gagal menampilkan data

Article

5 Fakta Ikan Sapu-Sapu yang Bikin Diburu Pemprov DKI, Nomor 4 Paling Bikin Ngeri

Written by Adila Putri Anisya

Belakangan ini, ikan sapu-sapu lagi ramai dibahas, terutama setelah Pemprov DKI Jakarta melakukan penangkapan besar-besaran di berbagai wilayah. Bukan tanpa alasan, ikan ini dianggap mengganggu ekosistem hingga berpotensi berbahaya kalau dikonsumsi.

Dalam satu operasi saja, puluhan ribu ekor berhasil ditangkap. Tapi yang bikin banyak orang penasaran: sebenarnya ikan ini berbahaya karena apa? Dan yang paling sering ditanya, emang bisa dimakan?

Biar kamu enggak cuma ikut-ikutan tren, yuk kenali fakta penting tentang ikan sapu-sapu di bawah ini.

Baca juga:  Bukan Lagi Slow Living, Ini Arti Soft Living yang Bisa Kamu Terapkan Mulai Sekarang! 

5 Fakta Ikan Sapu-Sapu yang Sedang Diburu Pemprov DKI

Fakta Ikan Sapu-Sapu yang Sedang Diburu Pemprov DKI
Sumber foto: Wikipedia

Ikan sapu-sapu sedang ramai dibicarakan, mungkin banyak yang belum tahu tentang fakta ikan ini. Maka, Girls Beyond telah merangkum beberapa fakta ikan sapu-sapu!

1. Populasinya Meledak dan Sulit Dikendalikan

Salah satu alasan utama ikan sapu-sapu diburu adalah karena populasinya yang “kebanyakan banget”.

Dalam satu hari, Pemprov DKI Jakarta berhasil menangkap sekitar 68.880 ekor atau hampir 7 ton ikan sapu-sapu di lima wilayah. Angka ini bukan cuma besar, tapi juga menunjukkan betapa cepat ikan ini berkembang biak.

Kenapa bisa sebanyak itu?

  • Satu induk betina bisa menghasilkan hingga 19.000 telur
  • Bisa berkembang biak beberapa kali dalam setahun
  • Sudah bisa bereproduksi meski ukurannya masih kecil

Karena siklus reproduksinya cepat, jumlahnya bisa langsung melonjak dalam waktu singkat. Ditambah lagi, hampir enggak ada predator alami yang memangsa ikan ini di perairan Indonesia.

Akibatnya, populasinya jadi sulit dikontrol dan makin mendominasi.

2. Termasuk Spesies Invasif yang Merusak Ekosistem

Ikan sapu-sapu sebenarnya bukan ikan asli Indonesia. Mereka berasal dari Amerika Selatan dan awalnya dikenal sebagai ikan hias.

Nama ilmiahnya salah satunya adalah Hypostomus plecostomus, yang terkenal sebagai “pembersih akuarium” karena suka makan lumut.

Namun, masalah muncul saat ikan ini dilepas ke alam bebas.

Dampaknya ke lingkungan

  • Menguasai sumber makanan di sungai
  • Memakan telur ikan lain
  • Mengganggu habitat ikan lokal
  • Mengurangi keanekaragaman hayati

Di berbagai negara seperti Bangladesh dan Iran, ikan ini bahkan sudah dikategorikan sebagai hama karena efeknya yang merusak ekosistem perairan.

Di Indonesia sendiri, ikan lokal seperti wader jadi terancam karena kalah bersaing.

3. Bisa Hidup di Air Tercemar (dan Ini Jadi Masalah)

Hal unik (sekaligus masalah) dari ikan sapu-sapu adalah kemampuannya bertahan di kondisi ekstrem.

Berbeda dengan ikan lain yang mudah mati di air kotor, ikan ini justru bisa tetap hidup bahkan berkembang di perairan tercemar.

Kenapa bisa begitu?

  • Bisa bernapas di air dengan kadar oksigen rendah
  • Mampu makan hampir semua jenis makanan (omnivora)
  • Tubuhnya dilindungi “armor” atau pelindung keras

Saat sungai tercemar dan ikan lain mati, ikan sapu-sapu malah tetap hidup dan berkembang. Inilah yang bikin populasinya terlihat “meledak” di kota-kota besar.

Singkatnya: semakin buruk kondisi air, semakin besar peluang ikan ini mendominasi.

4. Enggak Disarankan untuk Dimakan

Ini pertanyaan yang paling sering muncul: ikan sapu-sapu bisa dimakan enggak sih?

Jawabannya: sebaiknya enggak, terutama yang berasal dari sungai tercemar seperti di Jakarta.

Kenapa berbahaya?

  • Mengandung logam berat dari lingkungan kotor
  • Bisa menumpuk racun dalam tubuh
  • Berpotensi membahayakan manusia jika dikonsumsi

Bahkan, hasil olahan seperti tepung ikan pun dianggap berisiko. Kalau dimakan oleh hewan lalu masuk ke rantai makanan manusia, efeknya bisa tetap terasa.

Makanya, ikan hasil tangkapan di Jakarta langsung dimusnahkan dengan cara dibelah dan dikubur, supaya enggak disalahgunakan atau dijual.

Tapi… ada yang bilang bisa dimakan?

Iya, ada. Di negara asalnya seperti Brasil, ikan ini dikenal sebagai “cascudo” dan dikonsumsi.

Namun ada catatannya:

  • Ikan berasal dari perairan bersih atau hasil budidaya
  • enggak terpapar limbah atau polusi
  • Diolah dengan benar

Jadi, bukan berarti semua ikan sapu-sapu berbahaya. Tapi untuk yang hidup di sungai kota besar, risikonya jauh lebih tinggi.

5. Awalnya Ikan Hias, Sekarang Jadi Hama

Menariknya, ikan sapu-sapu dulu justru populer sebagai ikan peliharaan.

Di akuarium, ikan ini sering disebut “cleaner fish” karena:

  • Makan lumut di kaca
  • Membantu menjaga kebersihan akuarium
  • Perawatannya cukup mudah

Kenapa berubah jadi masalah?

  • Banyak orang melepasnya ke sungai saat sudah besar
  • Ukurannya bisa mencapai 50 cm
  • Umurnya panjang, bisa 10–15 tahun

Karena enggak punya musuh alami di habitat baru, ikan ini berkembang tanpa kontrol.

Fenomena ini juga terjadi di berbagai negara lain, termasuk Malaysia dan Filipina, yang sama-sama menghadapi masalah serupa.

Lalu, Apa yang Dilakukan Pemerintah?

Apa yang Dilakukan Pemerintah
Sumber foto: detikcom

Pemprov DKI Jakarta melakukan penangkapan massal sebagai langkah awal untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu.

Setelah ditangkap, ikan:

  • Dibelah dua
  • Dikubur di lokasi tertentu
  • Diawasi agar enggak disalahgunakan

Untuk jangka panjang, pemerintah juga berencana bekerja sama dengan akademisi untuk mencari solusi yang lebih efektif, termasuk teknologi pengendalian populasi.

Baca juga:  Justin Bieber Pilih Billie Eilish Jadi “One Less Lonely Girl” di Panggung Coachella

Ikan sapu-sapu memang terlihat “biasa aja”, tapi ternyata punya dampak besar terhadap lingkungan.

Mulai dari merusak ekosistem, mendominasi perairan, sampai berpotensi berbahaya jika dikonsumsi, semuanya jadi alasan kenapa ikan ini sekarang diburu.

Kalau kamu menemukan ikan ini di alam, terutama di sungai kota besar, sebaiknya jangan langsung berpikir untuk mengolahnya jadi makanan.

Lebih penting lagi, kita juga bisa ikut berkontribusi dengan enggak sembarangan melepas ikan peliharaan ke alam liar. Karena dari hal kecil seperti itu, dampaknya bisa besar ke lingkungan.

Mau tahu info menarik lainnya seputar isu terkini? Gabung WhatsApp Group Girls Beyond Circle, yuk!

Cover: Chewy

Comments

(0 comments)

Sister Sites Spotlight

Explore Girls Beyond