
Cek Fakta tentang Relapse pada Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya
Kalau kamu adalah salah satu orang yang menganggap relapse adalah kondisi seseorang yang gagal move on atau teringat kenangan mantan sampai kangen, stop!
Kesalahpahaman ini sering banget terjadi orang-orang menemukan kata baru dan asing untuk digunakan, sehingga penggunaan suatu kata atau istilah medis menjadi overused. Enggak tanggung-tanggung, kata atau istilah tersebut bisa mengalami pergeseran makna. Salah satunya adalah relapse.
Biar makin enggak salah paham, yuk pelajari bareng arti sebenarnya dari relapse!
Baca juga: Mindful Rest: Kunci Tenang di Tengah Ambisi dan Target Besar, Ini 4 Cara Menerapkannya
Apa Itu Relapse?

Fase relapse adalah momen saat seseorang kembali merasakan sakit yang dideritanya, baik secara mental maupun fisik. Dalam kondisi kesehatan mental yang telah membaik, fase ini enggak muncul sebagai kegagalan atas proses penyembuhan.
Seseorang yang mengalami fase ini menjumpai dirinya ada di antara kembali ke kebiasaan lama atau melanjutkan kebiasaan baru untuk menjadi lebih baik.
Ketika seseorang beradaptasi terhadap perubahan baru selama proses penyembuhan, risiko relapse akan mungkin terjadi, terutama pada 90 hari pertama.
Meskipun sulit beradaptasi dengan perubahan gaya hidup baru, seseorang yang rentan mengalami fase ini memang perlu menghadapi perubahan tersebut dan mengikuti alur hidup yang mungkin kurang familiar.
Kebanyakan orang yang ingin melepaskan diri dari suatu adiksi atau penyakit seenggaknya mengalami satu kali fase relapse di sepanjang proses penyembuhannya. Makanya penting banget untuk mengenali diri sendiri, terutama saat kamu bertemu hal-hal yang akan nge-trigger relapse tersebut.
Ciri-Ciri Umum yang Memicu Relapse

Masalah yang dihadapi bisa menjadi kesempatan untuk belajar memahami ciri-ciri umum yang memicu relapse untuk datang. Setiap orang memiliki beberapa trigger dalam berbagai bentuk, seperti trigger negatif atau positif yang datang dari luar maupun dalam diri.
Berikut ciri-ciri umum yang bisa memancing relapse untuk datang:
- Rasa enggak nyaman karena “lepas” dari gejala sebelumnya
- Merasa sendiri dan kesepian dalam waktu lama bisa memicu timbulnya fase ini
- Berada di tempat, situasi, dan/atau kondisi yang mengingatkan akan kejadian lama
- Merasa yakin banget kalau semuanya terkendali alias aman-aman saja
- Perasaan-perasaan enggak enak, termasuk amarah dan rasa lapar
Merasakanan ciri-ciri umum di atas bukan berarti kamu bisa self-diagnosed bahwa kamu mengalami fase relapse ini. Sebab, fase ini terjadi pada seseorang yang sebelumnya memiliki adiksi terhadap sesuatu, mengidap suatu penyakit, baik fisik maupun mental.
Baca juga: Menurut Studi, Ini 7 Manfaat Berkebun bagi Kesehatan Tubuh dan Mental!
Cara Mengatasi Relapse

Relapse merupakan bagian dari proses penyembuhan akan penyakit yang sedang diderita. Kalau kamu sedang mengalami fase ini, penting untuk mengenalinya ketika dia datang, tetapi kamu tetap harus berhati-hati untuk enggak membiarkannya bertahan lebih lama.
Saat fase ini menghampiri, dia bisa nge-trigger perasaan-perasaan enggak enak, seperti rasa malu, merasa gagal, dan beberapa perasaan negatif lainnya. Meskipun begitu, mengatasi relapse bisa kamu lakukan dan tentunya, kamu enggak boleh sendirian!
1. Minta Tolong
Minta tolong bukanlah sesuatu yang memalukan. Apalagi saat relapse menghampiri, penting banget punya seseorang untuk bersandar.
Banyak studi menunjukkan bahwa dukungan sosial dan emosional mendorong keberhasilanmu untuk keluar dari fase relapse atau at least, kamu bisa menghadapinya dengan baik.
Selain itu, meminta tolong enggak cuma ketika kamu berada pada situasi tersebut. Kamu juga bisa memulai atau kembali ke proses penyembuhan, bergabung dengan group therapy, dan mengikuti terapi lebih intens.
Dengan memiliki dukungan sosial dan emosional, kamu dapat memanfaatkan lingkaran yang kamu punya untuk berdiskusi tentang kondisimu.
2. Pahami Trigger-nya
Kadang kita enggak tahu apa yang menjadi trigger terhadap sesuatu yang merugikan kita, seperti trigger yang memicu datangnya relapse. Oleh karena itu, penting banget untuk bisa mengenali dan memahami pemicu utama datangnya fase ini di tengah proses penyembuhan yang kamu lalui.
Trigger enggak harus dalam bentuk yang besar atau terlihat. Hal-hal sekecil rasa bosan dan lapar juga bisa memantik perasaan-perasaan enggak enak yang lebih besar, sehingga relapse akan muncul. Merefleksikan setiap hal yang datang membantu kamu memahami emosi sendiri karena setiap orang memiliki respons yang berbeda-beda.
3. Melanjutkan Pola Hidup Lebih Baik
Relapse membuatmu berada di antara situasi apakah kamu ingin kembali ke kebiasaan lama atau memulai gaya hidup baru yang lebih baik. Untuk itu, kamu perlu membuat hidupmu lebih bermanfaat dengan memiliki tujuan dan aktivitas positif ke depannya. Mulai dari mencari hobi baru, mengubah cara berpikir ketika emosi negatif datang, hingga merapatkan pertemanan menjadi lebih intens.
4. Memaafkan Diri Sendiri
Gampang diucapkan, sulit dilakukan, tetapi memaafkan diri sendiri bukan sesuatu yang enggak mungkin, girls. Saat kamu melewati relapse, kamu akan memikirkan kesalahan di masa lalu yang membuat perasaanmu down. Namun itu adalah hal yang normal terjadi. Oleh karena itu, memaafkan diri sendiri membantumu untuk bersikap lebih baik dan kembali ke track-mu dengan perasaan lebih tenang.
Baca juga: Mengapa Overthinking Sering Muncul Menjelang Tidur? Ini Kata Ahli
Pulih untuk mendapatkan kesehatan mental lebih baik memang enggak gampang, apalagi ketika kamu masih sering mengalami fase ini. Setiap orang punya timeline-nya masing-masing, so jangan khawatir. Take your time, girls!
Cari tahu lebih banyak informasi tentang kesehatan mental lewat Girls Beyond Circle. Gabung di sini supaya kamu enggak ketinggalan!
Hey, gang. Aku Diva Anggraini Dunggio, penulis di balik artikel ini. Mau connect di LinkedIn, enggak, gang?
Comments
(0 comments)