gagal menampilkan data

Article

Viral ‘Bismillah Avoidant’ yang Lagi Tren di TikTok, Apa Maksudnya?

Written by Adila Putri Anisya

Belakangan, istilah Bismillah  Avoidant’ lagi jadi tren konten di TikTok. Banyak pengguna yang membagikan pengalaman hubungan mereka lewat chat yang enggak “digubris” oleh pasangannya, bikin banyak orang merasa relate.

Sekilas terdengar seperti candaan, tapi sebenarnya istilah ini menyentuh hal yang cukup dalam, tentang niat baik untuk membuka diri dalam hubungan, namun disertai kecenderungan untuk menjauh ketika perasaan mulai terlalu dekat.

Nah, untuk membahas lebih dalam soal tren ‘Bismillah Avoidant’ yuk cek artikel berikut!

Baca juga: 10 Cara Menghadapi Pasangan Avoidant dalam Hubungan Agar Tetap Langgeng! 

Apa Itu Tren ‘Bismillah Avoidant’?

Viral ‘Bismillah Avoidant’ yang Lagi Tren di TikTok, Apa Maksudnya?
Sumber foto: Freepik

Istilah ini berasal dari dua kata yang maknanya kontras tapi saling melengkapi. ‘Bismillah’ biasanya diucapkan saat seseorang memulai sesuatu dengan niat baik dan doa agar hasilnya membawa kebaikan. 

Sementara ‘Avoidant’ diambil dari dunia psikologi, tepatnya dari teori attachment style atau gaya keterikatan, yang menggambarkan pola seseorang dalam membangun hubungan emosional.

Orang dengan gaya ketertarikan ini cenderung menarik diri ketika hubungan mulai terasa terlalu emosional, serta sering menolak atau menekan perasaannya sendiri. Akibatnya, mereka kerap mengalami kesulitan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang memiliki kedekatan emosional yang mendalam.

Contohnya bisa dilihat dari pengalaman pengguna TikTok Andi Ulfa, yang membagikan tangkapan layar obrolannya dengan pasangannya. Dalam chat tersebut, ia mencoba menelepon pasangannya berkali-kali, tapi enggak juga diangkat.

Viral ‘Bismillah Avoidant’ yang Lagi Tren di TikTok, Apa Maksudnya?
Sumber foto: TikTok.com/@ig_ulfaaaandi

Jadi, ‘Bismillah Avoidant’ menggambarkan seseorang yang sebenarnya ingin menjalin hubungan, tapi tanpa sadar justru menghindar ketika hubungan mulai terasa serius atau emosional. Mereka ingin dekat, tapi juga takut akan kedekatan itu sendiri.

Fenomena ini dikemas secara humor di TikTok, seperti video orang yang bilang, “Bismillah deh, coba buka hati lagi,” tapi beberapa hari kemudian malah ghosting. 

Di balik lucunya, istilah ini merefleksikan dinamika emosional yang dialami banyak orang masa kini, keinginan untuk mencintai dan dicintai, tapi juga takut terluka atau kehilangan diri sendiri dalam hubungan.

Apa Itu Attachment Style Avoidant?

Viral ‘Bismillah Avoidant’ yang Lagi Tren di TikTok, Apa Maksudnya?
Sumber foto: Freepik

Menurut Cleveland Clinic, avoidant attachment style adalah pola hubungan yang ditandai dengan ketidaknyamanan terhadap kedekatan emosional, kebutuhan tinggi akan kemandirian, dan kecenderungan menjauh ketika seseorang mulai terlalu dekat secara emosional.

Biasanya, pola ini terbentuk sejak kecil, terutama jika seseorang tumbuh dalam lingkungan yang enggak memberi ruang aman untuk mengekspresikan emosi. Misalnya, ketika anak merasa enggak didengar atau kebutuhan emosinya sering diabaikan, mereka belajar bahwa menunjukkan perasaan justru berisiko menimbulkan sakit hati. Akibatnya, saat dewasa, mereka lebih nyaman menahan diri dan menjaga jarak.

Psikolog Kendra Mathys, PsyD, menjelaskan bahwa orang dengan gaya keterikatan avoidant bukan berarti enggak ingin punya hubungan. Mereka bisa merasakan cinta dan ingin dekat dengan orang lain, tapi di sisi lain mereka memegang keyakinan bahwa menunjukkan emosi adalah tanda kelemahan, atau bahwa orang lain enggak bisa diandalkan.

Baca juga: Merasa Emotionally Unavailable? Bisa Jadi Kamu Punya Avoidant Attachment Style! 

Kenapa Banyak yang Relate dengan ‘Bismillah Avoidant’?

Viral ‘Bismillah Avoidant’ yang Lagi Tren di TikTok, Apa Maksudnya?
Sumber foto: Freepik

Dalam konteks sosial media, istilah ini menjadi begitu populer karena menggambarkan kontradiksi yang sering dialami generasi muda saat ini: punya niat baik untuk membuka diri, tapi masih dibayangi ketakutan emosional.

Banyak orang yang merasa “aku pengen punya hubungan yang sehat, tapi begitu ada yang serius, aku malah mundur duluan.” Nah, perilaku seperti inilah yang mencerminkan sisi avoidant. Menurut SimplyPsychology, orang dengan tipe ini biasanya:

  • Merasa enggak nyaman dengan keintiman dan cenderung menjaga jarak.
  • Sulit mengekspresikan kebutuhan emosional.
  • Lebih memilih terlihat mandiri daripada dianggap “butuh” orang lain.
  • Menganggap terlalu banyak kedekatan bisa membuat mereka kehilangan diri sendiri.

Hal ini sering kali membuat hubungan jadi penuh tarik-ulur. Ketika pasangan mulai menunjukkan kasih sayang lebih, si avoidant justru merasa terancam dan mulai menarik diri. Tapi ketika hubungan menjauh, mereka bisa merasa kesepian dan mulai mendekat lagi.

Dari Mana Asalnya Sikap Avoidant Ini?

Viral ‘Bismillah Avoidant’ yang Lagi Tren di TikTok, Apa Maksudnya?
Sumber foto: Freepik

Menurut teori attachment, gaya keterikatan terbentuk sejak masa kecil. Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua yang jarang menunjukkan kasih sayang, terlalu keras, atau enggak responsif terhadap emosi mereka, cenderung belajar bahwa mengandalkan orang lain enggak aman.

Karena itu, mereka mengembangkan strategi bertahan hidup dengan cara menekan emosi dan mengandalkan diri sendiri. Sikap ini terbawa sampai dewasa dan memengaruhi cara mereka menjalin hubungan.

Namun, pengalaman masa kecil bukan satu-satunya faktor. Trauma masa dewasa, seperti pengalaman ditolak, dikhianati, atau hubungan yang berakhir buruk, juga bisa memperkuat pola ini. Akibatnya, mereka belajar untuk “menghindar duluan” agar enggak terluka lagi.

Apakah Orang ‘Avoidant’ Enggak Bisa Menjalin Hubungan Sehat?

Viral ‘Bismillah Avoidant’ yang Lagi Tren di TikTok, Apa Maksudnya?
Sumber foto: Freepik

Enggak juga. Orang dengan gaya keterikatan avoidant tetap bisa membangun hubungan yang sehat, tapi perlu kesadaran dan usaha. 

Menurut Verywell Mind, hal pertama yang penting adalah mengenali pola perilaku diri sendiri. Menyadari bahwa rasa enggak nyaman terhadap kedekatan bukan berarti enggak cinta, melainkan refleks lama untuk melindungi diri.

Langkah berikutnya adalah mulai belajar mengenali emosi dan membiasakan diri untuk terbuka secara bertahap. Misalnya, berbicara tentang perasaan kecil yang selama ini disimpan, atau mencoba meminta dukungan dari orang yang dipercaya. Proses ini mungkin enggak mudah, karena butuh waktu dan keberanian untuk mengubah pola yang sudah terbentuk lama.

Terapi juga bisa membantu, terutama dengan pendekatan seperti emotion-focused therapy, yang membantu seseorang memahami dan mengekspresikan emosinya dengan lebih sehat. Dengan bimbingan profesional, orang dengan gaya avoidant bisa belajar merasa aman dalam keintiman tanpa merasa kehilangan kemandirian.

Baca juga: [Quiz] Gaya Cintamu Seperti Apa? Yuk, Temukan Attachment Style Kamu di Sini!

Gimana, dengan adanya tren ‘Bismillah Avoidant’ ini, apakah kamu merasa pasanganmu punya attachment yang sama, atau bahkan diri kamu sendiri?

Gabung discord Girls Beyond Circle kalau kamu suka bahas lebih banyak soal attachment style dan character type lainnya!

Cover: Freepik

Comments

(0 comments)

Sister Sites Spotlight

Explore Girls Beyond