Menu
Real Stories / Stories

Adilla: Orang Tua Toxic Membuatku Mengidap Anorexia Nervosa

Peringatan: Artikel ini mengandung unsur-unsur gangguan makan (eating disorder) yang dapat memicu trauma bagi pengidap atau penyintas gangguan makan.

Bagi banyak orang, penampilan adalah alat penting untuk meningkatkan kepercayaan diri. Sayangnya, persepsi masyarakat terkait penampilan yang baik telah terkontaminasi oleh standar kecantikan yang tidak masuk akal, terutama bagi perempuan.

Kulit putih dan mulus, rambut panjang, serta tubuh langsing menjadi kriteria-kriteria yang digunakan oleh masyarakat untuk mengelompokkan perempuan yang “cantik” dan “tidak cantik”.

Adilla (nama disamarkan), menjadi korban standar kecantikan tidak manusiawi ini. Berawal dari ucapan dan komentar orang tua terkait proporsi tubuhnya, gadis ini mulai melakukan berbagai jenis diet ekstrem sedari usia 14 tahun.

Tanpa disadari, pola dietnya berujung pada gangguan makan atau eating disorder tipe anorexia nervosa. Adilla menceritakan pengalamannya ketika pertama mengidap gangguan mental ini dan perjuangannya untuk memulihkan diri.

Baca juga: Lidya Martha Hasibuan: Ketika ‘Kerja Keras Bagai Kuda’ Membuatnya Kehilangan Masa Remaja

Berawal dari Sifat Orang Tua yang Controlling

Sebelumnya, Adilla merupakan anak yang periang dan ceria. Orang-orang sekitarnya sering mendeskripsikan dirinya sebagai seseorang yang sangat percaya diri. Ia suka tampil di atas panggung dan berpose manis depan kamera.

“Pas kecil, aku suka manggung. Balet, menyanyi, lomba puisi, paduan suara, bahkan pentas teater pun aku ikut,” kata Adilla.

Pada masa-masa tersebut, penampilan bukanlah hal yang diprioritaskan.

“Aku dari kecil memang chubby. Di mana anak-anak lain kurus, aku gemuk. Aku sudah gemuk dari lahir,” jelasnya.

Awalnya, orang tuanya tidak berkomentar banyak soal berat badan Adilla. Mereka menganggap bahwa tubuhnya perlahan akan berubah seiring berjalannya waktu dan mengikis baby fat yang ada. Namun, hal tersebut tidak terjadi.

Saat Adilla mencapai usia 14 tahun, orang tuanya mulai mengomentari tubuh Adilla.

“Waktu itu mereka bilang, ‘Kamu nggak mau diet?’ Itu bukan sekali-dua kali. Setiap hari, setiap aku makan, itu yang mereka terus katakan,” katanya. “Puncaknya adalah ketika mamaku bilang kalau aku akan cantik bila lebih kurus.”

Mengomentari tubuh Adilla bukan satu-satunya hal yang dilakukan kedua orang tuanya. Adilla beberapa kali tidak dibawakan makan siang ke sekolah demi mendorongnya untuk diet.

“Mereka kadang sengaja tidak membawakan makan siang untuk aku. Aku bisa saja jajan di kantin, tapi uang saku pun mereka sengaja tidak kasih karena tahu kalau aku bisa beli makan.”

Setiap Adilla mengambil piring untuk makan, ibu dan ayahnya selalu memperhatikan porsi yang diambilnya. Porsi makan Adilla pun selalu dikurangi.

“Tiap kali aku mau makan apa pun, mereka selalu nanya, ‘Yakin mau makan itu?’ Padahal, ya, aku memang lapar. Sebelum makananku habis, mereka selalu paksa aku untuk berhenti makan karena takut aku semakin gemuk,” ceritanya.

Sikap dan perkataan orang tuanya pun lama-kelamaan terkondisikan dalam otak Adilla. Ia mulai mengurangi jumlah makan yang dikonsumsi dan semakin memperhatikan perubahan berat badannya.

“Orang tuaku controlling soal ini. Toxicity mereka akhirnya meluluhkan aku.”

Tanpa disadari, kebiasaan ini berkembang menjadi sebuah gangguan mental yang berbahaya.

Baca juga: Wendy Chu: Rasisme, Penyesuaian, dan Lika-liku Melanjutkan Kehidupan di Negara Lain Sebagai Imigran AS Asal Indonesia

Diet Ekstrem Selama Lima Tahun

Adilla melakukan berbagai jenis diet selama masa remajanya. Selain itu, olahraga menjadi rutinitas sehari-hari yang tidak bisa dilewatkan.

“Awalnya, aku hanya mengurangi karbohidrat dan lemak. Aku juga olahraga ala-ala di rumah,” katanya.

Berawal dari hanya sekadar mengurangi porsi makan, Adilla menjadi obsesif dengan mengukur segala jenis makan yang ia konsumsi. Sebelum makan, ia harus mengetahui jumlah kalori yang akan ia ambil.

“Aku jadi obsessed dengan kalori dan porsi makanku. Sebelum makan, aku timbang dulu makanannya. Dari situ, aku hitung kalori yang ada dalam setiap 10–50 gram makanan yang akan aku makan,” bicara Adilla.

Bagi Adilla, mengontrol kalori adalah salah satu langkah fatal yang berujung pada gangguan makan atau eating disorder.

“Aku jadi benar-benar strict dengan diriku sendiri. Kalau normalnya remaja perempuan makan 1.500–2.200 kalori setiap harinya, waktu itu targetku lumayan parah. Aku hanya ingin makan maksimal 400 kalori per hari.”

400 kalori merupakan angka yang berbahaya. Ditambah dengan olahraga keras yang ia lakukan setiap hari, Adilla tetap mendorong dirinya untuk menjalankan diet ekstrem terlepas dari kesehariannya yang terlalu aktif.

Ia juga kerap membandingkan berat badannya dengan berat badan artis-artis perempuan asal Korea Selatan.

“Aku suka bandingin berat badanku dengan berat badan idol girl group. Aku cari member yang paling kurus dan bertekad untuk mencapai berat badan yang jauh lebih rendah dari member tersebut,” tuturnya.

Adilla mengaku bahwa terkadang, ia tidak makan hingga berhari-hari. Meskipun tubuhnya lelah dan lapar, ia tetap memaksakan diri untuk tidak mengonsumsi apa pun.

“Paling parah waktu itu aku cuma minum air selama lima hari berturut-turut, padahal aku sekolah dan ekskul. Pernah juga cuma makan total-total tiga butir anggur selama seminggu,” cerita Adilla.

Ini berlangsung selama kurang lebih lima tahun.

Baca juga: Andrea Nathania: Student Filmmaker yang Ingin Menjadi Bagian Revolusi Sinema Indonesia

Komplikasi Kesehatan Membuatnya Sadar

Diet ekstrem dan olahraga yang dilakukan Adilla berdampak pada kesehatannya. Tubuhnya melemah, ia mulai kehilangan otot, dan tenaganya kian habis. Namun di kala itu, Adilla tidak merasa ada yang salah dari pola dietnya.

“Waktu itu aku belum sadar kalau ini messed up banget karena aku benar-benar berhasil turun banyak berat badannya. Jadi aku terus melanjutkan ‘diet’ itu,” ucapnya.

Adilla mengakui bahwa tubuhnya sudah menyerupai tulang dan kulit. Setiap ia beraktivitas, ia sering sulit bernapas karena kekurangan tenaga dan makan. Matanya berkunang-kunang setiap kali ia menaiki tangga sekolah.

“Tidak cuma itu, setiap aku napas, ada semacam suara keluar dari paru-paru. Kayak kalau orang sesak napas, ada suara ngik, ngik, ngik, begitu,” jelas Adilla.

Selain itu, ada rasa bersalah yang menghantui Adilla setiap kali ia makan. Ketika ia dihadapkan dengan makanan hatinya dilanda rasa cemas yang berlebihan dan ia selalu menangis setelah makan.

“Setiap habis makan, aku merasa bersalah. Kenapa aku harus makan? Aku tidak mau berat badan naik. Aku selalu nangis parah setelah makan, bahkan sampai tidak bisa keluar kamar. Padahal makan doang!”

Adilla juga merasa seolah-olah ia tidak bisa lagi menikmati makanan. Kalori menjadi fokus utamanya.

“Karena aku terlalu terpaku pada kalori, aku hanya memikirkan angka kalori makanan yang aku makan. Aku jadi tidak bisa merasakan dan menikmati makanan. Eating numbers instead of food, begitu.”

Ia sadar bahwa ada yang tidak beres setelah ia harus dilarikan ke rumah sakit setelah pingsan di lapangan sekolah di tengah pelajaran olahraga. Dokter menyatakan bahwa tubuhnya kekurangan nutrisi dan tenaga yang dibutuhkan untuk beraktivitas. Ia harus di infus dan dirawat di rumah sakit selama beberapa lama.

“Aku baru sadar di akhir, setelah aku sakit. Dari situ, aku bertekad untuk sembuh, baik secara fisik maupun mental,” ceritnya.

Baca juga: Soraya Nathasya: Kisah Penari Balet Indonesia yang Sudah Menari Selama 17 Tahun

Self-love Jadi Kunci Recovery

Adilla memberanikan diri untuk kembali mengunjungi dokter agar bisa mendapat diagnosa klinis. Dokter menyatakan bahwa ia mengidap gangguan makanan anorexia nervosa.

“Aku sebenarnya sudah tahu kalau aku anorexia. Tapi aku tidak mau self-diagnose, jadi aku pergi ke dokter. Ternyata beneran anorexia,” kata Adilla.

Anorexia nervosa adalah gangguan makan atau eating disorder yang ditandai dengan berat badan rendah yang tidak normal, ketakutan interns akan kenaikan berat badan, dan persepsi berat badan yang menyimpang dari realitas.

Dari situ, Adilla diberikan semacam “menu” untuk recovery dari dokter.

“Untuk recovery, dokter menyarankan aku untuk perlahan-lahan meningkatkan kalori yang aku konsumsi. Aku mulai menambahkan karbohidrat, protein, lemak, dan nutrisi lainnya untuk mengembalikan berat badan,” ucapnya.

Namun, recovery gangguan makan tidak sekadar mengembalikan berat badan yang normal dan sehat. Hal yang paling menantang dalam recovery gangguan makan adalah melawan musuh mental, ketakutan akan kenaikan berat badan, dan trauma makanan.

“Aku keringat dingin sebelum harus makan. Mau muntah rasanya, sesak napas juga kadang karena serangan panik. Tapi aku paksain diri untuk kuat karena aku tahu recovery adalah untuk kebaikan diriku sendiri,” jelas Adilla.

Selama recovery, Adilla juga mempraktikkan self-love.

Self-love sangat dibutuhkan saat recovery. Aku tidak bisa selalu memandang tubuhku sebagai tidak sempurna, aku harus mulai menerima diriku apa adanya agar bisa sembuh. Susah, sih, tapi, ya, itulah recovery.”

Baca juga: Angelina Wibowo: Tetap Harus Bekerja di Tengah Emotional Labor Industri Retail

Berat Badan Sudah Kembali, Recovery Masih Lanjut

Meskipun sekarang berat badannya sudah kembali normal, recovery masih dilakukan sampai hari ini. Adilla menjelaskan bahwa terkadang, pikiran-pikiran mengenai berat badan dan bagaimana ia memandang tubuhnya sendiri masih suka menghantui dirinya.

“Aku sudah jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Aku juga bangga dengan penampilanku,” tuturnya. “Akan tetapi, sampai bisa benar-benar cinta sama diri itu panjang, ya. Akan ada momen-momen di mana aku lengah dan giving in ke pikiran negatif.”

Walau demikian, Adilla optimis bahwa ia akan sepenuhnya pulih di masa depan. Ia bertekad untuk terus berjuang dan tidak putus asa, terlepas dari sulitnya menyingkirkan pikiran-pikiran gelap.

Whatever it takes, aku ingin sembuh. Aku akan selalu berusaha untuk pulih dari anorexia. Aku harap orang-orang di luar sana yang juga mengalami hal yang sama bisa dikuatkan juga,” tambah Adilla.

Demikian cerita Adilla dan perjuangannya untuk melepaskan gangguan makan yang mengikat dirinya.

Baca juga kisah Salma Kyana, Puteri Indonesia DKI Jakarta Favorit 2023 dengan penyakit vitiligo, dalam perjalanannya menuju penerimaan diri.

Mau ketemu perempuan-perempuan inspiratif lainnya? Yuk, bergabung ke Girls Beyond Circle sekarang!

No Comments

    Leave a Reply