
Yuk Kenalan Sama 'Deinfluencing': Tren Anti Konsumtif yang Viral di Tiktok
Di era sosial media sekarang ini, rasanya wajar banget kalau gampang tergoda untuk beli barang-barang lucu cuma lewat sekali tekan checkout. Apalagi ditambah konten “racun” dari para influencer yang sering bikin kita ngerasa semua hal terlihat menarik dan butuh untuk dibeli. Tanpa sadar, lama kelamaan kebiasaan itu bisa bikin gaya hidup perlahan bergulir jadi konsumtif.
Nah, tau enggak sih, kalau belakangan ini ada fenomena baru yang ramai diperbincangkan di TikTok namanya deinfluencing trend. Tren ini hadir layaknya “rem” di tengah laju hasrat belanja impulsif yang makin hari makin sulit dikendalikan.
Bukan cuma itu, deinfluencing trend ini justru hadir membawa pesan kalau hidup hemat dan sadar akan literasi finansial juga bisa tetap keren, lho!
Baca Juga: Kakeibo: Cara Mengatur Keuangan Pribadi ala Orang Jepang, Jadi Ogah Belanja Impulsif
Apa itu Deinfluencing Trend?

Deinfluencing adalah tren di media sosial khususnya TikTok, yang mengajak pengguna untuk lebih kritis sebelum membeli produk yang sedang viral. Dikutip dari Vogue, Kalau influencer biasanya merekomendasikan produk untuk dibeli, nah tren ini justru melarang sambil membahas produk yang dianggap enggak sesuai dengan klaim, kualitasnya biasa aja, atau enggak sebanding dengan harganya.
Tren ini awalnya populer di kalangan beauty influencer yang share review jujur mengenai produk skincare dan makeup yang dianggap terlalu dilebih-lebihkan. Seiring waktu, tren ini berkembang ke berbagai kategori lain lho seperti produk gaya hidup, alat penata rambut, hingga barang-barang viral yang sebenarnya enggak terlalu dibutuhkan.
Funfact, popularitas tren ini terus meningkat kalau dilihat dari penggunaan hashtag #deinfluencing di aplikasi TikTok yang udah mencapai lebih dari 21,4 juta unggahan per bulan Mei 2026!
Baca Juga: 3 Tren Warna Baju Lebaran 2026, Ada Kesukaanmu?
Kenapa Gen Z Mudah Ter-Influence?

Di tengah keseharian yang serba digital sekaligus tumbuh bersama media sosial, Gen Z udah pasti sering banget terpapar berbagai jenis konten setiap harinya termasuk rekomendasi produk.
Apalagi, algoritma media sosial biasanya juga terus menampilkan konten sesuai minat pengguna sehingga lebih mudah menarik perhatian dan mempengaruhi pemikiran untuk menjadikan sebuah barang sebagai suatu ‘wishlist’.
Selain itu, faktor emosional juga berperan penting lho Girls! Christopher Fisher, PsyD, MSEd., psikolog dan Director of the Adult Outpatient Psychiatry Department di Northwell Zucker Hillside Hospital, menjelaskan bahwa ada kaitannya dengan doom spending, yaitu kebiasaan berbelanja impulsif yang dilakukan untuk meredakan stres atau kecemasan.
Sayangnya, rasa puas yang muncul biasanya hanya sementara dan kebiasaan ini sering kali berujung pada penyesalan dan masalah keuangan karena pembelian dilakukan berdasarkan dorongan emosi, bukan kebutuhan alias impulsif.
Dalam kondisi seperti ini, rekomendasi influencer dan tren yang sedang viral menjadi semakin sulit untuk diabaikan. Keinginan untuk mengikuti tren dan tidak ketinggalan informasi (fear of missing out atau FOMO) juga membuat banyak Gen Z lebih mudah tertarik mencoba produk yang sedang ramai dibicarakan.
Akibatnya, keputusan membeli seringkali dipengaruhi oleh popularitas suatu produk di media sosial dibandingkan pertimbangan manfaat atau kebutuhan yang sebenarnya.
Baca Juga: Cara Melatih Sikap JOMO, Gaya Hidup Tanpa Ngerasa Takut Ketinggalan
Dampak Deinfluencing Trend di Era Belanja Impulsif

Deinfluencing trend muncul untuk mendorong audiens agar lebih kritis dan rasional dalam mengambil keputusan pembelian.
Dalam tren ini, para kreator mengajak audiens untuk tidak mudah tergoda oleh produk-produk viral dan mempertimbangkan kembali apakah suatu produk benar dibutuhkan atau sekedar ingin memenuhi wishlist.
Selain membantu mengurangi pengeluaran impulsif, tren ini juga mendorong gaya hidup yang lebih mindful! Konsumen jadi lebih sadar dan selektif akan kebiasaannya dalam berbelanja. Dengan begitu, pengeluaran jadi bisa dikelola jauh lebih bijak dan gaya hidup tetap stabil tapi juga hemat berkelanjutan.
Tips Biar Kamu Lebih ‘Mindful’ Sebelum Checkout!

Jangan khawatir, Gaby udah siapin beberapa tips untuk atur kebiasaanmu biar enggak sering belanja impulsif dan nyesel di kemudian hari!
1. Terapkan metode budgeting
Kamu bisa membatasi pengeluaran bulananmu sejak awal dengan menempatkan dana di masing-masing keperluan misalnya tabungan, hiburan, atau kesehatan. Dengan begini keuangan bisa lebih terarah.
2. Coba aturan tunggu 3 hari
Saat tergoda barang yang lewat di sosial media, beri jeda selama 3 hari atau 72 jam sebelum kamu checkout. Kalau kamu masih kepikiran dan merasa butuh, baru pertimbangkan proses membelinya.
3. Kenali pemicu impulsif
Pahami kebiasaanmu. Apakah biasanya pembelian impulsif terjadi saat sedang stress, sedih, ataupun bosan? Mengenali pemicu belanja bisa membantu kamu untuk lebih sadar dalam mengambil keputusan.
4. Kelola paparan media sosial
Kurangi mengikuti akun yang sering mempromosikan produk atau membuatmu FOMO agar tidak semakin besar dorongan untuk melakukan pembelian impulsif.
5. Set goals keuangan yang lebih besar
Misalnya untuk liburan, beli gadget baru, atau tabungan darurat. Hal ini bisa membantu kamu biar lebih mindful dan berpikir dua kali sebelum membeli suatu barang yang sebenarnya enggak terlalu butuh.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Ini 6+ Tips Mengatur Keuangan Anti Boncos
Di era ketika satu video bisa membuat sebuah produk sold out ribuan dalam hitungan jam, kemampuan untuk menahan diri justru bisa jadi sebuah keunggulan!
Menjadi mindful shopper bukan artinya kamu harus berhenti belanja hal-hal receh. Sebaliknya, gimana cara kamu membuat keputusan yang lebih bertanggung jawab dengan keadaan finansialmu sendiri.
Alih-alih tergoda untuk membeli produk yang lagi viral, lebih baik kita bangun kebiasaan belanja yang enggak impulsif dan lebih bijak dengan mempertimbangkan kebutuhan, manfaat, dan kondisi keuangan.
Mau tau lebih banyak tentang tren terbaru dan hal menarik lainnya? Langsung aja yuk join komunitas WhatsApp Group Girls Beyond Circle.
Hai, teman-teman! Aku Amel, penulis artikel ini. Let’s connect on Linkedin or hit me up on Instagram!
Comments
(0 comments)