Menu
Personal Growth

Perempuan yang Mendobrak Gender Gap di Bidang STEM

Science, technology, engineering, dan mathematics (STEM) merupakan salah satu bidang yang terkenal didominasi oleh laki-laki. Data dari American Association of University Women (AAUW) menunjukkan bahwa partisipasi perempuan di bidang ini hanyalah 28%. Oleh karena itu, kesetaraan gender di bidang STEM sangatlah penting untuk diupayakan. 

Meski begitu, bukan berarti perempuan sama sekali nggak bisa berkecimpung di bidang STEM. Nama-nama di bawah ini telah membuktikan bahwa perempuan juga bisa mendobrak tembok yang menghalangi mereka untuk masuk ke bidang STEM. Siapa saja mereka? Yuk, kenalan dengan 7 perempuan ikonik di bidang STEM ini!

Baca juga: 5 Jurusan Teknik yang Direkomendasikan bagi Perempuan

Ada Lovelace 

Augusta Ada King adalah seorang putri bangsawan dari London, Inggris. Namun, ia bukan bangsawan sembarangan, lho. Perempuan yang juga dikenal sebagai Ada Lovelace ini merupakan cikal bakal dari lahirnya teknologi modern.

Dibesarkan oleh ibu berpendidikan tinggi, Lovelace memiliki akses terhadap ilmu sains dan matematika sejak kecil. Meski nggak pernah mengenyam pendidikan formal, Ada belajar dengan seorang tutor privat. Ketertarikan Lovelace terhadap dunia teknik terus berkembang hingga ia bertemu ilmuwan Charles Babbage pada tahun 1883. Di bawah bimbingan Babbage, Ada Lovelace memulai karirnya sebagai seorang ahli matematika. 

Pada tahun 1840an, Ada Lovelace menerjemahkan artikel karya ahli matematika Italia, Luigi Menabrea mengenai gagasan mesin analitis yang dicetuskan oleh Charles Babbage. Ia menambahkan catatannya sendiri mengenai metode kalkulasi Bernoulli pada mesin tersebut. Ada Lovelace meninggal di usia 36 tahun akibat kanker rahim. Meski begitu, hingga kini namanya dikenal sebagai programmer komputer pertama di dunia. 

Baca juga: Kenalan dengan Prospek Kerja di Bidang IT, Yuk!

Marie Curie 

Marie Curie adalah seorang perempuan asal Polandia yang lahir pada tahun 1867. Dibesarkan oleh pasutri yang berprofesi sebagai guru, Curie memiliki ketertarikan terhadap matematika dan fisika sejak kecil. Pada tahun 1891, ia merantau ke Paris, Prancis untuk menuntut ilmu di Sorbonne University. Dikarenakan kondisi ekonominya yang buruk, Curie bekerja paruh waktu sebagai tutor setiap malam. Meski begitu, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya di bidang fisika pada tahun 1893. Satu tahun setelahnya, Curie mendapatkan gelar keduanya di bidang matematika.

Marie Curie sempat bekerja di bidang investigasi baja setelah lulus kuliah. Selanjutnya, ia mulai melakukan eksperimen secara mandiri. Eksperimen Curie kemudian menjadi cikal bakal dari lahirnya ilmu fisika atom. Dari situ, ia mencetuskan istilah “radioaktivitas”. Ia juga melakukan eksperimen gabungan dengan sang suami, Pierre Curie dan menemukan unsur polonium serta radium. 

Pada tahun 1906, Marie Curie menjadi perempuan pertama yang mengajar di Sorbonne University. Ketika Perang Dunia I meletus, Curie mengembangkan mesin X-ray portabel bersama putrinya, Irène Curie. Marie Curie adalah perempuan pertama yang mendapatkan Penghargaan Nobel. Selain itu, ia juga merupakan satu-satunya perempuan yang berhasil mendapatkan dua Penghargaan Nobel sekaligus.

Baca juga: Tak Cuma Ratu Elizabeth II, Berikut 5 Pemimpin Perempuan Hebat dari Seluruh Dunia

Katherine Johnson 

Sejak kecil, Katherine Johnson telah menunjukkan kemampuan luar biasa di bidang matematika. Setelah menyelesaikan jenjang SMA, ia melanjutkan pendidikannya di West Virginia State College (WVSC). Di sana, ia mengambil semua perkuliahan matematika yang ditawarkan. Johnson sempat bekerja sebagai guru sebelum akhirnya mendapat pekerjaan di NASA. 

Berbeda dengan pegawai perempuan lainnya, Katherine Johnson memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Ia bahkan menjadi perempuan pertama yang mengikuti rapat-rapat penting di NASA. Johnson mulai dipercaya untuk membuat kalkulasi perjalanan luar angkasa yang dilakukan oleh NASA. Pada tahun 1969, manusia menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di bulan. Pencapaian ini nggak lepas dari kontribusi Katherine Johnson. 

Pada tahun 2015, Presiden Barack Obama menganugerahi Presidential Medal of Freedom kepada Katherine Johnson. Penghargaan tersebut diberikan kepada masyarakat sipil yang berkontribusi terhadap keamanan serta kepentingan nasional Amerika Serikat. Kisah Katherine Johnson juga diangkat dalam sebuah film biografi berjudul “Hidden Figures” di tahun 2016. Selain Johnson, “Hidden Figures” juga menceritakan dua perempuan kulit hitam lainnya yang nggak kalah berjasa bagi NASA, yaitu Mary Jackson dan Dorothy Vaughan.

Baca juga: 6 Rekomendasi Film yang Bikin Kamu Makin Semangat di Tempat Kerja

Valentina Tereshkova

Masih seputar perjalanan luar angkasa, Valentina Tereshkova adalah kosmonot perempuan pertama di dunia. Tereshkova menyukai terjun payung sejak usianya masih sangat muda. Ia sempat mengikuti pelatihan untuk menjadi atlet terjun payung profesional. Meski begitu, ia nggak sempat mengikuti kompetisi terjun payung. Namun, siapa sangka hobi ekstremnya itu justru mengantar Tereshkova ke kesempatan emas untuk terbang ke luar angkasa.

Pada tahun 1962, Valentina Tereshkova menjadi satu dari empat kosmonot perempuan pertama di Rusia (saat itu Uni Soviet). Satu tahun setelahnya, ia terbang ke luar angkasa bersama Vostok 6. Ia mengelilingi planet Bumi sebanyak 48 kali dalam waktu 2 hari 22 jam 50 menit. 

Valentina Tereshkova dianugerahi gelar pahlawan nasional atas pencapaiannya tersebit. Misi Vostok 6 menjadi kali pertama dan terakhir Tereshkova mengunjungi luar angkasa. Selanjutnya, ia sempat berkarier sebagai instruktur kosmonot. Ia juga berkecimpung di Angkatan Udara Rusia hingga pensiun pada tahun 1977. 

Baca juga: Susah Cari Kerja? Jangan-jangan Kamu Alami Skills Gap

Burçin Mutlu-Pakdil

Burçin Mutlu-Pakdil membuktikan bahwa bidang astronomi bukan cuma dunianya laki-laki. Mutlu-Pakdil lahir dan besar di Turki dalam sebuah keluarga yang kesulitan secara finansial. Meski begitu, ia pantang menyerah dan berhasil menjadi mahasiswi S1 Fisika di Bilkent University, Ankara pada tahun 2009. Mutlu-Pakdil adalah generasi pertama dalam keluarganya yang berhasil menempuh pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Burçin Mutlu-Pakdil selanjutnya merantau ke Amerika Serikat dan mendapatkan gelar S2-nya dari Texas Tech University. Kemudian pada tahun 2017, ia sukses mendapatkan gelar S3 astrofisika dari University of Minnesota. Ia memulai kiprahnya sebagai researcher di University of Arizona dan berhasil menemukan galaksi PGC 1000714. Galaksi langka berbentuk elips dengan cincin ganda tersebut lantas dijuluki sebagai “Galaksi Burçin”.

Hingga kini, Burçin Mutlu-Pakdil masih berkecimpung di dunia astrofisika. Ia memiliki visi untuk terus meneliti benda-benda langit yang langka dan tak lazim. Mutlu-Pakdil juga aktif mendorong partisipasi perempuan Muslim di bidang STEM. Saat ini, Mutlu-Pakdil merupakan anggota National Science Foundation (NSF) sekaligus Kavli Institute for Cosmological Physics (KICP) di University of Chicago.

Baca juga: 10 Prodi Langka Ini Cuma Ada Satu di Indonesia

Arvila Delitriana

Ternyata, Indonesia juga punya tokoh perempuan hebat di bidang STEM. Pada tahun 2019, Indonesia memecahkan rekor melalui pembangunan jembatan lengkung LRT terpanjang di dunia. Proyek pembangunan jembatan sepanjang 148 meter itu didalangi oleh Arvila Delitriana. 

Sebenarnya, nama Arvila nggak asing lagi di dunia konstruksi. Selama lebih dari dua dekade terakhir, ia telah berkecimpung di dunia konstruksi jembatan. Sejumlah karya Arvila yang nggak kalah hebat, yaitu Jembatan Kereta Api Cirebon-Kriya, Jembatan Perawang di Riau, dan Jembatan Kali Kuto di Semarang.

Meski begitu, nggak mudah bagi Arvila untuk meyakinkan kontraktor akan ide pembangunan jembatan lengkung LRT yang dimilikinya. Saat itu, idenya sempat diragukan oleh seorang konsultan proyek asal Jepang. Setelah melalui perundingan panjang, kontraktor memutuskan untuk memakai rancangan Arvila. Benar saja, mereka sukses membangun jembatan lengkung LRT sepanjang 148 dengan radius lengkung 115 meter di atas flyover Kuningan, Jakarta. 

Baca juga: Kisah Perempuan Indonesia yang Sukses Bangun ‘Empire’ Mereka Sendiri

Silvia Halim

Nggak cuma Arvila Delitriana, Indonesia juga punya Srikandi STEM bernama Silvia Halim. Pada tahun 2019 lalu, pemerintah Indonesia membuat gebrakan dengan peresmian MRT di Jakarta. Proyek pembangunan moda transportasi tersebut nggak lepas dari sosok Silvia Halim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta. 

Silvia Halim adalah lulusan S1 Teknik Sipil dari Nanyang Technological University. Ia kemudian berkarier di sektor transportasi darat Singapura. Setelah 12 tahun, Silvia akhirnya memutuskan kembali ke Tanah Air dan terjun ke dunia transportasi Indonesia. 

Silvia Halim bergabung dengan PT MRT Jakarta sejak tahun 2016 dan menjadi satu-satunya perempuan yang memasuki jajaran direksi. Pengalaman bekerja di Singapura yang merupakan salah satu negara dengan transportasi terbaik di dunia menjadi nilai plus baginya. Di tangan Silvia, pembangunan jalur MRT yang membentang dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia sukses dilakukan. 

Baca juga: Berniat untuk Career Switch? Ini 7 Hal yang Wajib Kamu Ketahui Sebelumnya!

Tujuh nama yang disebutkan di atas hanyalah sedikit dari banyaknya perempuan hebat yang berada di bidang STEM. Mendobrak batasan gender di bidang STEM memang nggak mudah, tetapi bukan berarti mustahil. Kamu pasti bisa, kok seperti mereka. Tetap semangat dan semoga berhasil, girls

Kepengen sharing seputar pendidikan dan karier? Yuk, gabung dengan Girls Beyond Circle! Klik di sini untuk join, ya!

No Comments

    Leave a Reply