gagal menampilkan data

Article

Review Ghost in the Cell, Film Horor-Komedi Buatan Joko Anwar, Worth to Watch?

Written by Adila Putri Anisya

Siapa sih yang enggak kenal Joko Anwar? Sutradara kondang yang sukses bikin kita merinding lewat Pengabdi Setan dan Perempuan Tanah Jahanam ini kembali lagi dengan karya terbarunya di tahun 2026. Tapi kali ini, ada yang beda, nih. Kalau biasanya kamu diajak masuk ke rumah tua atau desa terpencil, lewat film Ghost in the Cell, Bang Joko bakal ngajak kamu “mendekam” di balik jeruji besi.

Bukan cuma horor biasa, film ini mengusung genre horor-komedi satir yang berani. Kebayang enggak sih, gimana jadinya kalau teror gaib muncul di tengah-tengah penjara yang isinya orang-orang keras semua? Nah, sebelum kamu beli tiketnya, yuk simak review lengkap Ghost in the Cell yang lagi ramai diomongin ini!

Baca juga: Review Film ‘Tunggu Aku Sukses Nanti’: Cerita yang Relate dengan Gen Z 

Sinopsis Ghost in the Cell (2026)

Sinopsis Ghost in the Cell (2026)
Sumber foto: Film Ghost in the Cell

Cerita berlatar di Lapas Labuhan Angsana, sebuah penjara kelas 1A yang reputasinya enggak main-main: penuh penindasan, kekerasan, dan korupsi. Di sini, hukum rimba berlaku. Siapa yang punya uang atau otot, dia yang jadi raja.

Tokoh utama kita adalah Dimas (Endy Arfian), seorang mantan jurnalis yang harus mendekam di sana karena dijebak dalam kasus pembunuhan brutal. Sebagai “anak baru”, Dimas langsung dihadapkan pada realita pahit: praktik korup para sipir dan perang antar gang narapidana yang haus kekuasaan.

Namun, ketegangan fisik itu mendadak jadi horor supranatural ketika satu per satu tahanan tewas secara tragis dan artistik. Ternyata, ada entitas gaib yang menghuni penjara tersebut. Uniknya, hantu ini enggak asal pilih korban. Dia cuma mengincar orang-orang dengan aura paling gelap dan energi negatif tertinggi.

Efeknya, para napi yang biasanya sangar dan hobi maksiat malah terpaksa “berlomba-lomba jadi orang baik”. Mereka takut aura mereka kotor dan jadi target selanjutnya. Di sinilah letak komedi absurnya: bayangkan para preman kelas kakap tiba-tiba rajin ibadah atau membantu sesama hanya karena takut dimakan hantu!

Daftar Pemain Ghost in the Cell

Daftar Pemain Ghost in the Cell
Sumber foto: IG @jokoanwar

Satu hal yang unik dari Ghost in the Cell adalah jajaran pemainnya yang semuanya laki-laki. Joko Anwar seolah ingin menciptakan dunia mikrokosmos penjara pria yang sangat maskulin tapi juga rapuh. Berikut adalah daftar pemainnya:

  • Abimana Aryasatya sebagai Anggoro (sosok yang awalnya terlihat seperti pahlawan).
  • Endy Arfian sebagai Dimas (si jurnalis yang terjebak).
  • Bront Palarae sebagai Jefry.
  • Lukman Sardi sebagai Pendi.
  • Rio Dewanto sebagai Endy.
  • Tora Sudiro sebagai Anton.
  • Aming Sugandhi sebagai Tokek.
  • Dimas Danang sebagai Irfan.
  • Morgan Oey sebagai Bimo.
  • Yoga Pratama sebagai Six.

Melihat nama-nama di atas, kualitas aktingnya sudah enggak perlu diragukan lagi. Chemistry antar pemain pria ini menjadi nyawa utama yang menghidupkan suasana penjara yang pengap namun penuh dinamika.

Review Film Ghost in the Cell

Review Film Ghost in the Cell
Sumber foto: Trailer Ghost in the Cell

Setelah menontonnya, ada banyak banget hal yang bisa dibahas. Film ini ibarat kado yang dibungkus kertas horor, tapi isinya adalah tamparan keras buat kondisi sosial kita. Berikut adalah beberapa poin reviewnya:

1. Visual yang Memanjakan Mata (Ciri Khas Jokan!)

Secara teknis, Joko Anwar enggak pernah gagal. Visual film ini sangat cantik sekaligus mengerikan. Pengambilan gambar dan editing-nya sangat halus. Adegan kematiannya digambarkan secara gory (berdarah-darah) namun artistik. 

Mengutip dari ulasan Neohistoria Indonesia, visualnya mirip dengan sensasi membaca manga Chainsaw Man karya Tatsuki Fujimoto, brutal tapi estetik. Tubuh manusia diolah menjadi “karya seni” yang bikin kamu bergidik sekaligus kagum.

2. Satir Sosial yang Tajam

Penjara di film ini adalah simbol dari negara kita sendiri. Ada kasta-kasta yang menunjukkan tingkat imunitas hukum. Film ini berhasil menangkap “kebusukan bangsa” lewat latar penjara. Isu korupsi aparat, penyalahgunaan kekuasaan, hingga sistem hukum yang rusak dikemas dengan cerdas. Penjara di sini bukan cuma soal fisik, tapi juga tentang penjara mental yang dialami masyarakat.

3. Komedi yang Bikin Mood Naik-Turun

Kamu bakal dibawa ngerasain emosi yang campur aduk. Di satu detik kamu tegang karena ada teror, di detik berikutnya kamu bakal tertawa ngakak melihat tingkah absurd para napi yang berusaha “suci” demi menghindari hantu. 

Karakter Anggoro (Abimana Aryasatya) yang awalnya diprediksi bakal jadi hero keren, malah dibuat jadi konyol sama seperti yang lain. Ini pesan implisit bahwa di depan sistem yang rusak, semua orang akhirnya kelihatan bodoh.

4. Dialog yang Terasa “Preachy” (Berceramah)

Nah, kalau bicara kekurangan, beberapa penonton merasa dialog di film ini terlalu padat. Melansir dari akun X @mhuseinali, film ini terasa terlalu banyak telling (menjelaskan lewat kata-kata) daripada showing (menunjukkan lewat aksi). 

Kadang ada dialog yang terasa sangat panjang dan repetitif, terutama pada karakter Irfan (Dimas Danang). Hal ini bikin beberapa adegan terasa seperti sedang diceramahi tentang integritas dan moral, yang bagi sebagian orang mungkin terasa sedikit cringe.

5. Plot yang Terlalu Sibuk

Joko Anwar sepertinya ingin memasukkan banyak hal sekaligus: kritik sistem, trauma, konspirasi, hingga hantu politik. Akibatnya, plot film ini lari sangat kencang. Beberapa penonton mungkin bakal merasa kesulitan mengejar semua subplot yang ada. 

Ada juga beberapa “plot hole”, seperti bagaimana tiba-tiba tokoh utama tahu motif si hantu tanpa penjelasan yang kuat, yang menurut sebagian kritikus terasa seperti lazy writing.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Sumber foto: Trailer Ghost in the Cell

Meski punya kekurangan di sisi naskah yang terlalu “ramai”, Ghost in the Cell tetap jadi tontonan yang penting. Seperti yang dikutip dari Neohistoria Indonesia yang membawa pemikiran filsuf Fyodor Dostoevsky:

“Tingkat peradaban dalam suatu masyarakat dapat dinilai dengan memasuki penjara-penjaranya.”

Film ini adalah cermin bagi kita semua. Ia mengajak kita merenung, di tengah Indonesia yang masih bergulat dengan reformasi dan korupsi, apakah kita sebenarnya juga sedang “terpenjara”?

Teror hantu yang mengincar aura negatif adalah metafora keren. Kalau kita enggak mau kena masalah, ya jangan punya “energi negatif” alias jangan korupsi, jangan menindas, dan jangan curang. Pesannya sederhana tapi ngena banget di hati.

Kesimpulan: Worth to Watch?

Kesimpulan: Worth to Watch?
Sumber foto: Film Ghost in the Cell

Buat kamu yang suka film dengan pesan mendalam dan visual keren, Ghost in the Cell wajib masuk daftar tontonan. Meskipun enggak seseram Pengabdi Setan, film ini memberikan pengalaman sinematik yang berbeda. Kamu bakal dapet paket lengkap: ketakutan, ketawa, sampai rasa miris liat kondisi negara yang disindir lewat komedi satir.

Baca juga: 8 Film Bioskop April 2026 yang Paling Dinantikan, Sudah Masuk Watchlist Kamu? 

Rating Versi Gaby: 7.5/10

Saran buat kamu: Jangan pasang ekspektasi setinggi langit untuk horor yang bikin jump scare setiap menit. Datanglah ke bioskop dengan pikiran terbuka untuk menertawakan diri sendiri dan sistem kita yang kadang emang se-absur itu.

Jadi, kapan mau nonton? Ajak temen kamu biar bisa diskusi bareng sehabis keluar bioskop. Karena seperti kata Joko Anwar lewat film ini, kalau kita enggak berani melihat ke dalam “penjara” kita sendiri, gimana kita bisa membangun masa depan yang lebih baik?

Selamat menonton, ya!

Gabung ke WhatsApp Group Girls Beyond Circle kalau kamu mau tahu lebih banyak informasi ter-update seputar perfilman lainnya!

Comments

(0 comments)

Sister Sites Spotlight

Explore Girls Beyond