gagal menampilkan data

ic-gb
detail-thumb

Lidya Martha Hasibuan: Ketika ‘Kerja Keras Bagai Kuda’ Membuatnya Kehilangan Masa Remaja

Written by Zefanya Pardede

Hari yang baru adalah hari yang baru lagi untuk bekerja keras tanpa henti. Bangun, kerja, tidur—diulang keesokan harinya. Terkadang, tidur pun tidak sempat. Panggilan kerja terlalu penting untuk mengistirahatkan tubuh. Begitulah kehidupan sehari-hari sebagian anak muda Indonesia.

Toxic productivity kerap menjerat generasi sekarang. Orang beranggapan bahwa dengan semakin banyak waktu yang digunakan untuk bekerja, semakin cepat mereka akan mencapai kesuksesan. Pandangan ini tidak salah. Namun ketika ini merusak fisik dan mental, ada sesuatu yang harus diubah.

Lidya Martha Hasibuan adalah seorang perempuan berusia 21 tahun yang bekerja di salah satu kantor agen properti. Sebagai karyawan full-time, ia disibukkan dengan berbagai tanggung jawab di kantor. Namun, pekerjaan ini bukan satu-satunya yang ia pegang. Ada tanggung jawab lain di tempat kerja berbeda yang harus diurus.

Rupanya, ia sudah familiar dengan konsep bekerja sejak duduk di bangku sekolah. Dari dulu, Lidya memilih untuk menghabiskan waktunya bekerja ketimbang menikmati masa remaja. 

Lidya menceritakan pengalaman dirinya sebagai korban toxic productivity dan keinginannya untuk menghentikan gaya hidup ini.

Baca juga: Salma Kyana: Ketika Vitiligo Tidak Menjadi Penghalang untuk Menjadi Puteri Indonesia DKI Jakarta Favorit 2023

Mulai Bekerja Sejak 3 SMP

Saat masih menjadi siswi kelas 3 SMP, Lidya mengisi jadwal sehari-hari untuk bekerja. Ia bekerja di sebuah perusahaan event organizer (EO) kala itu.

“Aku memang punya basic acara. Awalnya, aku cuma bantu-bantu doang. Ternyata pekerjaan ini lanjut sampai aku kuliah semester tiga,” jelasnya.

Pada saat itu, Lidya memutuskan untuk mulai bekerja sambil sekolah untuk mencari kesibukan. Baginya, ada tekanan tertentu yang ia rasakan ketika waktunya kosong. Ia pun terdorong untuk menenggelamkan diri dalam produktivitas.

“Aku mulai kerja waktu itu bukan karena biaya, tapi mau nyari kesibukan. Aku suka aja jadi sibuk, kalau nggak produktif rasanya terkena pressure sendiri,” katanya. “Entah kenapa toxic productivity sudah ada dari aku SMP.”

Menurut ahli psikologi Dr. Julie Smith, toxic productivity merupakan dorongan untuk menjadi produktif di setiap saat—tidak hanya di tempat kerja, tetapi di semua bidang kehidupan. 

Orang-orang dengan toxic productivity tidak mampu beristirahat karena adanya rasa bersalah ketika mereka membuang waktu untuk melakukan kegiatan lain yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Glorifikasi pandangan dan gaya hidup toxic productivity disebut dengan hustle culture.

Toxic productivity yang tertanam dalam benak Lidya mendorongnya untuk bekerja sambil sekolah demi memenuhi kepuasan kesibukan.

“Pulang sekolah sore-sore, aku biasa langsung pergi ke tempat kerjaku di Lippo Karawaci. Lumayan, tuh, perjalanan dari Bekasi ke Tangerang. Aku biasa kerja sampai malam, terus lanjut perjalanan pulang ke Bekasi. Besoknya sekolah,” cerita Lidya.

Baca juga: Wendy Chu: Rasisme, Penyesuaian, dan Lika-liku Melanjutkan Kehidupan di Negara Lain Sebagai Imigran AS Asal Indonesia

Sekolah Dikorbankan, Masa Remaja Hilang

Salah satu aktivitas Lidya saat melakukan pekerjaannya. (FOTO: Lidya Martha Hasibuan)

Menyeimbangkan pekerjaan, sekolah, keluarga, dan kehidupan sosial tidak mudah, terutama bagi Lidya yang masa itu masih remaja. Karena banyaknya tuntutan pekerjaan, harus ada beberapa hal dalam hidupnya yang dikorbankan.

Salah satunya adalah sekolah.

“Ada beberapa momen aku harus bolos sekolah demi kerjaan, apalagi kalau ada event besar yang aku handle, itu nggak mungkin aku bisa ikut sekolah,” bicara Lidya.

Fenomena ini tentunya berpengaruh terhadap performa akademik Lidya. Meskipun perbedaannya tidak terlalu signifikan, sekecil apa pun pengaruhnya, pasti terlihat.

Ngaruh, sih, ke nilai. Kalau dibanding prestasi aku sebelum kerja, pasti ada bedanya, walau nggak terlalu besar. Untungnya aku ada teman-teman yang mau bantu backup materi sekolah setiap aku ketinggalan,” katanya.

Di saat teman-teman sebayanya menghabiskan waktu pulang sekolah untuk berkumpul dan bersosialisasi bersama, Lidya membanting tulang hingga larut malam.

Pada masa itu, Lidya tidak sadar bahwa dirinya sedang kehilangan masa remaja. Mencari penghasilan lebih penting daripada menikmati hari-hari mudanya. Bisa dibilang, Lidya dewasa lebih duluan dibanding teman-temannya. 

“Waktu itu justru aku lihatnya yang penting punya income. Nggak apa-apa yang lain main dan aku nggak, yang penting aku dapat penghasilan,” ucapnya.

Pengalaman-pengalaman yang seharusnya didapat untuk masa pertumbuhan remaja justru ia lewatkan. Lidya mulai sadar ketika ia sudah dewasa.

Nyesel banget. Banyak momen yang aku lewatkan demi kerjaan dan sekarang aku nggak bisa putar balik waktu. Kadang mikir, ‘Kenapa aku segitunya demi uang?’” tutur Lidya.

Nggak semua hal tentang uang, apalagi waktu masih muda. Hidup nggak harus berpusat pada kerja,” tambahnya.

Baca juga: Andrea Nathania: Student Filmmaker yang Ingin Menjadi Bagian Revolusi Sinema Indonesia

Bolak-balik ke Rumah Sakit

(FOTO: Pixabay)

Belakangan ini, Lidya perlahan merasakan dampak fisik dari gaya hidup yang ia jalankan sejak tahun-tahun yang lalu. Kesehatannya semakin rentan dan metabolismenya menurun.

“Aku jadi sering bolak-balik rumah sakit. Bahkan bulan ini udah dirawat dua kali,” kata Lidya.

Semasa kuliah, pola hidupnya tidak jauh dari apa yang ia terapkan ketika sekolah, bahkan lebih parah. Garis yang membatasi jam istirahat, jadwal kuliah, dan waktu bekerja menjadi kabur. Makan pun tidak teratur demi mengejar kuota delapan jam kerja per hari.

“Saat kuliah, aku jadi bagian live streaming. Aku wajib memenuhi waktu kerja delapan jam per hari. Di jam berapa pun bebas karena fleksibel,” jelasnya.

Sayangnya, kefleksibelan jadwal kerja tersebut membuat Lidya mengambil waktu tidurnya untuk menuntaskan kewajiban pekerjaan. Ditambah lagi pengerjaan skripsi kelulusan yang membuat memperparah komplikasi kesehatannya

“Sistem kerjanya yang penting bisa menuhin 8 jam kerja. Jadi kalau kerja jam 1 dini hari sampai jam 8 pagi juga nggak apa-apa,” katanya. “Waktu ngurus tugas akhir barulah kesehatan menurun banget.”

Bukan hanya kondisi fisik, mentalnya pun ikut terdampak. Stres dan tekanan yang selama ini secara tak sadar ia bawa akhirnya menumpuk. Sekarang, ia sudah bisa mengizinkan dirinya untuk beristirahat rehat sejenak ketika terlalu lelah dan rutin konsultasi ke psikolog.

“Pokoknya, hal-hal yang aku lakuin masa lalu impact-nya baru dirasakan sekarang. Kalau semisal dulu aku nggak separah itu, mungkin kesehatan aku nggak seburuk sekarang.”

Baca juga: Soraya Nathasya: Kisah Penari Balet Indonesia yang Sudah Menari Selama 17 Tahun

Berencana untuk Pensiun Dini

Semenjak ia jatuh sakit, Lidya mulai melepas pekerjaannya satu per satu. Ia merasa jika toxic productivity masih dipertahankan, lama-kelamaan kualitas hidupnya secara menyeluruh akan menurun.

“Waktu sakit kemarin, aku bener-bener sadar kalau aku harus stop. Jadi sebulan yang lalu aku menolak tiga project karena kesehatan ini,” ucap Lidya.

Di masa depan, Lidya berharap untuk hidup tenang. “Tenang” dalam hal ini berarti masa tuanya terjamin dan tidak kekurangan sesuatu apa pun. Semua usaha, keringat, dan energi yang dituangkan sekarang adalah untuk menyiapkan masa pensiunnya.

“Aku sih pengen hidup tenang, dapat dana pensiun, dan rumah yang nyaman. Aku ngejar ketenangan itu dengan cara bekerja,” katanya.

Ia juga mengaku bahwa pensiun dini merupakan sebuah hal yang sudah mulai dipertimbangkan.

“Aku sudah kepikiran untuk pensiun dini. Lumayan mulai lelah dengan bekerja kayak begini.”

Di luar sana, banyak Lidya lainnya yang juga dihadapkan dengan masalah yang serupa.

Baca juga cerita Angelina dan tantangannya dalam menghadapi emotional labor akibat lingkungan kerja di sini.

Mau kenalan dengan perempuan-perempuan inspiratif? Yuk, bergabung ke Girls Beyond Circle sekarang!