
Menurut Ahli, Ini 3 Cara Respons yang Tepat Saat Perempuan Sedang Sakit Menstruasi: Bukan Minum Air Hangat!
“Minum air hangat ya,” atau “Istirahat aja, nanti juga sembuh.” Pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat ini saat pasangan, teman, atau rekan kerja perempuan sedang mengeluh sakit saat menstruasi?
Sekilas, kalimat tersebut terdengar seperti bentuk perhatian. Namun, bagi perempuan yang sedang berjuang dengan kram perut, perubahan hormon, hingga emosi yang naik-turun, jawaban “template” seperti itu sering kali terasa hambar, bahkan menyebalkan. Alih-alih merasa didukung, mereka justru merasa keluhannya dianggap sepele atau hanya disederhanakan.
Dalam kampanye “Comfort, Made Together: Building a Supportive World Around Menstruation” yang diluncurkan oleh Laurier bertepatan dengan momentum Hari Kartini (21/04/2026), menyampaikan pesan bahwa kenyamanan saat menstruasi enggak bisa diciptakan sendiri oleh perempuan. Dibutuhkan lingkungan yang suportif dan cara merespons yang lebih bermakna daripada sekadar menyuruh minum air hangat.
Lantas, gimana sih cara menanggapi yang benar? Yuk, simak apa kata para ahli!
Baca juga: Kenali 4 Fase Menstruasi pada Perempuan Agar Lebih Paham dengan Tubuhmu Sendiri
Mengapa Respons “Minum Air Hangat” Sering Kali Gagal?

Banyak orang sebenarnya peduli, tapi mereka terjebak dalam knowledge gap atau kesenjangan pemahaman. Dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, seorang psikiater, menjelaskan bahwa menyarankan minum air hangat secara otomatis cenderung menjadi upaya untuk oversimplify atau menyederhanakan rasa sakit yang kompleks.
“Niat baik menyarankan minum air hangat ini justru me-offer simplify rasa sakit kita. Padahal, nyeri antara orang satu dengan orang yang lain itu beda-beda. Bukan cuma soal nyeri, ada jerawat, migren, masalah tidur, hingga diare,” jelas dr. Jiemi.
Sering kali, yang dibutuhkan perempuan bukan instruksi medis instan, melainkan kehadiran. Ketika seseorang hanya memberikan jawaban template, perempuan merasa ekspresi dan rasa sakitnya dianggap enggak valid. Seolah-olah menstruasi adalah “masalah rutin” yang harus cepat-cepat dibereskan agar enggak mengganggu orang lain.
Memahami Dinamika Tubuh: Mengapa Perempuan Menjadi Lebih Sensitif?

Bukan tanpa alasan perempuan menjadi lebih emosional atau sensitif saat menstruasi. Secara medis, ini adalah hasil dari pertempuran hormon di dalam tubuh. Dr. Elvine Gunawan, Sp.KJ, memaparkan bahwa perubahan hormon estrogen sangat memengaruhi kadar serotonin dan dopamin di otak.
“Ketika kita di awal-awal menstruasi, kita lebih sensitif terhadap ekspresi muka orang. Jadi kalau kita ngomong, ‘Udah aja minum air hangat,’ tapi mukanya sengak, itu rasanya kayak bawa bacok di momen-momen itu,” ungkap dr. Elvine.
Perubahan neuroplastisitas otak ini membuat cara perempuan memproses informasi dan emosi menjadi berbeda. Oleh karena itu, stigma bahwa perempuan “lagi dapet” sehingga boleh dimaklumi saja tidaklah cukup. Yang dibutuhkan adalah dukungan fungsional agar mereka tetap merasa aman secara emosional.
3 Cara Menanggapi Perempuan yang sedang Menstruasi: Pakai Gerakan HADIR (Pahami, Dampingi, Respons)

Untuk menjawab masalah ini, Laurier memperkenalkan pendekatan sederhana tapi bermakna, yaitu HADIR: Pahami, Dampingi, dan Respons.
Tiga langkah ini bisa jadi panduan praktis untuk memberikan dukungan yang lebih tepat.
1. Pahami: Dengarkan Tanpa Menghakimi
Langkah pertama adalah benar-benar mendengarkan. Bukan membandingkan, bukan juga langsung memberi solusi.
Dalam penjelasannya, dr. Jiemi menekankan pentingnya untuk enggak mengecilkan pengalaman perempuan. Setiap orang punya kondisi yang berbeda, jadi hindari komentar seperti “ah, biasa aja” atau “kan tiap bulan juga gitu.”
Cukup mulai dari hal sederhana:
- Tanyakan, “Kamu lagi ngerasa gimana?”
- Dengarkan tanpa menyela
- Jangan langsung menyimpulkan
Kadang, didengarkan saja sudah sangat membantu.
2. Dampingi: Tanyakan, Bukan Asumsi
Sering kali kita merasa sudah tahu apa yang dibutuhkan orang lain. Padahal, belum tentu benar.
Daripada langsung menyarankan sesuatu, lebih baik bertanya. Misalnya:
- “Kamu butuh ditemani atau mau sendiri dulu?”
- “Ada yang bisa aku bantu?”
Dalam talkshow Laurier, dijelaskan bahwa perempuan juga punya kebutuhan yang berbeda-beda. Ada yang ingin ditemani, ada juga yang butuh waktu sendiri.
Dengan bertanya, kita memberi ruang bagi mereka untuk menentukan kebutuhannya sendiri.
3. Respons: Sesuaikan dengan Kebutuhan
Setelah tahu apa yang dibutuhkan, barulah memberi respons yang tepat.
Respons ini bisa sangat sederhana, seperti:
- Memberikan ruang untuk istirahat
- Menemani tanpa banyak bicara
- Memberikan makanan favorit
- Atau sekadar menjaga nada bicara tetap lembut
Hal kecil seperti ini bisa membuat perempuan merasa lebih dihargai dan dipahami.
Seperti yang disampaikan dalam talkshow, “Hadir itu walaupun gampang, gak sepele.”
Baca juga: Haidmu Gak Teratur? Kenali Tanda Siklus Menstruasi Normal dan Abnormal
Yuk, Ubah Cara Pandang: Menstruasi Bukan Hal yang Memalukan

President Director Kao Indonesia, Shoichi Hasegawa, menegaskan bahwa menciptakan kualitas hidup yang baik atau Kirei Life adalah tanggung jawab bersama. Hal ini diamini oleh Susilowati, VP Marketing Kao Indonesia, yang menyatakan bahwa kenyamanan harus datang dari pemahaman, empati, dan koneksi.
Dukungan nyata bahkan bisa dimulai dari hal-hal yang sering dianggap tabu, seperti membelikan pembalut. Dr. Elvine menyarankan para perempuan untuk enggak ragu mengomunikasikan kebutuhan spesifik mereka kepada pasangan atau orang sekitar.
“Stigma itu dimulai dari rumah. Kalau kita menganggap itu tabu dan enggak mengajarkan cara mendukung yang benar, maka saat dewasa mereka akan terjebak dalam stigma itu. Ajarkan bahwa ini proses biologis yang nyata dan bukan sesuatu yang memalukan,” tutur dr. Elvine.
Ingat, Dukungan Itu Tentang Mereka, Bukan Tentang Kita!

Pada akhirnya, menjadi support system yang baik saat perempuan menstruasi bukan tentang seberapa pintar kita memberikan solusi medis, melainkan seberapa tulus kita hadir untuk mereka.
Seperti yang dikatakan Maudy Ayunda, “Dukungan itu sebenarnya tentang bagaimana rasanya bagi orang yang ingin kita dukung, bukan tentang kita. Apakah mereka merasa dipahami, didengar, dan merasa kita hadir?”
Jadi, lain kali jika orang terdekatmu mengeluh sakit saat menstruasi, simpan dulu saran air hangatmu. Cukup duduk di sampingnya, dengarkan, dan tanyakan: “Apa yang bisa aku bantu supaya kamu merasa lebih nyaman?” Langkah kecil dalam mengubah cara kita merespons bisa membuat perbedaan besar bagi kesejahteraan mental dan fisik perempuan di sekitar kita. Karena kenyamanan sejati memang harus dibuat bersama-sama. Comfort, Made Together.
Baca juga: Sering Disamakan, Ini Bedanya PMS dan Haid
Gabung WhatsApp Group Girls Beyond Circle dan dapatkan informasi menarik lainnya seputar perempuan!