu hanya datang saat butuh saja? Atau kamu sering dijadikan bulan-bulanan di circle-mu? Nyatanya, banyak banget people pleaser yang nggak sadar bahwa sebenarnya ia sedang jadi korban bullying. Orang lain merasa bebas memperlakukan atau mengolok-olok kamu seenaknya, karena tahu kamu nggak akan marah.

Dalam hal asmara, orang dengan kepribadian people pleaser sangat berisiko terjebak toxic relationship. Sebenarnya kamu nggak suka pasanganmu bersikap posesif, tapi kamu nggak berani bilang karena takut dia marah. Atau sebenarnya kamu sadar hubungan yang kamu jalani sudah sangat toxic, tapi kamu nggak berani mengakhirinya.

Baca juga: Sulit Lepas dari Toxic Relationship, Bisa Jadi Kamu Terjebak Trauma Bonding

Cara Berhenti Jadi People Pleaser

Jadi, sudah jelas, kan kalau punya kepribadian people pleaser hanya merugikan diri sendiri? Selanjutnya, gimana caranya supaya kamu bisa berhenti jadi people pleaser? Berikut adalah sejumlah tips buat kamu yang ingin mengubah kepribadian people pleaser-mu:

Hargai Diri Sendiri

Seperti yang sudah disebutkan, people pleaser memandang rendah dirinya sendiri. Karenanya, mereka selalu memprioritaskan orang lain di atas dirinya. Maka dari itu, hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah mulai menghargai dirimu sendiri. Kamu setara, kok dengan orang-orang di sekitarmu. Kamu juga punya hak untuk menolak sesuatu atau membuat keputusan. 

Tahu nggak, sih kenapa orang lain tetap meremehkanmu bahkan setelah kamu selalu menuruti mereka? Sebab, kamu merendahkan dirimu sendiri! Jika kamu nggak bisa menghargai diri sendiri, lantas gimana orang lain mau menghargai dirimu? 

Baca juga: Lagu-lagu tentang Self Love yang Bisa Membangun Kepercayaan Dirimu Lagi

Kenali Batasan Dirimu

Seorang people pleaser sering merepotkan dirinya sendiri demi membantu atau menyenangkan orang lain. Sebenarnya, kamu nggak sanggup kalau harus jadi ketua kelompok karena kesibukanmu. Dan sekarang semua urusanmu keteteran karenanya. 

Maka dari itu, belajarlah untuk mengenali batasan dirimu sendiri. Sejauh apa, sih batasan dirimu? Seberapa besar kemampuanmu untuk melakukan sesuatu? Kira-kira kamu sanggup nggak, ya melakukannya? 

Mengenali batasan diri nggak hanya supaya kamu berani menolak permintaan orang lain, tetapi juga berani meminta bantuan. Ya, selain sulit menolak permintaan orang, seorang people pleaser kerap kesulitan meminta pertolongan. Sebab, kamu selalu dihantui rasa cemas akan menyusahkan orang lain. 

Bersikap Asertif

Perilaku asertif adalah perilaku yang menunjukkan ketegasan terhadap orang lain. Asertif berbeda dengan egois atau keras kepala, ya. Ketika bersikap asertif, kamu mempertimbangkan apa yang baik untuk dirimu, tetapi nggak merugikan orang lain. Contohnya, fokuslah pada dirimu sendiri ketika menyatakan sesuatu, alias gunakan kata “aku”. Alih-alih mengatakan,”Kamu salah.” kamu bisa bilang,”Aku nggak setuju.”

Selain itu, ketika kamu hendak mengatakan tidak, jangan menggunakan kalimat yang bertele-tele. Misalnya,”Sebenarnya, bukannya aku nggak mau, sih, tapi aku…” Kalimat seperti ini akan memberikan celah bagi orang lain untuk mendesak kamu hingga akhirnya kamu menuruti keinginannya. Letakkan kata “tidak” di awal kalimat untuk memberi kesan tegas, seperti,”Nggak, aku nggak bisa.” Jika kamu ingin lebih sopan, kamu bisa menggunakan kalimat, seperti,”Terima kasih, ya atas tawarannya. Tapi, maaf, aku nggak bisa menerimanya.” 

Kamu juga bisa menggunakan ekspresi wajah atau gerak tubuh untuk menunjukkan sikap asertif. Misalnya, jangan ikut tertawa ketika seseorang melontarkan candaan yang menurutmu nggak pantas. Memang ada sebagian orang yang bakal mencibir dan bilang kalau kamu nggak seru. Namun, ada pula orang yang akan langsung diam karena sadar kamu nggak menganggap gurauannya tersebut sebagai sesuatu yang pantas untuk ditertawakan. 

Kamu Nggak Bisa 100% Menyenangkan Orang Lain

Seorang people pleaser sangat khawatir apabila dirinya nggak disukai atau mengecewakan orang lain. Karenanya, kamu perlu menekankan mindset ini: kamu nggak bisa 100% menyenangkan orang lain! Karena itulah pada dasarnya kamu nggak akan bisa membuat semua orang setuju atau senang denganmu. 

Selain itu, sebaik apa pun kamu, akan selalu ada orang yang berusaha mencari celah untuk merendahkan dirimu. Bahkan setelah kamu jadi people pleaser sekalipun! Nggak jarang, lho people pleaser justru dianggap tukang cari muka, penjilat, fake, dan sebagainya. Jadi, berhentilah terobsesi untuk disukai oleh orang lain, ya!

Baca juga: Rekomendasi Buku Self Help dari Member “SEVENTEEN”

Setiap orang pasti ingin memiliki citra baik di mata orang lain. Namun, menjadi people pleaser bukanlah cara yang tepat untuk menjadi sosok yang dipandang positif. Karenanya, tetaplah jadi dirimu sendiri, girls! Jangan mengorbankan harga diri dan kebahagiaanmu demi image positif dan kesenangan orang lain!

Kalau kamu mau sharing seputar hubungan dengan orang-orang di sekitarmu, atau isu kesehatan mental, yuk bergabung dengan Girls Beyond Circle! Klik di sini untuk bergabung, ya!

No Comments

    Leave a Reply