
Cara Melatih Sikap JOMO, Gaya Hidup Tanpa Ngerasa Takut Ketinggalan
Kamu lagi asyik rebahan sambil scrolling TikTok, tiba-tiba lihat story teman-teman lagi nongkrong di cafe hits yang baru buka?
Detik itu juga, perasaan tenangmu berubah jadi gelisah. Ada rasa takut ketinggalan tren, takut enggak dianggap asyik, atau merasa hidupmu membosankan banget dibanding mereka. Nah, itulah yang namanya FOMO (Fear of Missing Out).
Tapi, tahu enggak kalau ada “obatnya” yang jauh lebih bikin tenang daripada FOMO? Namanya JOMO, alias Joy of Missing Out. Yuk, kita bahas gimana sih “melatih” gaya hidup kita agar lebih “JOMO”!
Baca juga: Gak Harus Ikuti Tren, Istilah JOMO Disebut Lebih Baik, Mengapa?
Apa Itu Sikap JOMO?

JOMO adalah penawar cerdas secara emosional untuk FOMO. Jika FOMO membuat kita merasa cemas dan terus-menerus ingin “memberi makan” rasa lapar akan pengakuan sosial, sikap JOMO justru mengajak kita merasakan indahnya “kekosongan”.
Dengan menerapkan ini, kamu dengan sadar memilih untuk enggak datang ke pesta yang sebenarnya kamu malas datangi, lalu menggantinya dengan dengerin musik favorit di kamar sambil maskeran. Rasa puas dan damai karena berhasil memilih apa yang benar-benar kamu inginkan, tanpa rasa bersalah, tulah inti dari JOMO.
Dr. Susan Albers, seorang psikolog dari Cleveland Clinic, menyebut JOMO sebagai “sepupu jauh yang santai” dari FOMO. Bukan berarti kamu mengisolasi diri atau enggak punya kehidupan sosial, tapi tentang menjadi selektif.
Kamu memilih kualitas daripada kuantitas. Kamu enggak lagi merasa harus ada di mana-mana bersama siapa saja hanya demi terlihat “eksis”.
Kenapa Kita Perlu Beralih ke JOMO?

Sebagai Gen Z, kita tumbuh di dunia yang serba digital. Media sosial seperti Instagram dan Twitter (X) seolah memaksa kita untuk selalu up-to-date.
Sebagai Gen Z, kita tumbuh di dunia yang serba digital. Media sosial seperti Instagram dan Twitter (X) seolah memaksa kita untuk selalu up-to-date.
Dilansir dari EatingWell, terus-menerus terjebak dalam pola pikir FOMO bisa bikin kita kehilangan kontak dengan momen saat ini, membuat segalanya terasa lebih berat dan melelahkan.
Berikut beberapa manfaat kalau kamu mulai mempraktikkan JOMO:
- Mengurangi Stres dan Burnout: Dengan berani bilang “enggak” pada undangan yang enggak penting, kamu memberi napas buat mentalmu.
- Meningkatkan Fokus dan Produktivitas: Saat enggak sibuk mikirin apa yang orang lain lakukan, kamu punya lebih banyak energi untuk mengejar tujuan pribadimu sendiri.
- Hubungan yang Lebih Bermakna: Kamu akan lebih hadir secara utuh saat bersama orang-orang yang benar-benar kamu sayangi, bukan sekadar hadir karena merasa wajib.
- Kesehatan Fisik yang Lebih Baik: Stress yang berkurang berdampak positif pada kesehatan jantung dan sistem imun tubuhmu.
Baca juga: 5 Gaya Hidup Sehat Gen Z yang Bisa Dicoba di 2026
Cara Melatih Gaya Hidup JOMO

Mengubah kebiasaan dari yang tadinya selalu pengen tahu segalanya jadi cuek yang elegan itu butuh latihan. Dilansir dari Cleveland Clinic dan Psychology Today, berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa kamu lakukan sekarang juga:
1. Atur Jadwal “Tech-Free Time”
Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi FOMO adalah dengan membatasi waktu di media sosial. Semakin sering kamu melihat kehidupan orang lain, semakin besar dorongan untuk membandingkan diri.
Coba mulai dengan langkah kecil:
- Matikan notifikasi aplikasi tertentu,
- Tentukan batas waktu scrolling,
- atau bahkan hapus aplikasi yang paling bikin kamu overthinking.
Dengan memberi jeda dari dunia digital, kamu jadi lebih fokus pada kehidupan nyata.
2. Belajar Bilang “enggak” Tanpa Minta Maaf
Sering kali kita merasa enggak enak kalau nolak ajakan teman. Tapi, jujur deh, memaksakan diri datang ke acara saat kamu lagi capek cuma bakal bikin kamu enggak bahagia.
Belajarlah bilang, “Makasih ya sudah diajak, tapi kali ini aku enggak bisa ikut dulu,” tanpa perlu kasih alasan panjang lebar. Bilang “Enggak” pada orang lain sering kali berarti bilang “iya” pada dirimu sendiri.
3. Kurangi “Background Noise” di Media Sosial
Coba deh unfollow atau mute akun-akun yang sering bikin kamu merasa minder atau merasa hidupmu kurang beruntung.
Kamu punya kendali penuh atas apa yang masuk ke dalam pikiranmu. Fokuslah pada akun-akun yang memberikan inspirasi atau pengetahuan baru, bukan yang cuma pamer kemewahan yang bikin kamu cemas.
4. Praktikkan Hidup di Masa Sekarang
Saat kamu lagi makan enak, nikmati rasanya, aromanya, dan suasananya. Jangan sibuk cari angle foto buat masukin ke Story sampai makanannya dingin.
Sikap JOMO melatih kita untuk menghargai apa yang ada di depan mata. Ingat, momen-momen terbaik dalam hidup sering kali adalah yang enggak sempat kita rekam.
JOMO vs Anti-Sosial: Apa Bedanya?

Banyak yang salah paham kalau JOMO itu berarti jadi antisosial atau ansos. Bedanya tipis tapi krusial. Dilansir dari EatingWell, JOMO itu tentang istirahat yang disengaja (intentional rest), bukan penghindaran (avoidance).
Kalau kamu menghindar karena takut bersosialisasi atau merasa depresi, itu hal yang berbeda dan mungkin butuh bantuan profesional. Tapi kalau kamu merasa lega dan bahagia karena akhirnya punya waktu buat diri sendiri setelah minggu yang sibuk, itulah JOMO yang sehat.
Bahagia Itu Pilihan, Bukan Kompetisi!

Hidup dengan sikap JOMO bukan berarti kamu ketinggalan zaman. Justru, ini adalah tanda bahwa kamu sudah cukup dewasa secara emosional untuk tahu apa yang benar-benar penting buat kamu. Kamu enggak butuh validasi dari jumlah likes atau komentar untuk merasa hidupmu berarti.
Jadi, mulai hari ini, coba deh sesekali matikan notifikasi HP-mu, seduh kopi atau teh favorit, dan nikmati waktu dengan dirimu sendiri. Ternyata, ketinggalan sesuatu itu enggak semenakutkan itu, kok. Malah, rasanya bisa sangat melegakan.
Gimana, siap buat cobain hidup gaya JOMO mulai weekend ini?
Baca juga: 5 Manfaat Punya Hobi: Seberapa Penting bagi Hidupmu?
Gabung discord Girls Beyond Circle kalau kamu mau info ter-update dengan gaya hidup lainnya!
Cover: Freepik
Comments
(0 comments)