gagal menampilkan data

Article

Ciri-ciri Mothering Relationship dan Cara Beralih ke Hubungan yang Lebih Sehat

Written by Adila Putri Anisya

Mothering relationship adalah kondisi ketika kamu tanpa sadar memperlakukan pasangan seperti anak sendiri, bukan sebagai partner yang setara. Sekilas mungkin terlihat seperti bentuk perhatian atau kasih sayang, tapi kalau dibiarkan, dinamika ini justru bisa bikin hubungan jadi enggak sehat.

Banyak orang, terutama perempuan, sering terjebak dalam pola ini karena niatnya ingin “merawat” pasangan. Padahal, hubungan yang sehat itu bukan soal siapa yang lebih mengatur, tapi bagaimana dua orang bisa saling mendukung tanpa kehilangan peran masing-masing.

Nah, biar kamu lebih paham, kita bahas ciri-ciri sikap mothering, contoh nyatanya, sampai cara mengubahnya jadi lebih sehat.

Baca juga: Karmic Relationship: Ciri-Ciri, Bahaya, dan Cara Mengatasinya 

Apa Itu Mothering dalam Hubungan?

Apa Itu Mothering dalam Hubungan
Sumber foto: Pexels

Secara sederhana, mothering dalam hubungan adalah ketika kamu mengambil peran seperti orang tua, mengatur, mengingatkan, bahkan mengontrol kehidupan pasangan.

Dilansir dari Pen Consultancy, mothering terjadi saat perhatian berubah jadi berlebihan dan cenderung mengontrol, misalnya mengambil keputusan sendiri, terus-terusan memberi nasihat tanpa diminta, atau mengambil alih tanggung jawab pasangan.

Masalahnya, hubungan romantis seharusnya berjalan setara. Ketika salah satu jadi “orang tua” dan yang lain jadi “anak”, keseimbangannya otomatis hilang.

Ciri-ciri Sikap Mothering ke Pasangan

Ciri-ciri Sikap Mothering ke Pasangan
Sumber foto: Pexels

Supaya kamu bisa lebih aware, ini beberapa tanda yang sering muncul dalam mothering relationship:

1. Sering Mengatur Hal-Hal Kecil dalam Hidup Pasangan

Kamu merasa perlu mengingatkan pasangan soal hal-hal sepele—dari makan sayur, tidur tepat waktu, sampai urusan kebersihan. Awalnya mungkin niat baik, tapi kalau terlalu sering, ini bisa terasa seperti dikontrol.

2. Memberi Nasihat Tanpa Diminta

Kamu langsung kasih solusi setiap pasangan cerita, bahkan sebelum dia minta pendapat. Lama-lama, ini bisa bikin pasangan merasa enggak dipercaya.

3. Mengambil Alih Tanggung Jawab

Kamu jadi orang yang “beresin semuanya”, mulai dari urusan rumah, jadwal, sampai kebutuhan sehari-hari pasangan. Akibatnya, pasangan jadi terbiasa bergantung.

4. Terlalu Protektif

Kamu khawatir berlebihan dan ingin memastikan semuanya berjalan sesuai keinginanmu. Ini bisa bikin pasangan merasa terkekang.

5. Sulit Percaya pada Kemampuan Pasangan

Tanpa sadar, kamu merasa pasangan enggak bisa melakukan sesuatu dengan benar, jadi kamu memilih mengambil alih.

Baca juga: Anti Posting Pacar di Media Sosial? Kamu Bisa Coba ‘Soft Launching Relationship’! 

Contoh Nyata Mothering dalam Hubungan

Contoh Nyata Mothering dalam Hubungan
Sumber foto: Pexels

Fenomena ini bukan cuma teori. Bahkan dalam kehidupan nyata, banyak orang mengalaminya.

Dilansir dari YourTango, penulis J. Courtney Sullivan menceritakan pengalamannya menjadi “mothering girlfriend”. Awalnya, dia punya prinsip untuk enggak menjalin hubungan dengan pria yang harus “diurus”. Tapi seiring waktu, dia justru berubah.

Ia mulai mengatur kehidupan pasangannya, mulai dari menyuruh makan sayur, mengganti seprai, sampai mengingatkan jadwal dokter. Bahkan, pasangannya sampai menyindir dengan berkata, “Thanks, Mom.”

Kutipan ini menunjukkan satu hal penting:

“There’s something creepy and entirely unattractive about playing a maternal role with the man you love.” — dilansir dari YourTango

Dari sini kelihatan kalau mothering bukan cuma bikin pasangan enggak nyaman, tapi juga bisa mengurangi daya tarik dalam hubungan.

Apakah Sikap Mothering Itu Baik?

Apakah Sikap Mothering Itu
Sumber foto: Pexels

Jawabannya: tergantung, tapi cenderung enggak baik kalau berlebihan.

Dalam kadar wajar, perhatian itu penting dan sehat. Tapi kalau sudah masuk ke ranah mengontrol dan mengambil alih peran pasangan, ini bisa berdampak negatif.

Dilansir dari berbagai penelitian hubungan interpersonal, termasuk yang dipublikasikan di PubMed, hubungan yang sehat ditandai dengan keseimbangan peran dan kemandirian masing-masing individu. Ketika satu pihak terlalu dominan dan yang lain terlalu bergantung, risiko stres, keenggakpuasan hubungan, hingga konflik jadi lebih tinggi.

Beberapa dampak negatif dari mothering relationship antara lain:

  • Pasangan jadi kurang mandiri
  • Kamu merasa kelelahan secara emosional
  • Hubungan kehilangan rasa setara
  • Muncul rasa jenuh atau bahkan kehilangan ketertarikan

Jadi, meskipun niatnya baik, hasilnya belum tentu sehat untuk hubungan jangka panjang.

Kenapa Seseorang Bisa Jadi “Mothering” dalam Hubungan?

Kenapa Seseorang Bisa Jadi “Mothering” dalam Hubungan?
Sumber foto: Pexels

Menariknya, sikap ini enggak muncul begitu saja. Ada beberapa alasan di baliknya.

Dilansir dari Pen Consultancy, beberapa penyebab umum antara lain:

  • Naluri ingin merawat orang yang disayang
  • Takut pasangan membuat kesalahan
  • Pengalaman hubungan sebelumnya
  • Perfeksionisme
  • Kurang percaya pada pasangan
  • Insecurity atau rasa takut enggak dibutuhkan

Kadang, mothering juga muncul karena kamu menganggap “mengatur” adalah bentuk cinta. Padahal, cinta yang sehat justru memberi ruang.

Sikap yang Lebih Sehat: Nurturing Relationship

Sikap yang Lebih Sehat: Nurturing Relationship
Sumber foto: Pexels

Daripada terjebak dalam mothering relationship, kamu bisa mulai beralih ke pola hubungan yang lebih sehat, yaitu nurturing relationship. Ini bukan berarti kamu berhenti peduli, tapi cara pedulinya lebih seimbang dan saling mendukung.

Dilansir dari Centre for Early Childhood dalam artikel oleh Bob Waldinger, hubungan yang baik adalah fondasi utama kebahagiaan dan kesehatan. Bahkan, penelitian Harvard Study of Adult Development yang berlangsung lebih dari 85 tahun menunjukkan bahwa kualitas hubungan sangat berpengaruh pada kesehatan mental dan fisik seseorang.

1. Acceptance (Penerimaan)

Hubungan yang sehat dimulai dari menerima pasangan apa adanya. Bukan berarti membenarkan semua hal, tapi memahami tanpa ingin “mengubah total” dirinya.

2. Active Listening (Mendengarkan dengan Sungguh-sungguh)

Bukan cuma menunggu giliran bicara, tapi benar-benar mendengarkan. Ini bikin pasangan merasa dihargai.

3. Empati

Coba lihat dari sudut pandang pasangan. Ini membantu kamu lebih memahami perasaannya tanpa langsung menghakimi.

4. Komunikasi yang Sehat

Ungkapkan perasaan dengan jelas, tapi tetap menghargai. Hindari nada menggurui atau menyalahkan.

5. Kompromi

Hubungan bukan soal menang atau kalah, tapi mencari jalan tengah yang nyaman untuk kedua pihak.

6. Menetapkan Batasan

Hubungan yang sehat tetap butuh batasan. Kamu enggak harus mengurus semua hal dalam hidup pasangan.

7. Mengelola Konflik dengan Baik

Konflik itu wajar. Yang penting adalah bagaimana cara menyelesaikannya tanpa saling menyakiti.

Menurut penelitian Harvard tersebut, hubungan yang penuh dukungan dan saling menghargai bisa membuat seseorang lebih bahagia, lebih sehat, bahkan hidup lebih lama. Sebaliknya, kesepian dan hubungan yang enggak sehat bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Baca juga: Ciri-Ciri Hubungan Secure Attachment, Kamu dan Pasangan Dewasa secara Emosional 

Jadi, daripada jadi “orang tua” dalam hubungan, yuk mulai bangun hubungan yang saling mendukung, bukan mengontrol. Karena hubungan yang sehat itu tentang tumbuh bareng, bukan saling mengatur!

Gabung WhatsApp Group Girls Beyond Circle dan dapatkan info menarik lainnya seputar relationship!

Cover: Pexels

Comments

(0 comments)

Sister Sites Spotlight

Explore Girls Beyond